Berbicara tentang kreativitas memang takkan habis karena tak pernah
ada takaran yang mematok bahwa seseorang sudah cukup kreatif atau belum
dalam melakukan sesuatu. Pasti ada saja ragam ide yang muncul dalam
mengkreasikan sesuatu, baik berupa benda (fisik) ataupun cara. Keragaman
yang muncul setiap waktunya membuktikan bahwa kreativitas itu memang
tak akan pernah mati sampai kapanpun. “Kreativitas itu mengasyikkan dan
yang pasti disukai banyak orang”, ungkap salah seorang guru yang
mengajar di pelosok negeri. Banyak keuntungan yang dapat kita peroleh
dari pola hidup kreatif. Dinilai intelek, kaya akan wawasan, banyak
relasi, mendapatkan penghasilan yang tak biasa, disegani dan disenangi
banyak orang, serta hidup pun menjadi lebih berwarna. Maka tak heran,
banyak orang yang berbondong-bondong datang untuk menjadi sosok yang
demikian dengan 1 alasan yakni ingin tampil beda di antara yang lainnya.
Menemukan kekhasan diri sebagai bentuk pencirian dan identitas diri
menjadi insan yang tidak biasa-biasa saja.
Itu pulalah yang kami alami sekarang. Mencoba untuk menjadi sosok
kreatif dalam mencerdaskan anak bangsa. Para Sarjana Muda yang bergabung
melalui Sekolah Guru Indonesia sengaja digodok dalam karantina untuk
mencetak calon guru sejati yang hakikinya menjadi sosok yang banyak
menginspirasi guru lainnya juga. Mengajar dengan cara yang tak biasa
membuat kami begitu tertantang dalam menciptakan santapan menarik bagi
siswa dahsyat dari berbagai pelosok Indonesia.
Dari sinilah kami belajar menjadi guru sebenarnya. Guru yang
notabennya dianggap sebagian besar orang sebagai profesi yang berada
pada jalur aman dan santai. Tinggal datang ke sekolah, mengajar dan
pulang ke rumah lagi, maka tugaspun selesai. Mengajar dilakukan dengan
cara yang sangat praktis. Masuk kelas dengan wajah masam jika sedang ada
masalah, atau datang dengan membawa Samurai bak pendekar yang ingin
membantai musuh yang belum ditemukannya. Pada akhirnya, siswa menjadi
sasaran empuk yang dianggap sebagai musuh oleh guru seperti ini. Bahkan
ada yang melakukannya dengan cara yang lebih sederhana lagi. Tinggal
masuk kelas, tanpa berkata apa-apa, hanya menuliskan angka halaman buku,
meminta siswa mengerjakannya. Sementara si Guru sibuk dengan kegiatan
yang tidak jelasnya di kantor. Berhahaha….hihihi…..yang bisa didengar
oleh siswa dari balik dinding kelasnya. Ironis memang, mengetahui
peranan guru yang tadinya sebagai pemegang ujung tombak kemajuan bangsa
melakukan hal demikian.
Tak bisa dipungkiri, itulah yang tengah terjadi di kehidupan bangsa
kita. Tawuran pelajar sudah menjadi menu berita harian. “Peka???”, sudah
tidak. Berita ini terlalu biasa untuk dipermasalahkan bagi penduduk
negeri. Maka, tak salah juga para pemimpin negeri begitu buas melakukan
tindak korupsi di lembaga terkait. Hukuman yang dibentuk pun tak
menimbulkan efek jera. Sempurnalah peliknya permasalahan negeri ini
tanpa kejelasan dalam penyelesaiannya. Jika kita kerucutkan kembali
penyebab dari semua rangkaian kejadian yang tidak mengenakkan ini akibat
terjadinya kecelakaan pendidikan di masa lampau. Andai kita sadar wahai
Guru, sebenarnya kitalah yang mengajarkan bangsa ini menjadi seperti
ini. Efek dari ketidak bertanggung jawaban kita menimbulkan akibat luar
biasa terhadap bangsa ini. Tepat sekali pepatah yang mengatakan “Jika
Guru sudah kencing berdiri, maka muridpun akan kencing berlari”.
Perlu kesadaran tinggi jika sudah memutuskan untuk menjadi seorang
Guru. Karena tugas seorang Guru takkan pernah selesai sampai kapanpun.
“Guru Sebenarnya” akan merasa gagal dan malu jika tahu siswa yang pernah
diajarnya melakukan tindakan yang merugikan orang lain, apalagi sampai
merusak bangsa. Pertanyaan mendasar yang harus menjadi bahan renungan
kita adalah “Sudahkah kita menjadi Guru sebenarnya???”. Silakan
teriakkan jawabannya di hati kecil masing-masing.
Menjadi guru memang tak mudah. Guru merupakan sosok yang sangat
dihormati oleh semua orang. Dianggap multi talented bisa melakukan semua
hal, tempat bertanya bagi orang yang tidak tahu. Menjadi sosok yang
digugu dan ditiru oleh para siswa kita, baik yang berada di sekolah
maupun di masyarakat. Oleh karena itu selayaknya sebagai seorang guru
kita harus bisa memaksimalkan potensi siswa. Tidak hanya di bidang
akademik, tapi juga kemampuan yang lainnya. Motto ”Setiap anak adalah
Juara” adalah hal mutlak yang harus ditanamkan dalam diri seorang guru.
Tak ada anak yang bodoh, karena mereka sejatinya dilahirkan dengan
kemampuan yang berbeda. Tugas kita sebagai seorang guru lah yang harus
menemukan potensi dan mengembangkannya menjadi seseorang yang percaya
diri serta bersemangat dalam menghadapi tantangan hidup nantinya.
Membekalinya dengan cara-cara yang menyenangkan, yang membuat mereka
tumbuh dan berkembang secara melejit. Di mana sosok kita selalu
dinantikan setiap waktunya. Sosok yang bisa membuat mereka bersedih jika
kita tak ada. Sosok yang bisa menjadi teman berbagi dalam hidup. Sosok
dengan pribadi teladan yang patut mereka tiru. Sosok yang membuat mereka
malu jika melakukan perbuatan tidak baik karena tak mau mengecewakan
kita, idolanya. Ya, itulah Guru Sejati. Semoga kita ada salah satu di
antara ribuan pejuang pendidikan yang dirindukan anak bangsa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar