Jumat, 22 Mei 2015

Pengalaman yang tak terlupakan KUKERTA :)

dear diary :)
sedikit cerita tentang pengalaman KUKERTA.... pokoknya is amazing dehhhh ....hahay
ada sedih, seneng, kecewa, kesel, marah, ketawa, gila-gilaan, seru-seruan... wahhh campur-campur deh.
awlnya sih saya cuma merasakan kesedihan , kayak ga pernah ada happy nya gitu deh, ya namanya juga awal".. masih terasa asing sama orang-orang yang satu rumah, orang yang bener" baru kenal terus di persatukan dalam 1 rumah. coba bayangin sendri.. 15 karakter orang ada di situu... hahahaha
tapi lama kelamaan sayabenar" merasakan kenyamanan bersama mereka :)
setiap pagi joging bareng temen", hari senin piket, selasa ke balai desa, rabu piket masak... duhhh itu yang paling-paling saya kangenin di posko.... kangen di perhatiin, kangen di masakin masakan sama temen, kangen karokean bareng, kangen ke pantai bareng", kangen seru"an sambil makeup dan selfie... haduhh jadi sedihhhh :'(
kangen ketawa"an, kangen becandaan, kangen semuanyaaaa:(

Jumat, 27 Februari 2015

Terimakasih untuk yang memberikan puisi ini .

Munajat Kekosongan
for:Ifri Afiyani

patahan gerimis
pada runcing alismu
menumbuhkan kuntum
mawar dalam sajadah batinku

di taman-taman rakaat
kupadatkan sujud berjuta
shalawat dari munajat
mematah kekosongan
dan kesombongan
pada jiwaku

wahai wanita bermata unggun
matamu menyalakan ayat-ayat cinta
pada malam yang kuciptakan
sedemikian lama membingkai
cahaya pada lukisan mataku
yang nanar dan gemetar

Serang, 13 Februari 2015

Jumat, 20 Februari 2015

Sisa Rindu yang Hilang

sisa-sisa rindu yang kini telah hilang dan tak akan pernah ada lagi.
sejenak aku berpikir bisakah aku dan kamu menjadi seprti dulu.
tapi sayang sekali aku tak menginginkan itu semua. aku merasa kita tidak akan pernah berjumpa lagi. dan kita akan tetap menjadi orang asing, walaupun kita pernah kenal.
kediaman kita memang akan terus diam, kata-kata yang pernah ada pun akan menjadi butiran hampa yang hambar terasa.
aku tak ingin menginginkan rindu itu hadir seperti dulu,
aku juga tak mengharapkan ada cerita antara kita.
kisah itu, akan menjadi kisah yang akan terlupakan...
aku kejam??? mungkin.....
kejam untuk merubah keadaan menjadi lebih baik .
tanpa ada kamu dan tanpa ada cerita antara kita.
aku egois?? yahhh... aku akui aku memang egois..
tapi egoisku tak sejahat kata-katamu.
keangkuhan yang merasukimu membuat orang disekelilingmu menjauh.
termasuk aku...
waktu yang kau beri memang tak pernah ada kesia-sia an.
dan jejak kakimu pun akan menjadi saksi bahwa semua yang terlewati akan menjadi debu yang berterbangan.
jangan pernah lagi ada rindu.. karena ku tau, semua tak akan berarti.
tak lebih baik, tapii seolah sangat baik dari semua yang pernah ada.
yahhhh.. keangkuhan.... akan tetap menjadi angkuh.
akan tetap merasuk, dan tak pernah hilang..
mungkin anda lupa.. di atas langit masih ada langiiit.
biarkan dia hidup dengan keangkuhannya, dan aku disinii mencoba belajar menjadi lebih baik.


oleh : Az Zahra

Jumat, 13 Februari 2015

edisiii renungan malam yang indah....

ketika masalah menghampiri tanpa di undang..
ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan..
ketika itu juga timbul rasa putus asa..sedihhh..dan bingung.
saya paham tentang semua yang terjadi.
saat ini mungkin saya belum bisa mencapai itu semua.
saat ini saya memang bukan apa-apa..
saat ini juga saya belum bisa menjadi manusia yang baik,
tapi setidaknya saya selalu belajar menjadi manusia yang lebih baik,
belajar menjadi manusia yang bisa membuat orang disekeliling bahagia.
belajar menjadi manusia yang selalu bersyukur.
bukan manusia yang putus asa, bukan manusia yang meratapi nasib, bukan juga manusia yang menjadikan masalah sebagai beban. melainkan menjadikan masalah sebagai tantangan nyata, dan sayaaaa... selalu berusaha menjadi manusia yang belajar untuk bisa melalui setiap tahapan hidup yang terjadi dengan senang hati dan menerima setiap takdir yang terjadi dan itu semua adalah NIKMAT terindah yang Allah berikan. saya hanya ingin menjadi anak yang berbakti kepada kedua orag tua, saya hanya ingin menjadi adik yang baik untuk kakak" yang sangat baik yang selalu memberikan motivasi untuk adiknya, menjadi sahabat yang selalu ada untuk mereka... dan saya selalu berusaha menjadi hamba Allah yang selalu bertakwa dan bersujud hanya kepada-Nya, menaruh harapan hanya kepada-Nya. dan itu semua saya lakukan hanya untuk menggapai Ridho-Nya.


Oleh : Az Zahra

Rabu, 11 Februari 2015

Puisi =SENYUMAN=


Ujian Tuhan kadang membuat kita lemah
Tapi dengan senyuman kita bisa menjadi tegar
Karena senyuman bisa menjadi kekuatan
Kekuatan untuk tetap bertahan
Dalam hiruk pikuk dunia yang pekat ini
Walau kadang kaki seakan tak sanggup lagi menyanggah raga
Tak sanggup lagi berjalan jauh
Namun senyuman seperti berkata
Kamu kuat Kamu bisa dan kamu mampu..
Ketika ku buka jendela pagi
Ku lihat daun yang berembun
Aku menyadari, kehidupan masih berjalan
Matahari, bintang, bulan… ini semua anugrah Tuhan
Kehidupan ini sangat indah
Tiada yang lebih indah dari mensyukuri yang ada..
Dan aku…Selalu menyambut hari-hariku dengan senyuman terindahku..

Oleh : Ifri Afriani Vivi
“Az Zahra”

Jumat, 30 Januari 2015

MELUKIS SINARMU


Teriknya sinar mentari seakan menyengat kulit cantikku, tarian dedaunan yang mengikuti irama angin turut menyambut indahnya siang saat itu. Aku yang sedari tadi duduk di tengah-tangah indahnya bunga dan asik menatap burung-burung yang terbang kesana kemari seakan memalingkanku dari hiruk pikuk dan penatnya dunia yang fana ini. Tiba-tiba aku tersentak saat sepasang sepatu dan pemiliknya yang bertubuh tegak berada tepat dihadapanku dan ketika kulihat wajahnya, ternyata dia orang yang tak asing lagi bagiku. Aku jadi teringat saat pertama kali aku bertemu dia, dia yang aku kenal lewat teman SMA ku. Ketika itu aku masih kelas 2 SMA.
Namaku nina, aku hanya siswi biasa yang bersekolah disalah satu sekolah swasta di kota kelahiranku. Waktu itu saat jam istirahat tiba, aku berbincang-bincang dengan teman sekelasku yang bernama Tini.
“Na… ada yang ingin berkenalan denganmu, dan aku sudah memberikan nomor ponselmu ke dia” ucap Tini dengan cara bicara yang agak cerewet.
“siapa?” jawabku
“dia kakak kelas kita dan sekolah di tempat yang sama seperti kita, dia sepupuku, dan tau ga sih dia itu ternyata selalu memperhatikan kamu lho na”
Aku hanya diam, dan tidak menjawab apa-apa lagi.
“lho… kenapa diam na?” Tanya Tini penasaran.
“ya sudah kita ke kantin yuk, laper niii” ajakku dengan tidak menjawab pertanyaan Tini
“hmmm ya udah hayuu”
Lalu aku dan Tini pergi ke kantin karena saat itu aku memang sangat lapar.
Malam harinya ketika aku sedang belajar, suara ponselku berbunyi dan ternyata ada panggilan masuk.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam, maaf ini dengan siapa?”
“Aku Yusuf, kamu nina kan? Aku sepupunya Tini”
“ooh, iya kak, Tini sudah cerita…. Ada apa kak?”
“kamu lagi apa?”
“aku lagi belajar kak”
“oh maaf ya ganggu, salam kenal ya dek. Selamat belajar.Assalamu’alaikum”
“makasih kak. Wa’alaikumsalam”
Pembicaraan selesai. Aku sejenak terdiam dan kemudian melanjutkan mengerjakan tugas sekolah dan belajar.
Keesokan harinya di Sekolah saat jam istirahat, dia menungguku di kantin sekolah dan kita pun bercakap-cakap sambil memakan jajanan sekolah. Ternyata Yusuf sebelum berkenalan denganku, dia sering melihatku dari kejauhan dan mencari tahu tentang aku kepada Tini. Kemudian setelah berkenalan, setiap harinya Yusuf selalu bertemu denganku di kantin sekolah ketika jam istirahat. Dari situ, kita sering berbincang-bincang, lama kelamaan cinta pun bersemi di antara aku dan dia. Aku memanggil dia dengan panggilan kakak, dan dia memanggilku dengan panggilan adek. Tidak ada ikatan pacaran antara aku dan dia, tidak ada malam minggu seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Yusuf adalah seorang pria berkaca mata yang sederhana, tampan, pintar, bijaksana, bertubuh tegak dan memiliki badan yang tinggi, dia juga laki-laki yang rajin ibadah. Semakin hari kita semakin dekat, dia adalah pria yang sangat memotivasi dan selalu memberikan semangat untukku, dan aku…. Adalah salah satu wanita yang sangat beruntung bisa mengenal dia. Saat libur sekolah tiba, aku dan Yusuf terbiasa berjalan-jalan menikmati indahnya taman bunga yang berada di sekitar kota tempat kita tinggal yaitu di kota hujan Bogor.
Itulah cerita perkenalanku dengan yusuf ketika aku masih duduk dibangku kelas 2 SMA. Setahun berlalu, sampai ketika Yusuf lulus sekolah dan meneruskan kuliahnya di luar kota. Kota Yogyakarta adalah tempat sekolah yang dia pilih untuk melanjutkan studinya dan sekarang juga aku duduk dibangku kelas 3 SMA. Hatiku seperti teriris dan sangat sedih mendengar dia akan melanjutkan studinya disana, apakah aku tetap bisa berkomunikasi dengan dia yang selalu memberikan semangatnya kepadaku. Hubungan jarak jauh ini membuat aku merasa takut, yah.. takut kehilangan dia. Pikiran itu selalu membayangiku, tapi dia selalu meyakinkan aku.
“Dek.. jaga diri baik-baik ya. Kita harus tetap bisa menjalin hubungan walaupun jarak jauh. Kamu harus tetap semangat.. berikan yang terbaik untuk kedua orang tuamu, untuk orang-orang yang menyayangimu”
Itu adalah ucapan yang dilontarkan yusuf sebelum dia berangkat hijrah melanjutkan studinya di Kota Gudeg. Dia seperti angin yang selalu menyejukan, dia juga seperti matahari yang selalu menyinari hari-hariku. Yusuf berjanji setelah menyelesaikan studinya dan bekerja, dia akan menikah dengan ku dan dia juga berjanji dia akan selalu memberi kabar setiap harinya kepadaku. Rasanya seperti mimpi saat dia jauh disana, kebiasaan-kebiasaan yang selalu aku lalui bersama dia dulu, ketika aku dan dia setiap harinya selalu bertemu di sekolah, ngobrol, jalan-jalan, menikmati pemandangan alam. Kini semuanya seperti sirna, lenyap, dan hanya tinggal kenangan yang masih tersimpan rapi di memori. Sekarang aku dan dia hanya bisa memberikan kabar lewat ponsel, dia selalu memberikan kabar setiap hari dan itu tidak menghilangkan rasa rindu yang bergejolak di dalam hati.
“Aku akan melukis sinarmu dihatiku dan aku akan setia menunggumu sampai engkau datang melamarku” itu lah jawabanku ketika terakhir kali sebelum dia berangkat ke kota jogja.
*setahun berlalu*
Aku pun kini lulus sekolah dan melanjutkan studi diperguruan tinggi negeri dikota kelahiranku sendiri. aku memilih untuk tetap di sini karena aku ingin tetap bersama keluargaku. 2 tahun aku jauh dari dia dan itu membuatku terbiasa untuk tetap sendiri tanpa dia, kini… aku mempunyai teman baru di kampus baruku. Semenjak aku kuliah aku tidak menerima kabar dari Yusuf, aku hubungi nomor ponselnya tapi tak ada jawaban. Aku berpikir, bahwa disana dia sedang sibuk dan fokus dengan kuliah dan organisasi di kampusnya. Lama kelamaan aku merasa dia memang sudah lupa denganku. Tapi aku akan menunggu dia dan aku yakin bahwa dia akan datang menemuiku dan melamarku suatu saat nanti, seperti apa yang dia janjikan kepadaku dulu ketika dia ingin berangkat ke Yogyakarta. Tapi aku tak ingin larut dalam kesedihan, bagiku sepi ku tanpa dia adalah salah satu ujian yang Allah berikan kepadaku. Aku tak ingin menjadi pelangi yang indahnya hanya sesaat. aku hanya ingin menjadi matahari dan bintang untuk dia. Walaupun hanya ada siang dan malam tapi keduanya bisa memberikan kehangatan dan cahaya ketika bumi gelap gulita. Aku menjalani hari-hariku seperti biasa, kuliah dan mengikuti kegiatan organisasi dikampus, menyibukan diri dengan kegiatan yang bermanfaat.
Kini.. aku semester 8, tapi bayangan dia selalu menghantuiku, aku hampir putus asa dan tak ingin lagi berharap dengan dia yang kini sudah melupakan aku. Suatu hari ketika aku asik mengerjakan skripsiku, ibuku datang ke kamar.
“na… ada yang ingin bertemu denganmu”
“siapa bu?” jawabku penasaran
“liat aja dulu…”
Aku bergegas untuk menemui tamu itu, ketika sudah sampai di ruang tamu, aku liat ternyata ada seorang pria berkulit putih dan berkaca mata. Dia duduk menghadap pintu luar. Aku pikir dia adalah yusuf… tapi setelah ku lihat wajahnya ternyata dia adalah Toni. Toni adalah teman semasa kecilku dulu yang kuliah di luar negeri dan sekarang bekerja di salah satu perusahaan ternama di kota Bogor. Dia satu tahun lebih tua dariku, umurnya sama seperi Yusuf.
“haii na, apakabar?”
“baik, kamu apakabar?”
“Alhamdulillah baik juga”
Dalam hati, aku berkata “aku kira dia adalah yusuf, orang yang aku tunggu selama ini”
Ketika aku berbincang-bincang dengan dia, saat itu juga ibu datang dengan membawa segelas air minum untuk Toni. Sambil menaru minuman itu ke meja ibu berkata:
“na, Toni datang kesini ingin melamar kamu”
Kilat seperti menyambar hati saat ibu berkata demikian, aku hanya bisa terdiam. Ntah apa yang harus aku jawab. Ibuku memang sudah lama mengenal Toni dan keluarganya, karena rumah dia memang tidak terlalu jauh dari rumahku.
“nanti malam aku dan orang tua ku akan datang kesini untuk melamar kamu” sambung Toni.
“kami tunggu kedatangan keluargamu nak Toni” jawab Ibu
Tidak ada satu patah kata pun yang aku ucapkan ketika mereka membicarakan tentang lamaran itu. Siang berganti dengan sore, kemudian Toni pulang ke rumahnya.
“na kamu kenapa? Apa kamu tidak suka dengan dia, ga boleh lho kalau ada pria baik melamar seorang perempuan lalu di tolak, itu kan juga niat baik dari Toni dan keluarganya masa di tolak, dia berpendidikan, dia sholeh, pintar pula”
“iya bu…” jawabku
“jadi kamu terima kan lamaran dia?”
“aku masih bingung bu.. aku mau shalat istikharah dulu”
“ya sudah, yang khusu shalatnya, biar bener-bener di kasih petunjuk, tapi ibu sangat berharap kamu bisa terima lamaran nak Toni”
Tak banyak kata yang aku bicarakan dengan Ibu ketika itu, karena aku merasa bahwa seorang Ibu adalah sosok wanita yang selalu ingin memberikan kebahagiaan untuk anaknya. Semalaman aku berpikir apakah aku harus menerima atau menolak lamaran itu, disatu sisi aku masih menunggu Yusuf, tapi di sisi lain aku tak ingin membuat orang tuaku kecewa dan Toni pun juga memang laki-laki baik yang tidak pantas untuk di tolak. Mungkin ini adalah petunjuk yang Allah berikan kepadaku, untuk menerima lamaran itu dan menikah dengan Toni. Kemudian Toni dan keluarganya datang untuk melamar dan menentukan tanggal pernikahan. Ada perang bantin dalam diriku, ntah mengapa demikian, harusnya aku senang akan bersanding dengan pria yang baik hati dan sholeh seperti Toni. Aku harus mengikhlaskan dan membakar semua kenangan indah dan janji yang Yusuf berikan kepada ku dahulu.
Satu minggu sebelum pernikahanku dengan Toni, Siang harinya aku pergi ke taman bunga itu, tanpa di temani dengan siapapun. Taman dimana biasa aku berbincang dengan Yusuf, di taman ini juga aku harus mengubur dalam-dalam kenangan yang sudah terlewati. Saat aku sedang melamun disitu, aku melihat sepasang sepatu dan pemiliknya yang bertubuh tegak. Ternyata wajah itu memang tidak asing bagiku, dengan kaca mata khasnya, dia menyapaku, yaaa… dia adalah Yusuf yang sudah bertahun-tahun tidak memberikan kabar untukku. Aku kira ini mimpi, tapi faktanya, ini memang nyata. Tiba-tiba air mata jatuh dipipiku.
Perjalanan hidup manusia bukan sekedar menikmati indahnya warna warni yang terlukis indah di dinding hari dan waktu, tapi juga bisa memahami makna dari setiap kejadian. Entah kejadian yang menyenangkan, menyedihkan atau hal-hal lain yang terjadi.
“dek, apakabarnya? Maafkan kakak yang tidak memberi kabar kepadamu selama ini”
Tidak ada satu katapun yang aku ucapkan kepadanya.
“kakak tau kamu pasti marah sama kakak, tapi kakak yakin, tidak semudah itu kan kamu bisa melupakan kenangan kita”
“kata siapa kak, aku tidak bisa?, lebih baik kakak pergi dari kehidupan aku. Karena aku akan segera menikah” jawabku sambil menahan emosi.
“iya kakak tau, kakak salah, maafkan kakak ya dek” ucap Yusuf dengan mata berkaca-kaca
“kakak bukan tidak ingin memberi kabar kepadamu, waktu itu tepatnya ketika kakak semester 3 hape kakak hilang, kakak bingung. Karena kakak tidak menyimpan nomor ponselmu di kertas, semua kontak hilang dan kakak hanya bisa mengabari keluarga dan itu pun juga lewat surat, tapi kakak menitipkan salam untukmu kepada Tini lewat surat itu. Saat itu kakak tidak mampu untuk membeli ponsel yang baru karena kakak memang belum bekerja dan tidak ingin membebankan kedua orang tua, kakak mengaku salah karena ketika kakak pulang kakak tidak datang menemuimu, kakak hanya tidak ingin mengganggu aktivitasmu dan kakak juga ingin fokus kuliah di jogja. Kakak minta maaf dek, kakak tau kakak terlambat. Saat itu kakak berjanji pada diri sendiri, jika sudah lulus dan bekerja kakak akan memberikan surprise kepadamu dan akan melamarmu, tapi ternyata kakak benar-benar terlambat” Lanjut Yusuf menjelaskan sambil mengusap air mata yang sudah jatuh di pipi.
“kakak memang sudah terlambat, jadi… aku harap, kakak bisa melupakan aku dan melupakan kenangan kita, terimakasih untuk janji yang pernah kakak ucapkan, terimakasih untuk motivasi dan semangat yang dulu pernah kakak berikan padaku” jawabku sambil mengusap air mata
Sinar yang pernah aku lukis dalam hatiku pun seolah seperti terhapus oleh waktu dan di taman itu mungkin adalah pertemuan terakhirku dengan dia, dia yang bertahun-tahun aku tunggu, bertahun-tahun aku mengharapkannya untuk datang melamarku tapi nyatanya semua benar-benar hanya sebuah kisah yang menyedihkan bagiku.
2 hari menjelang pernikahan, aku mendengar kabar bahwa terjadi kecelakaan disekitar tempat tinggalku, selang berapa lama. Ibu datang menemuiku di rumah dan berkata bahwa Toni mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarainya di tabrak truk dengan kecepatan yang maksimal, truk yang melawan arah itu kehilangan kendali dan akhirnya menabrak mobil yang dikendarai oleh Toni.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, ujian apa lagi ini” ucapku dengan berderai air mata.
Hidup bukan hanya butuhkan ketegaran diri tapi juga keikhlasan dalam menatap setiap kenyataan yang terjadi. Yah, kehidupan… akan ada banyak ujian yang akan datang silih berganti dan aku harus siap menghadapi semua itu.
“yang sabar ya nak” ucap ibu mencoba menenangkan aku.
Beberapa hari kemudian, aku mencoba melakukan aktifitasku seperti biasa. Melanjutkan skripsiku yang hampir selesai dan mempersiapkan untuk kelulusan serta wisuda.
2 bulan kemudian, akhirnya perjuanganku membuahkan hasil, aku wisuda di usiaku ke 22 tahun. Setelah aku pulang ke rumah ternyata di rumah ada yang menungguku. Dia adalah pria berkaca mata yang memiliki tubuh yang tegap. Yaa… dia adalah Yusuf dengan membawa kedua orangtuanya. Entah ada tujuan apa dia datang ke rumah. Setelah berbincang-bincang ternyata dia ingin melamarku dan akhirnya aku dan dia menikah. Ini adalah kado terindah untukku, di usiaku yang ke 22 tahun, dan sinarnya ternyata masih ada di hatiku dengan membawa sejuta kenangan indah. SELESAI

oleh : Az Zahra

Minggu, 17 Agustus 2014

PPLK @ Al-Mubarok

haii......i ketemu lagii dengan saya, vivi :D haha
saya mau cerita sedikit tentang pengalaman pertama saya PPLK. bisa di bilang saya adalah salah satu manusia yang beruntung diantara teman-taman saya yang lain. kenapaaaaa? mau tauuuuu??? dihhhh.. kepooooooo :P
saya kasih tau dehhh.....karena saya dapet praktek PPLK deket banget dengan rumah, yaitu di MTs Al-Mubarok, tinggal mersikil aja juga udah sampeeee. deket deh pokoknya. kalau temen-temen saya yang lain dapet PPLK lumayan jauh-jauh. ada yang di cilegon, pulo merak, pandeglang, padarincang, bahkan ada juga yang di tangerang. wahhh macem-macem deh pokoknya.
mauu tauuu engga kenapaaa saya dapet PPLKnya deket???? yaaaa beruntung, jika di bandingkan dengan teman-teman yang lain.. mau tau kenapaaa? kenapa? kenapaaaa?? *gaya ust maulana :D haha
hemmmm gini ceritanya, dulu waktu saya semester 6 mamah selalu bilang "coba bilang dosbing-nya aja nanti prakteknya yang deket, gitu" saya langsung jawab "ga bisa gitu mah, vivi juga pinginnya deket tapikan yang nentuin tempat praktek bukan vivi tapi orang-orang/dosen-dosen yang ada di fakultas bukan dosbing alias dosen pembimbing" terus mamah bilang gini "mamah selalu berdo'a supaya vivi prakteknya yang deket" saya cuma meng-Aamiin kan dan agak sedih dengernya. sedih karena terharuuuuuu... :')
ya, itu alesan kenapa saya bisa praktek ngajar yang deket, berkat do'a, restuu dan ridho dari orang tuaa serta kerja keras mamah dan bapak yang buat saya menjadi sangat semangat menjalani hari.

hari pertama ngajar tanggal 13 Agustus 2014 :
awalnya sih deg-deg'an yaaa wajar sih namanya juga manusia. sebenernya yang bikin deg-deg'an adalah terlalu singkat untuk menyiapkan segala sesuatu dalam mengajar untuk tgl 13 nya karena dikasih jadwal oleh kepala sekolah sehari sebelum ngajar. pulang dari sekolah sore, belum menyiapkan untuk RPPnyaaa.. dan itu pun membuat RPP nya malam hari... badan rasanyaaaa capeee bangettt tapiii ya ituuu kalau inget orang tua bikin semangat lagi :)
keesokan harinya, hari dimanaa saya belum pernah merasakan sebelumnya yaitu ngajar di MTs Al-Mubarok. saya ditempatkan mengajar dikelas 2 MTs. 2A, 2B, dan 2C... full nagjar sampai siang.. huhahhh...
pertama masuk ke 2B anak-anaknya lumayan seruuu, asiikk dan menyenangkan.. sama seperti di kelas 2A... tapiii di kelasss 2C... hemmmmm ampuuuuuuuun... pokoknyaaa sesuatuuu bangettt "susah diatur" ada yang tidur lah,ada yang ngobrol dan lebih parahnya lagi ada yang nanya gini "ustadzah... kapan istirahatnyaaaa" beuuuuuhhhh... jlebb yaaaahhh..... teruss ada juga yang bilang ginii "ustadzaah punya Fb gaaaa? kasih tau dongg nama Fbnya". halaaaahhh anak-anakkk padahal di pondok pesantren tapi sempet-sempetnyaa punya fb padahal ga di bolehin bawa hapeee tapiii ke warnet baeee. hhhhffff~ hahaaa
saya kebagian materii "Al-Qur'an dan hadits" jadi agak bingung nentuiin metode yang passs.

itulah pengalaman hari pertama saya ngajar di Ponpes MTs Al-Mubarok. seru, menyenangkan tapi juga ada yang bikin geleng-geleng kepalaaa ... heheheeeee
ya pokoknya gituuuu dehhh, namanya juga bermacam-macam karakter manusia, itu satu paket ada di dalam 1 kelassss.
tetap berjuaaang, semangaat, intinya sih "pingin mendidik anak-anak, supaya berakhlak, berpendidikan, berpengetahuan, menjadi anak yang soleh dan solehah" Aamiin....