Minggu, 01 Desember 2013

I have a Dream ;)

setiap manusia pasti punya mimpi tak terkecuali aku...
- I have a Dream -
aku merasakan bahagia ketika bersama orang-orang yang aku sayang...
kepedulian mereka adalah wujud bahwa mereka pun juga menyayangiku..
-I have a Dream -
mimpiku...cita-citaku....harapanku.....
semua akan aku raih ... aku hanya ingin menjadi manusia yang lebih bermakna ..
menjadikan orang-orang disekelilingku semakin sayang padaku...
- I have a Dream -
 bukan hidup namanya jika tidak ada perjuangan..
Allah mengamanahkan kepada orang tua kita, untuk menjaga dan merawat kita...
keikhlasan...ketulusan kedua orang tua adalah bukti mereka benar-benar menjaga amanat dari Allah..
- I have a Dream -
mengumpulkan dan mengamalkan ilmu sebanyak-banyaknya ..
untuk bekal di dunia dan akhirat kelak...
karena dengan ilmu, harapan , ketulusan dan do'a dari orang-orang tersayang terutama mamah...
maka semua mimpi akan terwujud...
Al qur'an dan hadits adalah dasarnya :)

~keep struggle~

oleh : Az Zahra
 





Sabtu, 30 November 2013

filsafat pendidikan Islam

MAKALAH

PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

(Hakikat, Prinsip, Dasar dan Tujuan)

Makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah

Filsafat Pendidikan Islam













KELOMPOK 1

DISUSUN OLEH :

IFRI AFIYANI ( 112111256 )
AAMSIAH ( 112111263 )
A.ILFANI FIRDAUS (1 12111267 )





PAI.E / V

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SMH BANTEN
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
TAHUN AJARAN 2013




BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Filsafat sebagai pandangan hidup erat kaitannya dengan nilai tentang sesuatu yang dianggap benar. Jika falsafat itu dijadikan pandangan hidup oleh suatu masyarakat atau bangsa, maka mereka berusaha untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan yang nyata. Disini falsafat sebagai pandangan hidup difungsikan sebagai tolak ukur bagi nilai-nilai tentang kebenaran yang harus dicapai.
Banyak orang termenung pada suatu waktu. Kadang-kadang karena ada kejadian yang membingungkan dan kadang-kadang hanya karena ingin tahu, dan berfikir sungguh-sungguh tentang soal-soal yang pokok. Apakah kehidupan itu, dan mengapa aku berada disini? Apakah kedudukan kehidupan dalam alam yang besar ini ? Mengapa ada sesuatu? Apakah alam itu bersahabat atau bermusuhan ? apakah yang terjadi itu telah terjadi secara kebetulan ? atau karena mekanisme, atau karena ada rencana, ataukah ada maksud dan fikiran didalam benda.
Semua soal tadi adalah falsafi, usaha untuk mendapatkan jawaban atau pemecahan terhadapnya telah menimbulkan teori-teori dan sistem pemikiran seperti idealisme, realisme, pragmatisme. Oleh karena itu filsafat dimulai oleh rasa heran, bertanya dan memikir tentang asumsi-asumsi kita yang fundamental (mendasar), maka kita perlukan untuk meneliti bagaimana filsafat itu menjawabnya.
1.2 RUMUSAN MASALAH
a. Apa pengertian filsafat pendidikan Islam ?
b. Bagaimana perspektif filsafat pendidikan Islam tentang :
1) Hakikat
2) Prinsip-prinsip
3) Dasar
4) Tujuan
1.3 TUJUAN
Agar kita sebagai mahasiswa sekaligus calon guru mampu memahami dan mengerti arti dari filsafat pendidikan Islam serta diharapkan bisa menjelaskan tentang hakikat, prinsip, dasar dan tujuan filsafat pendidikan Islam.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Filsafat menurut asal katanya adalah “cinta akan kebenaran”, yang diambil dari kosa kata bahasa Yunani philos (cinta) dan Sophia (kebenaran (Hasan Shadily, 1980). Yang dimaksud dengan “kebenaran” adalah kebenaran yang didasarkan atas penilaian menurut nalar manusia. Karena itu kebenaran menurut Plato dan Aristoteles adalah apabila “pernyataan yang dianggap benar itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya.” (JJuun, 1990).
Kata “filsafat” berasal dari bahasa Inggris dan bahasa Yunani. Dalam bahasa Inggris, yaitu philosophy, sedangkan bahasa Yunani philein atau philos artinya cinta dan sofien, sophi atau Sophia artinya kebiaksanaan. Kata kebijaksanaan dalam bahasa Arab diistilahkan dengan al-hikmah. Oleh karena itu, filsafat adalah al-hikmah.
Ilmu yang tersebar luas disosialisasikan melalui pendidikan. Pendidikan adalah usaha yang bersifat mendidik, membimbing, membina, mempengaruhi dan mengarahkan setiap anak didik yang dapat dilakukan secara formal maupun informal. Lembaga pendidikan sekolah, keluarga, masyarakat serta lingkungan sekitar dapat menjadi media pendidikan atau penyebaran ilmu pengetahuan.
Apabila dibicarakan soal ilmu pendidikan Islam, karena Islam sebagai agama Allah yang tertulis dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan As-Sunnah, ilmu pendidikan Islam adalah kumpulan pengetahuan yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dijadikan landasan pendidikan. Secara aplikatif, pendidikan Islam artinya menstransfermasikan nilai-nilai Islam terhadap anak didik dan lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, dan masyarakat.
Filsafat pendidikan Islam mengkaji hakikat dan seluk beluk pendidikan yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, merumuskan berbagai pendekatan proses pembelajaran, merumuskan strategi pembelajaran, kurikulum dan sistem evaluasi pendidikan dengan landasan yang digali dari ajaran Islam, serta mengkaji maksud dan tujuan pendidikan Islam yang khusus maupun yang umum.

2.2 PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM TENTANG :
1.) HAKIKAT
Hakikat (Haqiqat) adalah kata benda yang berarti kebenaran atau yang benar-benar ada. Kata ini berasal dari kata po¬kok hak (al-Haq), yang berarti milik (ke¬punyaan) atau benar (kebenaran). Dalam kamus bahasa Indonesia Hakikat adalah kenyataan yg sebenarnya (sesungguhnya).

Hakikat Manusia
Penjelasan yang terbaik tentang hakikat manusia ialah penjelasan dari pencipta manusia itu. Penjelasan oleh rasio manusia mempunyai kelemahan karena akal itu terbatas kemampuannya. Bukti terbaik tentang keterbatasan akal ialah akal itu tidak mengetahui apa akal itu sebenarnya. Bukti dijelaskan hakikat manusia menurut Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab yang secara ilmiah terbukti memuat firman Allah dan masih asli. Dalam Al-Qur’an, manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Jadi, manusia berasal dan datang dari Allah SWT. Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia itu mempunyai unsur jasmani (material). Sebagaimana yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an.

Artinya :
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S Al-A’raf : 31)
Allah SWT mengatakan bahwa makan dan minum bagi manusia adalah suatu keharusan. Ini suatu indikasi bahwa manusia itu memiliki unsur jasmani.
Kesimpulannya ialah unsur jasmani merupakan salah satu esensi (hakikat) manusia. Akal adalah salah satu aspek penting dalam hakikat manusia. Akal adalah alat untuk berpikir. Jadi, salah satu hakikat manusia ialah ia ingin, ia mampu, dan ia berpikir.

Hakikat Pendidikan Islam
Pendidikan di lembaga erat kaitanya dengan kewajiban menuntut ilmu. seperti di ketahui menuntut ilmu dalam Islam hukumnya wajib. Ilmu dapat membawa kita menjadi manusia yang lebih bermakna dan dengan ilmu juga kita bisa mencapai kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan diakhirat, dengan berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadits.
Hakikatnya pendidikan itu merupakan :
1. Proses yang pasti, karena bersumber dari sifat Allah yang mendidik yang menciptakan manusia secara fitrah selalu menginginkan kemajuan secara terus menerus.
2. proses yang tetap, karena bersumber dari Allah dan berproses sesuai dengan sunnatullah dan tidak bergeser sedikitpun.
3. Proses yang objektif, kerena pendidikan berlaku untuk segenap manusia tidak bergantung kepada apa dan bagaimana status sosialnya di muka bumi ini.
4. Memelihara ketauhidan umat manusia terhadap Allah SWT, yang merupakan inti dari hidup dan kehidupan umat manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.
Dari seluruh uraian di atas tentang pendidikan maka hakekat pendidikan Islam sebenarnya adalah semua yang ada pada diri manusia tidak terlepas dari pendidikan khususnya pendidikan Islam yang menjadi landasan yang mendasar dan menjadi acuan bagi manusia untuk memulai pendidikan dan mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.

Hakekat Pendidik Dalam Pendidikan Islam
Dikutip dari Abudin Nata, pengertian pendidik adalah orang yang mendidik. Pengertian ini memberikan kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang mendidik. Secara khusus pendidikan dalam perspektif pendidikan islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan seluruh potensi peseta didik. Kalau kita melihat secara fungsional kata pendidik dapat diartikan sebagai pemberi atau penyalur pengetahuan, keterampilan.


Secara umum, pendidik adalah orang yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik. Sementara secara khusus, pendidik dalam perspektif pendidikan Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi peserta didik baik potensi efektif, kognitif, maupun psikomotorik sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. Beberapa ahli pendidikan yang memberikan arti pendidik adalah :
1. Marimba mengartikan pendidik sebagai orang yang mempertanggung jawabkan sebagai pendidik, yaitu manusia dewasa yang karena hak dan kewajibannya bertanggung jawab tentang pendidikan peserta didik.
2. Sutari Imam Barnadib mengemukakan bahwa pendidik adalah orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai kedewasaan peserta didik.
Hakikat Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam
Membicarakan peserta didik, sesungguhnya membicarakan tentang hakekat manusia yang memerlukan bimbingan. Ia juga merupakan salah satu unsur pendidikan yang mutlak harus wujud di samping pendidik. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menjelaskan bahwa peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Dalam perspektif pendidikan Islam, anak didik yang baru taraf pengenalan adalah anak didik yang masih dalam keadaan fitrah, belum ada setitik dosa dalam kehidupannya. Hal itu menjjadi tanggung jawab para pendidik dalam memberikan warna bagi anak didiknya. Dengan demikian, didiklah anak didik yang masih fitrah dengan nilai-nilai agama yang benar, sebagaimana seorang bayi yang di adzani ketika ia baru dilahirkan.
Peserta didik dapat ditinjau dari berbagai pendekatan yaitu:
1. Pendekatan sosial
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang sedang dipersiapkan untuk menjadi anggota masyarakat yang lebih baik

2. Pendekatan psikologi
Peserta didik adalah suatu organisme yang sedang tumbuh dan berkembang .
3. Pendekatan edukatif
Pendekatan ini menjadikan peserta didik sebagai unsur penting, dan peserta didik memiliki hak-hak sebagai berikut yaitu mendapat perlakuan sesuai dengan bakat minat dan kemampuannya, mengikuti program pendidikan, mendapat bantuan fasilitas belajar, pindah kesuatu pendidikan yang sejajar dianggap lebih tinggi, memperoleh hasil pendidikan, menyelesaikan program lebih cepat, mendapatkan pelayanan yang khusus terutama bagi yang cacat.

2.) Prinsip-prinsip
Prinsip berarti asas (kebenaran yang jadi pokok dasar orang berpikir, bertindak dan sebagainya). Pandangan Islam yang bersifat filosofi terhadap alam jagat, manusia, masyarakat, pengetahuan, dan akhlak, secara jelas tercermin dalam prinsip-prinsip pendidikan Islam. Dalam pembelajaran, pendidik merupakan fasilitator. Ia harus mampu memberdayagunakan beraneka ragam sumber belajar. Dalam memimpin proses pembelajaran, pendidik perlu perlu memperhatikan prinsip-prinsip dalam pendidikan Islam dan senantiasa mempedomaninya, bahkan sejauh mungkin merealisasikannya bersama-sama dengan peserta didik. Adapun prinsip-prinsip yang dimaksud adalah:
1. Prinsip pendidikan Islam merupakan implikasi dari karakteristik (ciri-ciri manusia
Ajaran Islam mengemukakan empat macam ciri-ciri manusia yang membedakannya dengan makhluk lainnya yaitu : fitrah, kesatuan roh dan jasad, dan kebebasan berkehendak.
a. Agama yang diturunkan melalui Rasul-Nya adalah agama fitrah. Firmah Allah SAW :
“Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah SWT), (Tetaplah atas) fitrah Allah telah menciptakan manusia menurut itu” (QS. 30:30)



b. Manusia tersusun dari dua unsur yaitu : Roh dan jasad.
Dengan roh yang ditiupkan ke dalam diri manusia, maka manusia hidup dan berkembang. Roh mempunyai dua daya yaitu daya fikir yang di sebut aql dan daya rasa yang disebut qalb.
c. Manusia memiliki karakter kebebasan kemauan (huriyah al-iradah).
Kebebasan sebagai karakteristik manusia meliputi beragai dimensi seperti kebebasan dalam beragama, berbuat, mengeluarkan pendapat, memiliki, berpikir, berekspresi dan sebagainya.
2. Prinsip pendidikan Islam adalah pendidikan integral
Suatu prinsip yang seharusnya dianut adalah bahwa dunia ini merupakan jembatan menuju kampung akhirat. Karena itu, mempersiapkan diri secara utuh merupakan hal yang tidak dapat di elakkan agar masa kehidupan dunia ini benar-benar bermanfaat untuk bekal yang akan dibawa ke akhirat. Persiapan-persiapan merupakan kegiatan yang layak di dunia. Perilaku yang terdidik dan nikmat tuhan apapun yang didapat didalam kehidupan harus diabdikan untuk mencapai kelayakan-kelayakan itu, terutama dengan mematuhi ketetapan Tuhan. Disinilah letak pentingnya kedewasaan diri secara utuh sehingga dapat mengendalikannya supaya setiap perilaku sesuai dengan keinginan Tuhan untuk kesejahteraan hidupnya sendiri, sesama manusia, dan lingkungannya.

Artinya :
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni'matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS : Al-Qashash :77)
3. Prinsip pendidikan Islam adalah pendidikan seimbang
Prinsip keseimbangan merupakan keharusan dalam pengembangan dan pembinaan manusia sehingga tidak adanya kepincangan dan kesenjangan antara material, spiritual, maupun unsure jasmani, dan rohani. Didalam Al-Quran Allah menyebutkan iman dan amal secara bersamaan. Iman adalah unsure yang menyangkut dengan hal spiritual, sedangkan amal adalah yang menyangkut dengan material, yaitu jasmani.
Hal ini diperjelas dalam firman Allah swt.

Artinya :
“Maka barang siapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya.” (QS: Al-Anbiyaa’ 94)

3.) Dasar
Dasar diartikan sebagai landasan untuk berdirinya sesuatu. Fungsi dasar ialah memberikan arah kepada tujuan yang akan dicapai. Pendidikan Islam sebagai salah satu aspek dari ajaran Islam, dasarnya adalah Alquran dan Hadis Nabi Muhammad saw. Banyak ayat yang berkenaan dengan pendidikan. prinsip-prinsip dasar materi pendidikan Islam yang terdiri atas masalah iman, ibadah, sosial, dan ilmu pengetahuan.
Ajaran yang termuat dalam wahyu merupakan dasar dari pemikiran filsafat pendidikan Islam. Hal ini menunjukan filsafat pendidikan Islam yang berisi teori umum mengenai pendidikan Islam, dibina atas dasar konsep ajaran Islam yang termuat dalam Al-Qur’an dan Hadits. Pemikiran filsafat pendidikan Islam beranjak dari konsep ciptaan Tuhan. Manusia dan alam adalah ciptaan Allah. Sebagai pencipta, maka Allah pula yang mengatur kehidupan dialam ciptaan-Nya (al-Syaibany, 1980).
Sebagai bantahan pendapat yang meragukan terhadap adanya aspek pendidikan dalam Alquran. Abdul Rahman Saleh Abdullah mengemukakan bahwa kata Tarbiyah yang berasal dari kata “Rabb” (mendidik dan memelihara) banyak terdapat dalam Alquran; demikian pula kata “Ilm” yang demikian banyak dalam Alquran menunjukkan bahwa dalam Alquran tidak mengabaikan konsep-konsep yang menunjukkan kepada pendidikan (Departemen P & K, 1990:291).
Hadis, juga banyak memberikan dasar-dasar bagi pendidikan Islam. Hadis sebagai pernyataan, pengalaman, takrir dan hal ihwal Nabi Muhammad saw., merupakan sumber ajaran Islam yang kedua sesudah Alquran.
Di samping Alquran dan hadis sebagai sumber atau dasar pendidikan Islam, tentu saja masih memberikan penafsiran dan penjabaran lebih lanjut terhadap Alquran dan hadis, berupa ijma’, qiyas, ijtihad, istihsan dan sebagainya yang sering pula dianggap sebagai dasar pendidikan Islam (Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama: 21). Akan tetapi, kita konsekuen bahwa dasar adalah tempat berpijak yang paling mendasar, maka dasar pendidikan Islam hanyalah Alquran dan hadis Nabi Muhammad saw.

4.) Tujuan
Tujuan adalah suatu yang diharapakan tercapai setelah sesuatu kegiatan selesai atau tujuan adalah cita, yakni suasana ideal itu nampak yang ingin diwujudkan. Dalam tujuan pendidikan, suasana ideal itu tampak pada tujuan akhir (ultimate aims of education).
Adapun tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalamai proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana individu hidup, selain sebagai arah atau petunjuk dalam pelaksanaan pendidikan, juga berfungsi sebagai pengontrol maupun mengevaluasi keberhasilan proses pendidikan.


1) Sebagai pendidikan yang nota benenya Islam, maka tentunya dalam merumuskan tujuan harus selaras dengan syari’at Islam. Adapun rumusan tujuan pendidikan Islam yang disampaikan beberapa tokoh adalah; Ahmad D Marimba; tujuan pendidikan Islam adalah; identik dengan tujuan hidup orang muslim. Tujuan hidup manusia munurut Islam adalah untuk menjadi hamba Allah. Hal ini mengandung implikasi kepercayaan dan penyerahan diri kepada-Nya.
2) Dr. Ali Ashraf; ‘tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang menyerahkan diri secara mutlak kepada Allah pada tingkat individu, masyarakat dan kemanusiaan pada umunya” .
3) Muhammad Athiyah al-Abrasy. “the fist and highest goal of Islamic is moral refinment and spiritual, training” (tujuan pertama dan tertinggi dari pendidikan Islam adalah kehalusan budi pekerti dan pendidikan jiwa)”
4) Syahminan Zaini; “Tujuan Pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berjasmani kuat dan sehat dan trampil, berotak cerdas dan berilmua banyak, berhati tunduk kepada Allah serta mempunyai semangat kerja yang hebat, disiplin yang tinggi dan berpendirian teguh”. Dari berbagai pendapat tentang tujuan pendidikan Islam diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Adapun tujuan pendidikan Islam yang sejalan dengan tujuan misi Islam itu sendiri, yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai tingkah akhlak al-karimah (al-Syaibany, 1979). Dan tujuan tersebut sama dan sebangun dengan target yang terkadang dalam tugas kenabian yang diemban Rasulullah SAW, yang terungkap dalam pernyataan beliau: “sesungguhnya aku di utus adalah untuk membimbing manusia mencapai akhlak yang mulia.” (al-hadits). Faktor kemuliaan akhlak dalam pendidikan Islam di nilai sebagai faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pendidikan, yang menurut pandangan Islam berfungsi menyiapkan manusia-manusia yang mampu menata kehidupan yang sejahtera didunia dan kehidupan akhirat.
BAB II
PEMBAHASAN
3.1 KESIMPULAN
Filsafat pendidikan Islam merupakan suatu kajian secara filosof mengenai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang di dasarkan pada al-Qur’an dan Hadits.
 Perspektif filsafat pendidikan Islam tentang :
a. Hakikat
Hakikat (Haqiqat) adalah kata benda yang berarti kebenaran atau yang benar-benar ada. Kata ini berasal dari kata po¬kok hak (al-Haq), yang berarti milik (ke¬punyaan) atau benar (kebenaran).
Hakikat Manusia
Bukti dijelaskan hakikat manusia menurut Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an, manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Jadi, manusia berasal dan datang dari Allah SWT. Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia itu mempunyai unsur jasmani (material).
Hakikat Pendidik
Pendidik dalam perspektif pendidikan Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan seluruh potensi peseta didik.
Hakikat Peserta Didik
Membicarakan peserta didik, sesungguhnya membicarakan tentang hakekat manusia yang memerlukan bimbingan. Ia juga merupakan salah satu unsur pendidikan yang mutlak harus wujud di samping pendidik.
b. Prinsip
Prinsip berarti asas (kebenaran yang jadi pokok dasar orang berpikir, bertindak dan sebagainya). Pandangan Islam yang bersifat filosofi terhadap alam jagat, manusia, masyarakat, pengetahuan, dan akhlak, secara jelas tercermin dalam prinsip-prinsip pendidikan Islam.
c. Dasar dan Tujuan
Dasar dan tujuan filsafat pendidikan Islam pada hakikatnya identik dengan dasar dan tujuan ajaran Islam. Keduanya berasal dari sumber yang sama yaitu al-Qur’an dan hadits. Adapun tujuan pendidikan Islam yang sejalan dengan tujuan misi Islam itu sendiri, yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak.

DAFTAR PUSTAKA

Basri Hasar, (2009), Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: CV Pustaka Setia.
Ramayulis, (2009), Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia.
Said Usman & Jalaluddin, (1999), Filsafat Pendidikan Islam konsep dan perkembangan, Jakarta: PT Raja Grafindo.
Tafsir Ahmad, (2010), Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.

Kamis, 28 November 2013

Tafsir At-Tahrim Ayat 6 semestr v

Tafsir At-Tahrim Ayat 6 semestr v


OBJEK PENDIDIKAN
TAFSIR SURAT AT TAHRIM AYAT 6
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi












KELOMPOK 4
OLEH :
IFRI AFIYANI ( 112111256 )


PAI.E / V


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI “SMH” BANTEN
SERANG-BANTEN

OBJEK PENDIDIKAN
TAFSIR AL-MISBAH AT TAHRIM AYAT 6










Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia dan batu-batu; diatasnya malaikat-malaikat yang kasar-kasar, yang keras-keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”


ü Lughah

قُوٓا۟ = Peliharalah
أَنفُسَكُمْ = Dirimu
وَأَهْلِيكُمْ = Dan Keluargamu
نَارًا = Api neraka
غِلَاظٌ = yang kasar
شِدَادٌ = yang keras

ü Tafsir Al-Misbah
Ayat diatas memberi tuntunan kepada kaum beriman bahwa : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu antara lain dengan meneladani Nabi SAW dan pelihara juga keluarga kamu ( وأهليكم) yakni istri, anak-anak dan seluruh yang berada di bawah tanggung jawab kamu dengan membimbing dan mendidik mereka agar kamu semua terhindar dari api neraka (نار) dan yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia yang kafir dan juga batu-batu(والحجا رة) antara lain yang dijadikan berhala-berhala. Di atasnya yakni yang menangani neraka itu dan bertugas menyiksa penghuni-penghuni adalah malaikat-malaikat yang kasar-kasar hati dan perlakuannya, yang keras-keras perlakuannya dalam melaksanakan tugas penyiksaan, yang tidak mendurhakai Allah menyangkut apa yang Dia perintahkan kepada mereka sehingga siksa yang mereka jatuhkan- kendati mereka kasar-tidak kurang dan tidak juga berlebih dari apa yang diperintahkan Allah, yakni sesuai dengan dosa dan kesalahan masing-masing penghuni neraka dan mereka juga senantiasa dan dari saat ke saat mengerjakan dengan mudah apa yang diperintahkan Allah kepada mereka.[1]
ü Asbabun Nuzul
Diriwayatkan bahwa ketika ayat ke 6 ini turun, Umar berkata: “Wahai Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami, dan bagaimana menjaga keluarga kami?” Rasulullah SAW. menjawab: “Larang mereka mengerjakan apa yang kamu dilarang mengerjakannya dan perintahkanlah mereka melakukan apa yang Allah memerintahkan kepadamu melakukannya. Begitulah caranya meluputkan mereka dari api neraka. Neraka itu dijaga oleh malaikat yang kasar dan keras, mereka dikuasakan mengadakan penyiksaan di dalam neraka, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepadanya.

Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda dari Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu :

وَيُمَجِّسَانِهِ انِهِ وَيُنَصِّرَ يُهَوِّدَانِهِ فَأَبَوَاهُ الْفِطْرَةِ عَلَى يُوْلَدُ إِلاَّ مَوْلُوْدٍ مَا مِنْ
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi”

Anak terlahir dalam keadaan fitrah. Kewajiban orang tua merawatnya agar tidak menyimpang dari jalan yang lurus, dan selamat dari api neraka. Selain itu, anak yang shalih akan menjadi modal investasi bagi kedua orang tuanya. Maka jelas bahwa tugas manusia tidak hanya menjaga dirinya sendiri, namun juga menjaga keluarganya dari siksa neraka. Untuk dapat melaksanakan taat kepada Allah SWT, tentunya harus dengan menjalankan segala perintahNya, serta menjauhi segala laranganNya. Dan itu semua tak akan bisa terjadi tanpa adanya pendidikan syari’at. Maka disimpulkan bahwa keluarga juga merupakan objek pendidikan. Pentingnya pendidikan anak yang termasuk salah satu unsur keluarga, agar dia selamat dunia dan akhirat. Anak bagi orang tua merupakan buah perkawinan yang menyenangkan. Dibalik itu, anak adalah amanat atas orang tua. Tidak boleh disia-siakan dan di sepelekan. Pelaksana amanah harus menjaga dengan baik kondisi titipan agar tidak rusak. Sebab orang tua kelak akan ditanya tentang tanggung jawabnya.

ü Kandungan
Dari uraian diatas, dapat kita ambil poin-poin penting yang dapat kita jadikan pegangan dalam membina diri sendiri dan orang lain :
1. Niat yang lurus, semata-mata demi meraih ridha Allah subhanahu wa ta’ala, melaksanakan syari’ah islam dan melaksanakan dak’wah.
2. Pentingnya pendidikan Islam sejak dini
3. Proses pembinaan dimulai dari diri sendiri.
4. Bekal ‘ilmu adalah yang utama
5. Taqwa adalah kunci dalam memelihara diri kita sendiri dan keluarga kita dari api neraka.
6. Proses pembinaan selanjutnya dimulai dari orang-orang dekat, dimulai dari keluarga sampai teman-teman dekat.
7. Kesabaran memegang peranan penting






ü Analisis Ayat Surat At Tahrim Ayat 6
Dari rumah tangga telah dimulai menanamkan iman dan memupuk Islam. Karena dari rumah tangga itulah akan terbentuk umat. Dan dalam umat itulah akan tegak masyarakat Islam. Masyarakat Islam ialah suatu masyarakat yang bersamaan pandangan hidup, bersamaan penilaian terhadap alam.
Oleh sebab itu, maka orang yang beriman tidak boleh pasif, artinya berdiam diri menungu saja. Nabi sudah menjelaskan tanggung jawab dalam menegakkan iman. Yang mula-mula sekali diperintahkan oleh Nabi ialah supaya memelihara diri sendiri lebih dahulu supaya jangan masuk neraka. Setelah itu memelihara seluruh isi rumah tangga (istri dan anak-anak).

Dan tanggung jawab yang terletak diatas pundak tiap-tiap orang menurut apa yang ditanggungjawabinya akan ditanya tentang kepemimpinannya terhadap ahlinya, yaitu istri dan anak-anaknya. Karena yang disebut itu adalah seisi rumah yang terletak dalam tanggung jawab. Kadang-kadang seseorang memikul tanggung jawab sampai dua, tiga. Jika ia imam dalam satu masyarakat dan dia pun sama dalam satu rumah, maka keduanya pun di bawah tanggung jawabnya.

Supaya diri seseorang mempunyai pengaruh , berwibawa, dan disegani, hendaklah perangai dan tungkah lakunya dapat dijadikan contoh oleh anak dan istrinya. Hendaknya dia jadi kebanggaan bagi keluarga.

ü Kesimpulan
Berdasarkan pada uraian tersebut kita dapat memahami kandungan atau tafsir dari surat-dan ayat yang telah diuraikan diatas yang dimana kandunganya mencangkup tentang kajian objek pendidikan, dimana kita diperintahkan untuk mencari ilmu seluas-luasnya atau sebanyak mungkin. Karena Setiap ilmu pengetahuan berguna dan dapat mencerdaskan kehidupan kita dan tidak bertentangan dengan norma-norma agama, wajib dipelajari. Umat Islam diperintahkan Allah untuk memakmurkan bumi ini dan menciptakan kehidupan yang baik, Sedang ilmu pengetahuan adalah sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

[1] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: 2003, Lentera hati), cet-1, hlm:326-327

Senin, 25 November 2013

Menjadi Guru Sebenarnya

Berbicara tentang kreativitas memang takkan habis karena tak pernah ada takaran yang mematok bahwa seseorang sudah cukup kreatif atau belum dalam melakukan sesuatu. Pasti ada saja ragam ide yang muncul dalam mengkreasikan sesuatu, baik berupa benda (fisik) ataupun cara. Keragaman yang muncul setiap waktunya membuktikan bahwa kreativitas itu memang tak akan pernah mati sampai kapanpun. “Kreativitas itu mengasyikkan dan yang pasti disukai banyak orang”, ungkap salah seorang guru yang mengajar di pelosok negeri. Banyak keuntungan yang dapat kita peroleh dari pola hidup kreatif. Dinilai intelek, kaya akan wawasan, banyak relasi, mendapatkan penghasilan yang tak biasa, disegani dan disenangi banyak orang, serta hidup pun menjadi lebih berwarna. Maka tak heran, banyak orang yang berbondong-bondong datang untuk menjadi sosok yang demikian dengan 1 alasan yakni ingin tampil beda di antara yang lainnya. Menemukan kekhasan diri sebagai bentuk pencirian dan identitas diri menjadi insan yang tidak biasa-biasa saja.
Itu pulalah yang kami alami sekarang. Mencoba untuk menjadi sosok kreatif dalam mencerdaskan anak bangsa. Para Sarjana Muda yang bergabung melalui Sekolah Guru Indonesia sengaja digodok dalam karantina untuk mencetak calon guru sejati yang hakikinya menjadi sosok yang banyak menginspirasi guru lainnya juga. Mengajar dengan cara yang tak biasa membuat kami begitu tertantang dalam menciptakan santapan menarik bagi siswa dahsyat dari berbagai pelosok Indonesia.
Dari sinilah kami belajar menjadi guru sebenarnya. Guru yang notabennya dianggap sebagian besar orang sebagai profesi yang berada pada jalur aman dan santai. Tinggal datang ke sekolah, mengajar dan pulang ke rumah lagi, maka tugaspun selesai. Mengajar dilakukan dengan cara yang sangat praktis. Masuk kelas dengan wajah masam jika sedang ada masalah, atau datang dengan membawa Samurai bak pendekar yang ingin membantai musuh yang belum ditemukannya. Pada akhirnya, siswa menjadi sasaran empuk yang dianggap sebagai musuh oleh guru seperti ini.  Bahkan ada yang melakukannya dengan cara yang lebih sederhana lagi. Tinggal masuk kelas, tanpa berkata apa-apa, hanya menuliskan angka halaman buku, meminta siswa mengerjakannya. Sementara si Guru sibuk dengan kegiatan yang tidak jelasnya di kantor. Berhahaha….hihihi…..yang bisa didengar oleh siswa dari balik dinding kelasnya. Ironis memang, mengetahui peranan guru yang tadinya sebagai pemegang ujung tombak kemajuan bangsa melakukan hal demikian.
Tak bisa dipungkiri, itulah yang tengah terjadi di kehidupan bangsa kita. Tawuran pelajar sudah menjadi menu berita harian. “Peka???”, sudah tidak. Berita ini terlalu biasa untuk dipermasalahkan bagi penduduk negeri. Maka, tak salah juga para pemimpin negeri begitu buas melakukan tindak korupsi di lembaga terkait. Hukuman yang dibentuk pun tak menimbulkan efek jera. Sempurnalah peliknya permasalahan negeri ini tanpa kejelasan dalam penyelesaiannya. Jika kita kerucutkan kembali penyebab dari semua rangkaian kejadian yang tidak mengenakkan ini akibat terjadinya kecelakaan pendidikan di masa lampau. Andai kita sadar wahai Guru, sebenarnya kitalah yang mengajarkan bangsa ini menjadi seperti ini. Efek dari ketidak bertanggung jawaban kita menimbulkan akibat luar biasa terhadap bangsa ini. Tepat sekali pepatah yang mengatakan “Jika Guru sudah kencing berdiri, maka muridpun akan kencing berlari”.
Perlu kesadaran tinggi jika sudah memutuskan untuk menjadi seorang Guru. Karena tugas seorang Guru takkan pernah selesai sampai kapanpun. “Guru Sebenarnya” akan merasa gagal dan malu jika tahu siswa yang pernah diajarnya melakukan tindakan yang merugikan orang lain, apalagi sampai merusak bangsa. Pertanyaan mendasar yang harus menjadi bahan renungan kita adalah “Sudahkah kita menjadi Guru sebenarnya???”. Silakan teriakkan jawabannya di hati kecil masing-masing.
Menjadi guru memang tak mudah. Guru merupakan sosok yang sangat dihormati oleh semua orang. Dianggap multi talented bisa melakukan semua hal, tempat bertanya bagi orang yang tidak tahu. Menjadi sosok yang digugu dan ditiru oleh para siswa kita, baik yang berada di sekolah maupun di masyarakat. Oleh karena itu selayaknya sebagai seorang guru kita harus bisa memaksimalkan potensi siswa. Tidak hanya di bidang akademik, tapi juga kemampuan yang lainnya. Motto ”Setiap anak adalah Juara” adalah hal mutlak yang harus ditanamkan dalam diri seorang guru. Tak ada anak yang bodoh, karena mereka sejatinya dilahirkan dengan kemampuan yang berbeda. Tugas kita sebagai seorang guru lah yang harus menemukan potensi dan mengembangkannya menjadi seseorang yang percaya diri serta bersemangat dalam menghadapi tantangan hidup nantinya. Membekalinya dengan cara-cara yang menyenangkan, yang membuat mereka tumbuh dan berkembang secara melejit. Di mana sosok kita selalu dinantikan setiap waktunya. Sosok yang bisa membuat mereka bersedih jika kita tak ada. Sosok yang bisa menjadi teman berbagi dalam hidup. Sosok dengan pribadi teladan yang patut mereka tiru. Sosok yang membuat mereka malu jika melakukan perbuatan tidak baik karena tak mau mengecewakan kita, idolanya. Ya, itulah Guru Sejati. Semoga kita ada salah satu di antara ribuan pejuang pendidikan yang dirindukan anak bangsa.
ini foto ketika ada lomba 17 agustus di sekolah paud bina insani :)

Senin, 18 November 2013

pendidikan wanita dalam perspektif Islam

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Pada zaman Jahiliyah wanita tak berati apa-apa, dia hanyalah sampah yang tak ada gunanya, yang merupakan pelampiasan nafsu arab jahiliyah pada waktu itu. Kemudian Islam datang mengangkat derajat mereka yang merupakan syaqaiq arrijal. Kata almar’ah memang indah kedengarannya, tapi di balik kalimat tersebut ada hal yang perlu dijaga. Syariat sudah menjelaskan bahwa wanita adalah tulang punggung, jika ia baik maka baiklah semuanya. Pada masa sekarang ini banyak orang mengangkat konsep tentang persamaan gender maka Islam telah tampil sejak 14 abad lalu tentang hal tersebut, bahkan Islam telah memberikan kedudukan yang sangat tinggi bagi kaum hawa, bukankah Rasulullah SAW telah bersabda ;
 الجنة تحت أقدام الأمهات (رواه أحمد والنسائي وابن ماجه والحاكم عن معاوية بن جاهمة السلمي)
Artinya : Sorga itu dibawah telapak kaki ibu. (HR. Ahmad, Nasa’I, Ibnu Majah, Hakim).
Tingginya kedudukan yang diberikan oleh Islam pada wanita adalah sangat wajar, mengingat wanita mempunyai peranan yang penting dalam menentukan baik dan tidaknya sebuah generasi bangsa, karena merekalah yang paling dekat dan paling sering berinteraksi dengan anak-anak, serta tempat pertama kali seorang anak menerima pendidikan, sehingga mereka lebih dominan dalam memberikan warna pada karakter seorang anak. Oleh karena itu pendidikan yang baik pada seorang wanita adalah sebuah keharusan, karena ditangan merekalah baik dan tidaknya sebuah generasi bangsa. Dan disini kami akan membahas bagaimana hakikat seorang wanita muslimah dalam pendidikan.
B. Rumusan Masalah
            a. Bagaimana konsep pendidikan wanita dalam Islam?
            b. Bagaimana pandangan Islam jika wanita sebagai pemimpin?
C. Tujuan Masalah
            Agar mahasiswa/i dapat mengerti konsep pendidikan wanita dan memahami kedudukan seorang wanita muslimah dalam Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Wanita  Dalam Islam
            Umar bin Khathab pernah berkata, “Pada masa jahiliyah, wanita itu tak ada harganya bagi kami. Sampai akhirnya Islam datang dan menyatakan bahwa wanita itu sederajat dengan laki-laki.”
Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al-Baqarah: 228)
Persamaan yang dimaksudkan oleh Islam ini meliputi segala aspek, termasuk masalah hak dan kewajiban. Hal ini sangat dipahami oleh para wanita Islam dan oleh karenanya mereka pegang ajaran Islam dengan sangat kuat. Khadijah, Umu Habibah, Ummu Salamah dan Nusaibah binti Ka’ab adalah sebagian contoh dari para wanita tersebut. Adapun peran wanita dalam rumah tangga tak kalah besarnya. Dalam sejarah para muslimah telah memainkan perannya dalam berbagai bidang; di medan jihad, di masjid dan juga di rumah. Namun dengan tetap menjaga akhlaq dan adab Islami. Ini dilakukan dengan tetap menjaga perannya yang utama yaitu mendidik anak, menjaga keluarga yang dibangun atas mawaddah dan rahmah, juga tetap menciptakan suasana tenang dan damai dalam rumah tangga. Dalam kacamata Islam tidak ada diskriminasi antara laki – laki dan perempuan, mereka semua mendapat kewajiban dan hak yang sama dalam menuntut ilmu, bahkan kaum hawa dalam hal ini mendapatkan prioritas tersendiri dari syari’at, karena merekalah tempat pendidikan pertama sebelum pendidikan yang lain diperoleh oleh seorang anak, maka tidak salah bila dikatakan bahwa[1]
الأم مدرسة الأولى
Artinya : ibu itu adalah sekolah yang pertama
B. Ciri - Ciri Wanita
            Dan karakteristik wanita pun telah dicantumkan dalam hadits sebagi berikut :
  1. Bulu kening “Rasullullah melaknat perempuan yang mencukur/ menipiskan bulu kening/ meminta supaya dicukurkan bulu keningnya” (HR. Abu Daud)
  2. Kaki (tumit kaki) “Dan janganlah mereka (perempuan) membentakkan kaki (atau mengangkatnya) agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan” (QS. An-Nur : 31) Keterangan : menampakkan kaki & menghayunkan/ melenggokan badan mengikuti hentakan kaki.
  3. Wangian “Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zina (HR. Nasaii ibn Khuzaimah & Hibban).
  4. Dada “Hendaklah mereka (perempuan) melabuhkan kain kudung hingga menutupi dada mereka” (QS. An-Nur : 31).
  5. Gigi “Rasulullah melaknat perempuan yang mengikir gigi atau meminta supaya dikikir giginya (HR. At-Thabrani)
C. Tutur Kata Wanita dan Pria dalam hadits
            Dan wanita selalu wajib menjaga tutur katanya yang baik dan tidak boleh diperkenankan dengan gosip gossip yang tidak benar. Berikut ciri ciri tutur kata yang baik :
1. Sebab Mendapatkan Ampunan dan Sebab Masuk Surga
Dari Abu Syuraih, ia berkata pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمِلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ
اتِ الْمَغْفِرَةِ بَذْلُ السَّلامِ، وَحُسْنُ الْكَلامِ
 “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.” Beliau bersabda,  “Di antara sebab mendapatkan ampunan Allah adalah menyebarkan salam dan bertutur kata yang baik.”
2. Mendapatkan Kamar yang Istimewa di Surga Kelak
Dari 'Ali, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar.” Kemudian seorang Arab Badui bertanya, “Kamar-kamar tersebut diperuntukkan untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau pun bersabda,
لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ
“Kamar tersebut diperuntukkan untuk siapa saja yang tutur katanya baik, gemar memberikan makan (pada orang yang butuh), rajin berpuasa dan rajin shalat malam karena Allah ketika manusia sedang terlelap tidur.”
3. Bisa menggantikan Sedekah
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
“Tutur kata yang baik adalah sedekah.”
Dari 'Adi bin Hatim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
“Selamatkanlah diri kalian dari siksa neraka, walaupun dengan separuh kurma. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka cukup dengan bertutur kata yang baik.”
Oleh karenanya, orang yang bersikap mudaroh akan berlemah lembut dalam pergaulan tanpa meninggalkan sedikitpun prinsip agamanya. Sedangkan orang yang bersikap mudahin, ia akan berusaha menarik simpati orang lain dengan cara meninggalkan sebagian dari prinsip agamanya.
Hendaknya kita bisa memperhatikan perbedaan antara mudaroh dan mudahanah. Lemah lembut yang dituntunkan adalah dalam rangka membuat orang tertarik dengan akhlaq kita yang baik. Sikap pertama inilah yang akan membuat orang menerima dakwah, namun tetap dengan mempertahankan prinsip-prinsip beragama. Sedangkan lemah lembut yang tercela adalah jika sampai mengorbankan sebagian prinsip beragama dan mendiamkan kemungkaran tanpa adanya pengingkaran minimalnya dengan hati.
D. Kepemimpinan Wanita Dalam Hadits
Mungkin sebagian orang masih ragu mengenai masalah ini. Ada yang masih mengatakan bahwa pemimpin boleh-boleh saja dari kaum wanita. Namun, kami bukan maksud membela golongan tertentu atau meremehkan mereka. Tidak sama sekali. Yang kami sajikan hanyalah perkataan Allah dan Rasul-Nya (dari Al Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam), bukan pendapat dari perspektif barat dan yang lainnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diriketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisaa’ : 34)
Dalam ayat ini sudah jelas dikatakan bahwa laki-laki adalah lebih utama dari wanita dan lebih baik dari wanita. Oleh karena itu, kenabian hanya khusus diberikan pada laki-laki, begitu pula dengan kerajaan yang megah diberikan pada laki-laki. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, ”Tidak akan bahagia suatu kaum apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita.” Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari  dari hadits ‘Abdur Rohman bin Abu Bakroh dari ayahnya. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim pada tafsir surat An Nisaa’ ayat 34)
Dan ketika Allah melebihkan derajat laki laki daripada perempuan. Bukan berarti permpuan dianggap sebelah mata akan tetapi lebih dimuliakan harkat dan martabat seorang wanita. Nabi Muhammad Saw juga mempunyai alasan kenapa wanita tidak diperbolehkan menjadi pemimpin, berikut alasan Beliau kenapa wanita tidak boleh jadi pemimpin ;[2]
1. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tidak pernah mengangkat pemimpin (amir) dari kaum wanita.
2. Imam shalat tidak pernah seorang wanita, tetapi seorang laki-laki. Bahkan beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika sakit tidaklah menyuruh istrinya untuk menjadi imam.
3. Hak laki-laki lebih mulia daripada wanita.
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Andai aku memerintah seseorang sujud kepada yang lain, tentu akan aku perintahkan wanita sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi no. 1159. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)
4. Wanita harus izin kalau ingin puasa sunnah dan berpergian keluar rumah kepada sang suami. Hal ini ditegaskan dari hadits Abu Huroiroh radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam barsabda,
“Hendaklah wanita tidak berpuasa (sunnah) apabila  suaminya ada selain dengan izin suaminya.”(HR. Bukhari). Pesan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ini ditujukan kepada sang isteri bukan kepada suami, karena suami adalah pemimpin.
5.Laki-laki wajib ditaati, sebagaimana hadits Abu Huroiroh radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya, lalu istrinya enggan mendatanginya, maka malaikat akan melaknatnya sampai pagi hari.” (HR. Bukhari). Hadits ini menunjukkan bahwa suami punya hak memerintah isterinya karena suami adalah pemimpin.
Akibat dari mengangkat pemimpin wanita
Abu Bakrah berkata,
لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ « لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً »
“Tatkala ada berita sampai kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bahwa bangsa Persia mengangkat putri Kisro (gelar raja Persia dahulu) menjadi raja, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda, ”Tidak akan bahagia suatu kaum apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita”. ” (HR. Bukhari no. 4425)
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ
“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menggoyangkan laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.” (HR. Bukhari no. 304). Dan banyak alasan alasan kenapa wanita tidak boleh menjadi pemimpin, diantara alasan alasan itu adalah :
1.  Wanita tidak dapat menikahkan dirinya, tetapi harus dengan wali
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِىٍّ
“Tidak ada nikah kecuali dengan wali.” (HR. Abu Daud no. 2085, Tirmidzi no. 1101 dan Ibnu Majah no. 1880. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih).

2. Wanita menurut tabiatnya cenderung pada kerusakan
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا ، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَىْءٍ فِى الضِّلَعِ أَعْلاَهُ ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
“Nasehatilah wanita untuk berbuat baik karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk. Bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk tersebut adalah bagian atasnya. Jika engkau memaksa untuk meluruskan tulang rusuk tadi, maka dia akan patah. Namun, jika kamu membiarkan wanita, ia akan selalu bengkok, maka nasihatilah dia.” (HR. Bukhari no. 5184)
3. Wanita mengalami haidh, hamil, melahirkan, dan menyusui
Allah Ta’ala berfirman,
وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
“Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath Tholaq : 4)
Jika datang waktu seperti ini, maka di mana tanggung jawab wanita sebagai pemimpin?
4. Wanita mudah putus asa dan tidak sabar
Kita telah menyaksikan pada saat kematian dan datangnya musibah, seringnya para wanita melakukan perbuatan yang terlarang dan melampaui batas seperti menampar pipi, memecah barang-barang, dan membanting badan. Padahal seorang pemimpin haruslah memiliki sifat sabar dan tabah.

Wanita hanya diperbolehkan menjadi pemimpin di rumahnya, itu pun di bawah pengawasan suaminya, atau orang yang sederajat dengannya. Mereka memimpin dalam hal yang khusus yaitu terutama memelihara diri, mendidik anak dan memelihara harta suami yang ada di rumah. Tujuan dari ini semua adalah agar kebutuhan perbaikan keluarga teratasi oleh wanita sedangkan perbaikan masyarakat nantinya dilakukan oleh kaum laki-laki. Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmudan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahuludan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 33)
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
وَالْمَرْأَةُ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهْىَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
“Dan wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya, dia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai orang yang diurusnya.” (HR. Bukhari no. 2409)
Kita hendaknya menerima ketentuan Allah yang Maha Bijaksana ini. Bukanlah Allah membendung hak asasi manusia, tetapi Dialah yang mengatur makhluk-Nya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan kebahagiaannya masing-masing.[3]



BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
 “Wanita adalah tiang Negara”. Sebuah ungkapan dalam Islam yang menunjukkan bahwa wanita memiliki peran yang sangat sakral dalam sebuah komunitas negara. Allah berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (16: 97).
Ditekankan pada ayat ini bahwa pria dan wanita dijamin oleh Allah akan mendapatkan pahala yang sama apabila mereka melakukan perbuatan yang baik (amal sholeh) dalam keadaan beriman. Ayat ini juga sekali lagi memperlihatkan kepada kita, bukti bahwa Allah telah mengangkat derajat kaum wanita ketika banyak masyarakat dunia dari sebelum di turunkannya Al Quran sampai sesudahnya tidak memperlakukan wanita sebagaimana semestinya. Islam mengangkat derajat wanita setelah sekian lama diobrak-abrik oleh kejahiliahan bangsa Arab dan bangsa-bangsa yang lain di dunia. Melalui al-Qur’an, Allah menjelaskan kedudukan wanita dalam Islam sebagaimana ayat di atas tadi. Seperti kedudukan wanita di dalam  hukum romawi kuno, kaum wanita tidak memiliki pengakuan terhadap hak-hak mereka. Dan dalam agama romawin kuno, kaum wanita dibelenggu kepribadian mereka dengan dibatasinya kebebasan mereka untuk bertindak.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
وَالْمَرْأَةُ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهْىَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
“Dan wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya, dia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai orang yang diurusnya.” (HR. Bukhari no. 2409)


DAFTAR PUSTAKA

Arifin, M., (1996), Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.

Engineer, Asghar Ali, (1994), Hak-Hak Perempuan dalam Islam,  terj. Farid Wajidi dan Cici Farkha Assegaf. Yogyakarta: LSPPA & CUSO.

Kitab bulughul Maram [Terjemahan], Bulughul Maram Min Adillatil Ahkaam, Al-Hafidh Imam Ibnu Hajar al-Asqalany, Al-Haramain

Subhan, Zaetunah. (2006), Perempuan dan Politik dalam Islam. Yogyakarta: LKIS.

Zakiah Drajat dkk, (1996), Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara : Jakarta.














[2] Engineer, Asghar Ali, Hak-Hak Perempuan dalam Islam. terj. Farid Wajidi dan Cici Farkha Assegaf, Yogyakarta: 1994, LSPPA & CUSO.
[3] Subhan, Zaetunah. Perempuan dan Politik dalam Islam. (Yogyakarta: 2006, LKIS).

Kamis, 20 Juni 2013

happy day ;)

hal yang terIndah dan menyenangkan adalah...
ketika ilmu yang kita punya, kita salurkan dan amalkan kepada orang lain,
yang pasti dengan ketulusan dan keikhlasan..
terimakasih my student...
saat ada masalah semuanya seperti hilang...
ketika aku bertemu dengan adik' tercinta yang penuh keceriaan,
meskipun ada kenakalan di diri mereka,
tapi tetap menyenangkan buatku..
terimakasih yaaa.. akan aku ingat semuanya,
1 tahun berlalu , itu rasanya singkat sekaliii
jadi sedihhhh nihh :')
makasiihhh.. terimakasihh adik" ku :))