Minggu, 17 Agustus 2014

PPLK @ Al-Mubarok

haii......i ketemu lagii dengan saya, vivi :D haha
saya mau cerita sedikit tentang pengalaman pertama saya PPLK. bisa di bilang saya adalah salah satu manusia yang beruntung diantara teman-taman saya yang lain. kenapaaaaa? mau tauuuuu??? dihhhh.. kepooooooo :P
saya kasih tau dehhh.....karena saya dapet praktek PPLK deket banget dengan rumah, yaitu di MTs Al-Mubarok, tinggal mersikil aja juga udah sampeeee. deket deh pokoknya. kalau temen-temen saya yang lain dapet PPLK lumayan jauh-jauh. ada yang di cilegon, pulo merak, pandeglang, padarincang, bahkan ada juga yang di tangerang. wahhh macem-macem deh pokoknya.
mauu tauuu engga kenapaaa saya dapet PPLKnya deket???? yaaaa beruntung, jika di bandingkan dengan teman-teman yang lain.. mau tau kenapaaa? kenapa? kenapaaaa?? *gaya ust maulana :D haha
hemmmm gini ceritanya, dulu waktu saya semester 6 mamah selalu bilang "coba bilang dosbing-nya aja nanti prakteknya yang deket, gitu" saya langsung jawab "ga bisa gitu mah, vivi juga pinginnya deket tapikan yang nentuin tempat praktek bukan vivi tapi orang-orang/dosen-dosen yang ada di fakultas bukan dosbing alias dosen pembimbing" terus mamah bilang gini "mamah selalu berdo'a supaya vivi prakteknya yang deket" saya cuma meng-Aamiin kan dan agak sedih dengernya. sedih karena terharuuuuuu... :')
ya, itu alesan kenapa saya bisa praktek ngajar yang deket, berkat do'a, restuu dan ridho dari orang tuaa serta kerja keras mamah dan bapak yang buat saya menjadi sangat semangat menjalani hari.

hari pertama ngajar tanggal 13 Agustus 2014 :
awalnya sih deg-deg'an yaaa wajar sih namanya juga manusia. sebenernya yang bikin deg-deg'an adalah terlalu singkat untuk menyiapkan segala sesuatu dalam mengajar untuk tgl 13 nya karena dikasih jadwal oleh kepala sekolah sehari sebelum ngajar. pulang dari sekolah sore, belum menyiapkan untuk RPPnyaaa.. dan itu pun membuat RPP nya malam hari... badan rasanyaaaa capeee bangettt tapiii ya ituuu kalau inget orang tua bikin semangat lagi :)
keesokan harinya, hari dimanaa saya belum pernah merasakan sebelumnya yaitu ngajar di MTs Al-Mubarok. saya ditempatkan mengajar dikelas 2 MTs. 2A, 2B, dan 2C... full nagjar sampai siang.. huhahhh...
pertama masuk ke 2B anak-anaknya lumayan seruuu, asiikk dan menyenangkan.. sama seperti di kelas 2A... tapiii di kelasss 2C... hemmmmm ampuuuuuuuun... pokoknyaaa sesuatuuu bangettt "susah diatur" ada yang tidur lah,ada yang ngobrol dan lebih parahnya lagi ada yang nanya gini "ustadzah... kapan istirahatnyaaaa" beuuuuuhhhh... jlebb yaaaahhh..... teruss ada juga yang bilang ginii "ustadzaah punya Fb gaaaa? kasih tau dongg nama Fbnya". halaaaahhh anak-anakkk padahal di pondok pesantren tapi sempet-sempetnyaa punya fb padahal ga di bolehin bawa hapeee tapiii ke warnet baeee. hhhhffff~ hahaaa
saya kebagian materii "Al-Qur'an dan hadits" jadi agak bingung nentuiin metode yang passs.

itulah pengalaman hari pertama saya ngajar di Ponpes MTs Al-Mubarok. seru, menyenangkan tapi juga ada yang bikin geleng-geleng kepalaaa ... heheheeeee
ya pokoknya gituuuu dehhh, namanya juga bermacam-macam karakter manusia, itu satu paket ada di dalam 1 kelassss.
tetap berjuaaang, semangaat, intinya sih "pingin mendidik anak-anak, supaya berakhlak, berpendidikan, berpengetahuan, menjadi anak yang soleh dan solehah" Aamiin....

Selasa, 15 Juli 2014

SubhanaAllah :)

Subhanallah, Musa Meraih Nilai Mumtaz (Istimewa) dalam Lomba Hafizh Cilik Internasional di Jeddah, Saudi Arabia

Penampilan Musa diantara peserta dan Juri Lomba Tahfizh Internasional di Jedah, Arab Saudi. (Irhamni Rofiun)

dakwatuna.com – Jakarta. Sekilas mungkin banyak yang tidak menyangka jika adik kecil yang masih ‘cadel’ menyebut huruf ‘ra’ ini memiliki hafalan Al-Qur’an 30 juz, apalagi di usianya yang baru menginjak 6 tahun. Rasanya sesuatu yang ajaib dan di luar nalar manusia, terlebih di zaman yang agak ‘bebas’ ini, jika tidak diawasi langsung oleh kedua orangtua maka pergaulan anak pun tidak akan terkontrol dengan baik.

Bagi manusia yang memiliki iman yang kuat, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika usaha dan kerja keras sudah dilakukan dengan tekun dan sungguh-sungguh, ia akan percaya bahwa Allah akan memberikan ganjaran sesuai dengan apa yang telah dilakukan hamba-Nya.

Ini terbukti, adik Musa satu di antara anugerah dan karunia yang diberikan Allah untuk Abu Hanafi dan istrinya yang juga mampu memberikan banyak inspirasi dan motivasi untuk orang lain, terkhusus umat Islam.

Mungkin peristiwa fenomenal ini tidak aneh apabila kita mengaca kepada zaman sahabat dan tabi’in serta masa keemasan setelahnya, sejarah mencatat contohnya bahwa Imam Syafi’i hafal Al-Qur’an usia 7 tahun, hafal Muwattho’ usia 13 tahun dan diizinkan berfatwa oleh gurunya (Imam Malik) usia 15 tahun.

Orangtua Musa pun berharap dan telah mencanangkan anak-anaknya bisa seperti ulama-ulama terdahulu, setelah menamatkan hafalan Al-Qur’an ia akan menanamkan dan mengajarkan kepada Musa ilmu-ilmu agama, menghafal matan-matan hadits mulai dari hadits arba’in Imam Nawawi, Riyadhus Shalihin, sampai kitab hadits Bukhari-Muslim. Selain diajarkan bahasa Arab, Musa pun diajarkan bahasa Inggris oleh ayahnya. Subhanallah.. Lengkap.

Adapun keikutsertaan Musa dalam ajang Anugerah Khidmah Al-Qur’an Internasional yang berlangsung dari tanggal 3-7 Ramadhan 1435 H bertepatan dengan tanggal 1-5 Juli 2014 ini merupakan undangan khusus dari Syekh Abdullah bin Ali Bashfar, selaku Ketua Ma’had Tahfizh Dunia yang berpusat di Saudi Arabia. Dan Musa pun tercatat sebagai peserta termuda dalam perlombaan tahfizh Al-Qur’an ini. Prestasi Musa sebelumnya pernah menjuarai perlombaan menghafal Al-Qur’an cabang 20 dan 30 juz di Provinsi Bangka Belitung. Bismillah Masya Allah.. Sangat takjub, semoga Allah memperbanyak ‘Musa-Musa’ yang lainnya melalui anak dan cucu kita kelak. Aamiin ya rabb.


Info selengkapnya: Musa Laode Abu Hanafi (6 tahun, Indonesia)

Ada beberapa poin tips dari Bapak Musa, bagaimana beliau mengasuh dan mendidik Musa dan adik-adiknya bersama sang istri:

1. Niat.
2. Bapak dan ibu terjaga dari maksiat.
3. Perbanyak doa, karena Al-Qur’an itu milik Allah.
4. Ketika Anda/istri mengandung, suami-istri perbanyak membaca Al-Quran/hafal Al-Qur’an.
5. Ketika anak sudah lahir jauhkan dari musik dan tayangan televisi yang mengganggu.
6. Umur 2 tahun ajarkan huruf hijaiyah dll.
7. Umur 3 tahun mulai hafal Al-Qur’an.
8. Punya amalan andalan, misal shalat tahajjud dan dhuha setiap hari.
9. Sebelum itu semua, tidak akan tercapai kalau tidak mencari pasangan dulu. Hehe


Untuk memotivasi diri saya (kita) kembali untuk semakin mencintai Al-Qur’an, ada baiknya membaca makna tafsir yang tersirat dari firman Allah dalam surat Al-Qamar ayat 17:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan Sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adalah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar [54]: 17)

Yakni untuk dibaca, dihafal, dipahami, dipelajari dan direnungi. Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah memudahkan lafazhnya untuk dibaca dan dihafal, maknanya untuk dipahami dan diketahui. Hal itu, karena Al-Qur’an adalah sebaik-baik perkataan, paling benar maknanya dan paling jelas keterangannya. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Kalau bukan karena Allah telah memudahkan Al-Qur’an pada lisan manusia, tentu tidak satu pun makhluk yang dapat berbicara dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla.”

Oleh karena itu, siapa saja yang mendatanginya, maka Allah Subhaanahu wa Ta’alaala akan memudahkan maksudnya itu semudah-mudahnya.

Ad-Dzikr (pelajaran atau peringatan) di ayat ini mencakup semua yang diingat dan dipelajari oleh orang-orang yang berilmu seperti halal-haram, hukum-hukum perintah dan larangan, hukum-hukum jaza’i (pembalasan), nasihat, pelajaran, aqidah yang bermanfaat dan berita-berita yang benar. Sebagian kaum salaf berkata tentang ayat ini, “Adakah orang yang ingin mengetahui ilmu lalu dibantu untuk memperolehnya?” Oleh karena itulah Allah mengajak hamba-hamba-Nya untuk mendatangi Al-Qur’an dan mempelajarinya dengan firman-Nya, “Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”.

Terkait dengan orang yang membaca dan memahami Al-Qur’an, beberapa hadits menjelaskan:

“Dari Aisyah Ra., ia berkata bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda, ‘Orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan ia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam surga bersama-sama dengan para rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi ia tidak mahir, berat lidahnya (belum lancar), ia akan mendapat dua pahala.’ (HR. Bukhari dan Muslim).

“Dari Abu Abu Said al-Khudri Ra. dari Nabi Muhammad Saw. Beliau bersabda, ‘Allah berfirman, ‘Barangsiapa disibukkan dengan mengkaji Al-Qur’an dan menyebut nama-Ku, sehingga tidak sempat meminta kepada-Ku, maka Aku berikan kepadanya sebaik-baik pemberian yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta.’ Dan, keutamaan kalam Allah atas perkataan lainnya adalah seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” (HR. Tirmidzi).

“Dari Ibnu Abbas Ra., katanya, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Sesungguhnya, orang yang tidak terdapat dalam rongga badannya sesuatu dari Al-Qur’an adalah seperti rumah yang roboh.” (HR. Tirmidzi).

“Dari Abdullah bin Amr bin Ash Ra., bahwasanya Nabi Saw. telah bersabda, ‘Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, ‘Bacalah dan naiklah serta bacalah dengan tartil seperti engkau membacanya di dunia. Karena, kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i).

“Dari Mu’adz bin Anas Ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ‘Barang siapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya, Allah memakaikan pada kedua orangtuanya di hari kiamat suatu mahkota yang sinarnya lebih bagus dari pada sinar matahari di rumah-rumah di dunia. Maka, bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang mengamalkan ini.” (HR. Abu Dawud).

Ada banyak ayat suci Al-Qur’an atau hadits yang menyatakan keutamaan membaca Al-Qur’an. Beberapa dalil tadi hanyalah sepercik kutipan yang menjadi ibrah agar kecintaan untuk menghafal Al-Qur’an semakin kuat mengakar. Semoga Allah selalu merahmati kita semua dengan Al-Qur’an, memberikan keistiqamahan dan menutup catatan kehidupan kita dengan predikat husnul khatimah, taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Aamiin ya rabbal’aalamiin. (Irhamni Rofiun/sbb/dakwatuna

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/07/14/54608/subhanallah-musa-meraih-nilai-mumtaz-istimewa-dalam-lomba-hafizh-cilik-internasional-di-jeddah-saudi-arabia/#ixzz37etgne9y
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook


Selasa, 27 Mei 2014

PENELITIAN KESADARAN BERAGAMA ANAK JALANAN

Kesadaran Beragama Anak Jalanan di Kota Serang
Laporan Hasil Studi Kasus
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
“Psikologi Agama”










OLEH :
IFRI AFIYANI (112111256)
IBNU GOFUR (112111271)
YAYAH UNAYAH (112111279)

KELOMPOK 9

PAI.E / VI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI “SMH” BANTEN
SERANG-BANTEN
2014




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu kelebihan yang ada didalam diri setiap manusia sebagai makhluk Allah SWT adalah dianugrahi fitrah (potensi), untuk mengenal dan mengabdikan dirinya dengan cara melaksanakan ajaran-ajaranNya. Fitrah keagamaan ini merupakan potensi (kemampuan dasar) yang mengandung kemungkinan untuk berkembang. Proses pembinaan dan pendidikan dari orang tua dan gurulah yang mempengaruhi anak tersebut dalam mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya. Maka dari itu peran orang tua dan guru sangat berpengaruh terutama dalam membimbing keagamaan.
Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Ar-Rum : 30 yang berbunyi

Artinya: maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas fitrah Allah) yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Q.S. Ar-Rum :30)
Fitrah Allah maksudnya adalah ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu Agama Tauhid, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.
Ada dua faktor yang mempengaruhi sikap keberagamaan pada diri seseorang, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor-faktor intern yang mempengaruhi tersebut antara lain ialah faktor Hereditas, tingkat usia, kepribadian dan kondisi jiwa seseorang yang turut serta mempengaruhi dan membentuk sikap dan prilaku seseorang.
Masalah sikap dan tingkah laku merupakan masalah yang penting yang didalamnya akan mencerminkan sikap dari tingkah laku yang mencerminkan seseorang beragama. Karena masalah ini penting dalam kehidupan masyarakat, terutama lagi dalam kehidupan anak yang berada di jalanan. Karena biasanya mereka kurang control bahkan tidak ada control dari orang tua mereka yang mengakibatkan mereka bertingkah laku yang tidak sesuai dengan norma masyarakat dan ajaran agama Islam.
Oleh karena itu, pendidikan agama harus sudah diajarkan oleh Orang tua kepada seorang anak sejak dini. Karena keluarga merupakan tempat pertama kali seorang anak mendapatkan pendidikan dasar, sedangkan sekolah adalah pelanjut dari pendidikan yang telah ditanamkan dikeluarga. Pendidikan agama yang didapat dari seorang anak dari orang tua maupun guru, mempengaruhi sikap seorang anak tersebut.
Terkait dengan masalah diatas, kami akan mengangkat masalah kesadaran beragama anak jalanan, kehidupan anak jalanan berbeda dengan kehidupan anak-anak yang hidup dikalangan menengah yang hanya sekolah dan bermain serta berbeda juga dengan anak-anak kalangan atas. Anak jalanan sibuk membantu orang tuanya untuk mencari nafkah dan mereka juga harus bekerja keras dalam menjalankan kelangsungan hidupnya. Disamping itu selain sebagai anak jalanan ada juga yang berperan sebagai pelajar.
B. Perumusan Masalah
1. Bagaimana hubungan antara pendidikan agama dengan kesadaran dan sikap beragama anak jalanan?
2. Apa faktor yang mempengaruhi kesadaran keagamaan?
3. Bagaimana cara menumbuhkan kesadaran beragama anak jalanan?
C. Tujuan Penelitian
Bertitik tolak pada perumusan masalah diatas, maka tinjauan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pendidikan agama dengan kesadaran dan sikap beragama anak jalanan.
2. Untuk mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi.
3. Untuk mengetahui cara menumbuhkan sikap beragama anak jalanan.

D. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban yang masih bersifat sementara. Dari hasil pengamatan kami dari sumber-sumber yang ada, seperti buku, berita, Koran, serta buku teks lain, kami dapat menarik kesimpulan bahwa anak jalanan yang hidup di jalanan kurang adanya pengawasan dari kedua orang tuanya Karena mereka lebih sering menghabiskan waktunya dijalanan dari pada di rumah berkumpul dengan keluarganya.
E. Langkah-langah Penelitian
dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskritif kualitatif dengan langkah-langkah penelitian sebagai berikut:
1. Menentukan lokasi penelitian
a. Tempat
b. Waktu
2. Teknik pengumpulan data
a. Observasi adalah cara pengumpulan data berdasarkan pengamatan yang menggunakan mata atau telinga secara langsung tanpa melalui alat bantu yang standar.
b. Wawancara adalah teknik dalam upaya penghimpun data yang akurat untuk keperluan melaksanakan proses pemecahan masalah tertentu, yang sesuai data. Data yang diperoleh dengan teknik ini adalah dengan cara tanya jawab secara lisan dan bertatap muka langsung dengan seorang yang diwawancarai.
c. Studi Dokumentasi adalah studi yng dilakukan peneliti untuk mencari informasi teoritis sebagai landasan berfikir, yang berkaitan dengan masalah penelitian dengan cara mengkaji dan mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan sikap beragama seorang anak.
F. Sistematika Penulisan
Untuk memperoleh gambaran yang lebih konkrit dari penelitian ini, maka sistematika pembahasan disusun sebagai berikut :
Bab 1 pendahuluan dengan pembahasan Latar Belakang Msalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Hipoteis, Langkah-langkah Penelitian, Sistematika Pembahasan.
Bab II Tinjauan Teoritik Tentang sikap Beragama Anak dan Pembinaan Keagamaan dengan pembahasan Pengertian Agama menurut pendapat para ahli, Pengertian kesadaran beragama, teori sumber kejiwaan agama manusia, faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Bab III Objek dan Metodologi Penelitian
Bab IV Deskripsi Hasil penelitian
Bab V Penutup dengan pembahasan kesimpulan dan saran-saran








BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Agama Menurut Para Ahli Psikologi
Perhatian secara psikologi terhadap agama sudah setua umat manusia. Sejak tumbuhnya kesadaran manusia, orang telah merenungkan tentang arti hidup dan keberadaan di dunia, mengapa manusia berprilaku seperti itu, dan bagaimana arti hidup dan perilaku itu berhubungan dengan dunia yang ilahi, para dewa-dewi. Tetapi baru dalam tahun-tahun terakhir ini, perhatian itu dilakukan secara ilmiah yaitu lewat psikologi agama. Psikologi agama, sebagai cabang ilmu psikologi, merupakan produk dunia barat. Psikologi agama lahir sebagai hasil perembangan ilmu-ilmu sosial pada umumnya, psikologi pada khususnya, pada abad ke-19 yang lampau dan abad ke-20 ini.
Ahli psikologi seperti William James mengerti bahwa agama sebagai “perasaan, tindakan dan pengalaman manusia masing-masing dalam keheningannya”. Cicero secara sederhana mendefinisikan agama sebagai “the pios worship of god” (beribadah dengan bertawakal kepada Tuhan). Formulasi yang lebih komplek dikemukaan oleh Frederich Schleir Macher (seorang filusuf abad 18), mendefinisikan agama adalah “feeling of total dependence” (perasaan tergantung/pasrah secara keseluruhan). Teolog abad 20, Paul Tillich, mengemukakan bahwa agama adalah “that wich involves man’s ultimate concern” (apa yang melibatkan tujuan akhir manusia).
Harun Nasutin mengatakan bahwa definisi agama adalah sebagai berikut:
1) Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekatan ghaib yang harus dipatuhi;
2) Pengakuan terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia;
3) Meningkatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia;
4) Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Rasul.
B. Pengertian Anak Jalanan
Anak jalanan adalah anak yang belum dewasa (secara fisik dan psikis) dan sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran dijalanan atau tempat-tempat umum lainnya. Umumnya anak jalanan berasal dari keluarga yang pekerjaannya berat dan ekonominya lemah. Anak jalanan tumbuh dan berkembang dengan latar belakang kehidupan dan akrab dengan kemiskinan, penganiyayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memiliki prilaku yang negatif. Dan devinisi diatas penulis dapat menyimpulkan bahwasannya faktor penting yang sering terkait dengan anak jalanan yaitu :
- Anak-anak
- Menghabiskan sebagian waktunya
- Mencari nafkah atau berkeliaran
- Jalanan dan tempat-tempat umum lainnya
Faktor-faktor tersebut memperlihatkan terganggunya keberfungsiaan sosial (social functioning) anak. Konsep social functioning mengacu kepada situsi dan relasi anak-anak yang melahirkan berbagai tugas atau peran. Seorang anak setidak-tidaknya berada pada situasi rumah, sekolah, lingkungan bermain yang didalamnya berelasi dengan orang-orang dalam situasi tersebut dan mempunyi peranan tertentu seperti belajar, mematuhi orang tua, bermain dan lain-lain. Keadaan mencari nafkah atau berkeliaran dijalanan dengan menghabiskan sebagian waktunya yang cukup banyak jelas menyimpang dengan social functional anak.
a. Karakteristik Anak Jalanan
Beberapa ciri-ciri anak jalanan dituangkan dalam matrik berikut :
Tabel : ciri-ciri dan psikis anak jalanan
Ciri-ciri fisik Ciri-ciri Psikis
Warna kulit kusam
Rambut kemerah-merahan
Banyak berbadan kurus
Pakaian tidak terurus Mobilitas tinggi
Acuh tak acuh
Penuh curiga
Sangat sensitive
Berwatak keras
Kreatif
Semangat tinggi
Berani menanggung resiko
mandiri

Ciri-ciri umum lainnya :
- Usia berkisar 6-18 tahun
- Intensitas hubungan dengan keluarga (masih berhubungan teratur setiap harinya, dan hubungan dengan keluarga kurang misalnya seminggu sekali, dan sama sekali tidak ada komunikasi dengan keluarga
- Waktu yang dihabiskan dijalanan rata-rata lebih dari 4 jam sehari
- Tempat anak jalanan sering dijumpai dipasar, terminal bus, stasiun kereta api, taman-taman kota (tempat keramaian), perempatan jalan raya, pusat perbelanjaan, kendaraan umum dan pembuangan sampah.
- Aktifitas anak jalanan diantaranya : menyemir sepatu, pedagang asongan, pemulung, pengamen, ojek paying, pengelap mobil, kuli, pengemis, pekerja seks, joki three in one dan sebagainya.
b. Masalah-masalah yang dihadapi Anak jalanan
Keberadaan anak jalanan sering dianggap mengganggu keamanan serta keresahan masyarakat. Penilaian seperti ini ada benarnya, karena secara rasional dapat dimengerti bahwa anak yang hidup di jalanan cenderung hidupnya tidak teratur dan karena kerasnya kehidupan mereka, maka anak akan lebih mudah untuk berbuat sesuatu yang mengganggu ketertiban dan kemanan. Misalnya berkelahi dan mencuri, dan sebagainya.

C. Kesadaran beragama
Arti sadar dalam kamus ilmiah adalah ingat akan dirinya; merasa dan insyaf akan dirinya, siuman, depan, permulaan. Berarti kesadaran ialah ingat akan dirinya untuk melakukan sesuatu berdasarkan dorongan yang ada dari dalam jiwa.
Menurut Zakiah Darajat kesadaran beragama ialah aspek mental dari aktifitas agama. Aspek ini merupakan bagian atau segi agama yang hadir (terasa dalam pikiran dan dapat diuji melalui intropeksi). Dengan adanya kesadaran agam dalam diri seseorang yang kan ditunjukan melalui aktivitas keagamaan, maka munculah pengalaman beragama. Adapun yang dimaksud dengan pengalaman beragama ialah unsure perasaan dalam kesadaran agama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan dealam tindakan (amaliah) nyata.
Beranjak dari kenyataan yang ada, maka sikap keagamaan terbentuk oleh dua faktor , yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Memang dalam kajian psikologi agama, beberapa pendapat menyetujui akan adanya potensi agama pada diri manusia. Manusia adalah homo religious (mahluk beragama). Namun untuk menjadikan manusia memiliki sikap keagamaan, maka potensi tersebut memerlukan bimbingan dan pengembangan dari lingkungannya. Lingkungannya pula yang mengenalkan seseorang akan nilai-nilai dan norma-norma agama yang harus dituruti dan dilakonkan.
Jiwa keagamaan memang bukan secara langsung sebagai faktor bawaan yang diwariskan secara turun-temurun, melainkan terbentuk dari berbagai unsur kejiwaan lainnya yang mencakup kognitif, afektif, dan konatif.
D. Teori sumber kejiwaan Agama pada manusia
Sesungguhnya yang menjadi keinginan manusia dan kebutuhan manusia itu bukan hanya sebatas pada makan, minum, pakaian ataupun kenikmatan-kenikmatan lainnya. Pada dasarnya pada diri manusia terdapat semacam keinginan dan kebutuhan universal. Kelebihan ini melebihi kebutuhan-kebutuhan lainnya, bahkan melebihi kebutuhan akan rasa kekuasaan. Keinginan akan kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan kodrati, berupa keinginan untuk mencintai dan dicintai Tuhan.
Dapat ditarik kesimpulan bahwasanya manusia ingin mengabdikan dirinya kepada Tuhan atau sesuatu yang dianggapnya sebagai zat yang mempunyai kekuasaan tertinggi. Keinginan itu terdapat pada setiap kelompok, golongan, atau masyarakat manusia baik yang paling primitive hingga yang paling modern.
Karena adanya rasa keinginan untuk mengabdikan diri kepada Tuhan atau dengan kata lain “apakah yang menjadi sumber kejiwaan agama itu?” untuk menjawab itu timbulah beberapa teori antara lain
1. Teori monistik (mono=satu)
Teori monistik berpendapat, bahwa yang menjadi sumber kejiwa agamaan itu adalah satu sumber keagamaan. Adapun tokoh teori monistik adalah Thomas Van Aquino, Fredrick Hegel, Fredrick Schleimacher, Rudolf Otto, Sigmund Freud, William Mac Dougall.
2. Teori Fakulty (Faculty Teority)
Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu tidak bersumber pada faktor tunggal tetapi terdiri atas beberapa unsur, antara lain yang memegang peranan penting adalah: fungsi cipta, rasa dan karsa.
3. Teori Fitrah
Fitrah berarti mengakui ke-Esaan Allah (tauhid Allah). Manusia lahir dengan membawa potensi tauhid, atau paling tidak ia berkecenderungan untuk mengesakan Tuhan dan berusaha secara terus menerus mencari dan mencapai ketauhidan tersebut.
Beberapa makna fitrah yang dikemukakan oleh para ulama’ yaitu:
a. Fitrah berarti suci. Menurut al-Auza’I, fitrah berarti kesucian dalam jasmani dan rohani. Bila dikaitkan dengan potensi beragama, kesucian tersebut dalam arti kesucian manusia dari dosa waris dan dosa asal, sebagaimana pendapat Ismail Raji Al-Faruqi yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan suci, bersih, dapat menyusun drama kehidupannya, tidak peduli dengan lingkungan keluarga, masyarakat macam apapun tempat ia dilahirkan.
b. Fitrah berarti Islam. Abu Hurairah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah agama. Pendapat ini berdasarkan hadits Nabi: “Bukankah aku telah menceritakan kepadamu ada sesuatu yang Allah telah menceritakan kepadaku dalam kitab-Nya bahwa Allah menciptakan Adam dan anak cucunya berpotensi menjadi orang-orang muslim”. Berangkat dari pemahaman hadits tersebut, maka nak kecil yang meninggal dunia ia akan masuk surga. Karena ia dilahirkaan dengan din al-Islam, walaupun ia terlahir dari keluarga non muslim.
c. Fitrah berarti kondisi penciptaan manusia yang cenderung menerima kebenaran.
d. Fitrah dalam arti potensi dasar manusia sebagai alat untuk mengabdi dan ma’rifatullah.
E. Faktor yang mempengaruhi sikap beragama
Dalam Islam dijelaskan bahwa manusia mempunyai kesempatan untuk taat dan bertakwa kepada Allah SWT. (memiliki sikap beragama) sebagaiamana firman Allah dalam surat Asy-Syam 7-8:
       
` Artinya: “Dan jiwa serta penyembpurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengalihkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan”
Dengan kemampuan mengenal Tuhan, manusia (remaja) dapat memenuhi kebutuhan kebebasan, kebutuhan akan kasih sayang, rasa aman dan sebagainya, yang dapat diungkapkan lewat do’a dan permohonan. Namun demikian, tidak semua remaja mempunyai kesempatan yang sama untuk mengenal agama. Hal ini disebabkan karena orang tua bersikap acuh tak acuh terhadap agama. Apalagi ditambah dengan lingkungan yang jauh dari nilai-nilai agama. Tapi ada remaja yang dapat kesempatan untuk mengenal agama, sejak kecil ia dilatih untuk menjalankan ajaran agama, orang tuanya pun taat beribadah dan memberi contoh yang baik, disamping itu lingkungan masyarakat sekitarnya diwarnai nilai-nilai agama.
Agama menyangkut kehidupan batin manusia, oleh karena itu kesadaran agama dan pengalaman seseorang lebih menggambarkan sisi-sisi batin dalam kehidupan yang ada kaitannya dengan sesuatu yang sakral dan dunia ghaib. Dari kesadaran agama dan pengalaman agama ini pula demikian munculnya sikap keberagamaan yang ditampilkan seseorang.
Oleh karena itu, jelaslah bahwa terbentuknya sikap keberagamaan remaja pada diri seseorang (remaja) dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu faktor intern dan ekstern. Selanjutnya mengenai kedua faktor tersebut penulis akan menjelaskan sebagai berikut :
a. Faktor intern
Yang dimaksud faktor intern adalah faktor yang terdapat pada diri individu itu sendiri, yaitu :
1) Hereditas
Jiwa keagamaan memang bukan secara langsung sebgai faktor bawaan diwariskan secara turun temurun, malinkan terbentuk dari berbagai unsur lainnya mencakup kognitif, afektif dan psikomotorik/konatif. Menurut Sigmun Freud perbuatan yang buruk dan tercela jika dilakukan akan menimbulkan rasa bersalah (sense of guilt) dalam diri seseorang. Bila pelanggaran yang dilakukan terhadap larangan agama, maka dalam diri pelakunya akan timbul rasa berdosa, dan perasaan seperti ini barangkali yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan seseorang sebagai unsur hereditas, sebab dari berbagai kasus pelaku zina sebagian besar memiliki lartar belakang keturunan dengan kasus yang sama.
2) Tingkat usia
Meskipun tingkat usia bukan merupakan satu-satunya faktor perkembangan jiwa keagamaan seseorang, tetapi kenyataan ini dapat dilihat dari perbedaan pemahaman agama dari tingkat usia yang berbeda.
3) Kepribadian
Kepribadian menurut pandangan psikologi terdiri dari dua unsur, yaitu unsur hereditas dan pengaruh lingkungan. Hubungan antara unsur hereditas dengan pengaruh lingkungan inilah yang membentuk kepribadian dan setiap manusia memiliki kepribadian yang unik dan berbeda-beda, sehingga perbedaan tersebut membawa pengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan seseorang.
4) Kondisi jiwa seseorang
Bagaimanapun juga kondisi jiwa seseorang akan berpengaruh pada pandangan tentang agama, seseorang yang mengidap phobia akan dicekam rasa takut yang irrasional sehingga pandangannya terhadap agama akan dipengaruhi oleh hal yang demikian juga. Sedangkan seseorang yang normal akan memandang agama secara sadar dan dapat berpikir sehat.
b. Faktor ekstern, yaitu lingkungan yang dinilai berpengaruh dalam perkembangan jiwa seseorang, karena lingkungan merupakan tempat dimana seseorang itu hidup dan berinteraksi, lingkungan disini dibagi menjadi tiga yaitu keluarga, intuisi dan masyarakat.
1) Lingkungan keluarga
Keluarga adalah wadah pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Jika suasana dalam keluarga itu baik dan menyenangkan, maka akan tumbuh baik pula, begitupun sebaliknya.
Dalam bukunya Abdul Rachman Shaleh, ada tiga macam lingkungan keluarga yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan keagamaan seseorang yaitu:
a) Keluarga yang sadar akan pentingnya pendidikan agama bagi perkembangan anak, orang tua dari lingkungan keluarga yang demikian akan selalu mendorong anaknya untuk kemajuan pendidikan agama serta bersama-sama mengajak anak untuk menjalankan perintah agama dan menjauhi larangannya. Dalam hal ini orang tua dapat mendatangkan guru ngaji atau privat agama serta menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah madrasah dan mengikuti kursus-kursus keagamaan.
b) Keluarga yang acuh tak acuh terhadap pendidikan anak. Orang tua dari keluarga seperti ini tidak mendorong ataupun melarang terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan dan bersikap acuh terhadap sikap keagamaan anak-anak mereka.
c) Keluarga yang antipasti terhadap dampak dari keberadaan pendidikan agama di sekolah atau dari masyarakat sekitarnya. Orang tua dari keluarga seperti ini akan menghalangi dan menyikapinya dengan kebencian terhadap kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh anak mereka.
Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, tujuan terpenting dari pembentukan keluarga ialah sebagai berikut:
 Mendirikan syariat Allah dalam segala permasalan rumah tangga
 Mewujudkan ketentraman dan ketenanngan psikologis
 Mewujudkan Sunnah Rasulullah
 Memenuhi kebutuhan cinta-kasih anak
 Menjaga fitrah anak agar anak tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan.
Jadi keluarga adalah orang yang pertama bertanggung jawab terhadap perkembangan atau pendidikan anak yang sedang tumbuh. Hal tersebut sebagaimana yang telah ditulis dalam Al-Qur’an surat At Tahrim ayat 6, yaitu : hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
Jika para pendidik (orang tua) tidak bertanggung jawab atas perkembangan serta amanah dalam menjaga anak-anaknya, dan jeleknya pendidikan mereka dalam keluarga akan membawa atau sebab bagi seorang anak untuk melakukan penyimpangan. Diantara faktor-faktor dasar penyimpangan anak diantaranya sebagai berikut:
 Kefakiran yang menaungi sebagian rumah
 Perselisihan dan konflik antara ibu-bapak
 Perceraian dan implikasi kemiskinan
 Memanfaatkan waktu luang anak dan remaja
 Buruknya perlakuan orang tua terhadap anak
 Kelalaian orang tua terhadap pendidikan anak
2) Lingkungan Institusional
Lingkungan institusional yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan dapat berupa intitusi formal seperti sekolah maupun non formal seperti perkumpulan atau organisasi. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang melaksanakan pembinaan pendidikan dan pengajaran dengan sengajar, teratur dan terrencana. Dalam hubungan ini Zakiah Daradjat mengatakan, bahwasanya:
Lembaga pendidikan yang melaksanakan pembinaan pendidikan dan pengajaran dengan sengaja, teratur dan terencana adalah sekolah. Guru-guru yang melaksanakan tugas pembinaan, pendidikan dan pengajaran tersebut adalah orang-orang yang telah dibekali dengan pengetahuan tentang anak didik, dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas pendidikan. Guru masuk kedalam kelas, membawa seluruh unsur kepribadiannya, agamanya, akhlaknya, pemikirannya, sikap dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Penampilan guru, pakaiannya, cara berbicara, bergaul dan memperlakukan anak bahkan emosi dan keadaan jiwa yang dialaminya, ideology dan paham yang dianutnya terbawa tana sengaja ketika ia berhadapan dengan anak didiknya. Seluruhnya akan terserap oleh si anak tanpa di sadari oleh guru dan orang tua, bahkan anak sampai kagum dan sayang kepada gurunya.
3) Lingkungan Masyarakat
Dalam kehidupan, manusia tidak akan pernah terlepas dari orang lain, karena manusia adalah makhluk sosial yang didalamnya saling membutuhkan satu sama lain. Untuk itu, lingkunngan masyarakat merupakan salah satu faktor yang juga ikut mempengaruhi perkembangan sikap dan prilaku seseorang.
Masyarakat disini dapat diartikan sebagai komunitas yang amat heterogen dengan berbagai aspeknya. Di dalamnya terdapat kegiatan dalam bidang agama, sosial, ekonomi, politik, seni budaya, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Semuanya merupakan lingkungan yang dapat digunakan untuk kegiatan pendidikan.
Adapun lingkungan masyarakat yang dapat memberi pengaruh terhadap perkembangan sikap keagamaan anak dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu:
a) Lingkungan yang acuh tak acuh terhadap agama.
Lingkungan yang seperti ini biasanya tidak peduli terhadap segala aspek kegiatan yang bersifat keagamaan bagi masyarakatnya. Masyarakat seperti ini menganggap bahwasanya urusan agama merupakan tanggung jawab pribadi masing-masing.
b) Lingkungan yang berpegang teguh pada tradisi agama, tetapi tanpa dorongan batin.
Biasanya lingkungan seperti ini menghasilkan anak-anak beragama tanpa kritik, atau beragama secara kebetulan.
c) Lingkungan yang mempunyai tradisi agama dengan sadar dan hidup dalam lingkungan agama.
Suatu kehidupan masyarakat pada dasarnya dibatasi oleh berbagai norma dan nilai-nilai yang didukung oleh warganya. Oleh karena itu, setiap warga berusaha untuk menyesuaikan sikap dan tingkah lakunya sesuai dengan norma dan nilai yang ada dan tolong menolong dalam hal kebajikan. Seperti dalam firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah:2, yang artinya :”dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong menolong dalam hal berbuat dosa dan pelanggaran dan bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhanya Allah amat berat siksa-Nya”.
Walaupun kecenderungan beragama merupakan fitrah bagi setiap manusia, akan tetapi dalam pembentukan dan perubahannya ditentukan oleh faktor intern dan ekstern individu dan keduanya mempunyai kaitan satu sama lain dalam arti saling mempengaruhi.


BAB III
OBJEK DAN METODOLOGI PENELITIAN

A. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian yang kami lakukan disekitar masjid agung kota serang, alasan kami melakukan penelitian di daerah ini adalah karena masjid agung merupakan salah satu tempat Ibadah yang banyak dikunjungi masyarakat kota Serang, tempatnya yang strategis membuat anak-anak jalanan untuk mencari rezeki di sekitar masjid agung tersebut. Banyak anak-anak yang tinggal disekitar masjid agung bekerja sebagai tukang parkir, meminta-minta, pemulung bahkan menyemir sepatu. Kami mengambil contoh untuk penelitian ini yaitu anak yang bekerja sebagai semir sepatu. Adapun waktu penelitian dilakukan pada hari kamis tanggal 10 bulan April tahun 2014, sekitar pukul 14.00 WIB.
B. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data yaitu:
1. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah suatu metode pengumpulan data dengan mempergunakan dokumen baik tertulis maupun tidak tertulis. Dokumen ini dapat dipakai sumber utama (primer). Artinya data yang diperoleh dari sumber utama. Yaitu secara langsung mewawancarai orang yang bersangkutan yang akan kami jadikan sebagai bahan penelitian studi kasus.
2. Observasi
Observasi adalah suatu cara atau pengamatan secara mendalam terhadap obyek penelitian dan mencatat hal-hal yang dianggap penting dalam melaksanakan penyelidikan untuk memperoleh data dengan jalan pengamatan secara sistematis, penuh kesadaran, perhatian dan tekun terhadap gejala-gejala yang timbul dari objek yang diteliti. Metode ini digunakan untuk mempelajari tingkah laku atau aktivitas keagamaan.
Pada umumnya observasi adalah tindakan yang merupakan penafsiran dari teori, seperti yang dikemukakan oleh Karl Popper (Hopkins, 1993:77).
3. Wawancara
Menurut Denzin dalam Goetz dan LeCompte (1984) wawancara merupakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara verbal kepada orang-orang yang dianggap dapat memberikan informasi atau penjelasan hal-hal yang dipandang perlu.
Ada beberapa bentuk wawancara, antara lain wawancara terstruktur, wawancara setengah struktur, dan wawancara tidak terstruktur. Yang disebut wawancara terstruktur ialah apabila sebagai pewawancara sudah mempersiapkan bahan wawancara terlebih dahulu. Sedangkan dalam wawancara yang tidak terstruktur, prakarsa untuk memilih topik bahasan diambil oleh orang yang diwawancarai. Apabila wawancara sudah berlangsung, dapat mengarahkan agar yang diinterview menerangkan, mengelaborasi, atau mengklarifikasi jawaban yang kurang jelas. Wawancara yang semi terstruktur adalah bentuk wawancara yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu, akan tetapi memberikan keleluasaan untuk menerangkan agak panjang mungkin tidak langsung ke fokus pertanyaan/bahasan atau mungkin mengajukan topik bahasan sendiri selama wawancara berlangsung (Elliot,1991:80).
Kami mewawancarai narasumber dengan mempersiapkan terlebih dahulu bahan pertanyaan yang akan kami tanyakan kepada sumber tersebut, setelah itu kami tidak langsung menanyakan ke topic inti pembahasan, awalnya perkenalan terlebih dahulu, kemudian menanyakan latar belakang anak tersebut setelah itu baru menanyakan tentang topik dari pembahasan yang akan kami teliti.










BAB IV
DESKRIPSI HASIL PENELITIAN
A. BIOGRAFI
Penelitian yang kami lakukan dalam pembahasan ini adalah anak jalanan, yang dikatakan anak jalanan yaitu pengamen, pengemis, pedagang asongan, semir sepatu dan lain-lain. Dalam pembahasan ini, kami mengambil objek yaitu seorang anak yang menyemir sepatu.
Nama : Sukma Kurniawan
Tempat, tanggal lahir : Serang, 17 Desember 1998
Anak ke : Satu (pertama) dari 4 bersaudara
Status : Pelajar dan Penyemir sepatu
Kelas : VIII
Sekolah : SMPN 4 Kota Serang
Alamat :Link. Kantin Rt 02/04 kelurahan cimuncang, Serang
Nama Ibu : Kurniasih
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Nama Ayah : Sukardi
Pekerjaan : Supir pribadi dan Tukang Ojeg





B. DESKRIPSI
Berdasarkan wawancara yang telah kami lakukan kepada narasumber yang bernama Sukma Kuriniawan (SK), dia merupakan salah satu anak jalanan yang bekerja sebagai semir sepatu di sekitar masjid agung. Pria kelahiran serang, 17 Desember 1998 ini selain berperan sebagai penyemir sepatu, dia juga berperan sebagai seorang siswa di sekolah SMP Negeri 4 kota Serang didaerah sekitar rumahnya. Dia yang kini berusia 16 tahun duduk di bangku kelas 2, setelah lulus sekolah dasar pernah berhenti sekolah selama 2 tahun karena keterbatasan biaya. Ibunya bernama Kurniasih, dia hanya ibu rumah tangga yang menyiapkan segala kebutuhan keluarga, Bapaknya bernama Sukardi bekerja sebagai supir pribadi, selain sebagai supir pribadi beliau juga bekerja sebagai tukang ojeg. Sepulang dari bekerja sebagai supir pribadi, malam harinya beliau bekerja juga sebagai tukang ojeg sekitar pukul 11.00 WIB sampai jam 1 malam.
Sukma menjadi penyemir sepatu sejak usianya 5 tahun, dia malakukan pekerjaan itu bukan karena disuruh oleh orang tuanya tetapi karena kemauannya sendiri, dan juga mengikuti teman sebayanya. kesehariannya dia berangkat sekolah pada pukul 07.00 WIB dan pulang sekolah sekitar pukul 12.00 WIB. Setelah pulang sekolah dia berganti peran menjadi tukang semir sepatu. Dia menjadi penyemir sepatu dari sepulang sekolah hingga ba’da isya. Penghasilan dia mencapai Rp.15.000 sampai Rp. 20.000 ribu perhari, uang yang dia dapat setengahnya dia berikan untuk ibunya dan setengahnya lagi dia tabung untuk keperluan sekolah, misalnya buku atau kadang dia gunakan untuk jajan disekolah. Ketika libur sekolah tiba terkadang dia membantu ibunya membereskan rumah dan juga memasak didapur, walaupun dia laki-laki tapi dia menyadari bahwa adik-adiknya masih kecil dan tidak ada yang bisa membantu ibunya kecuali dia. “kasian ibu sendirian beres-beres rumah” katanya. Sukma adalah anak pertama dari empat bersaudara, dia memiliki adik yang masih kelas 3 SD dan yang dua lagi belum sekolah.
Setelah lama berbincang tentang latar belakangnya, kemudian kami menanyakan masalah tentang kesadaran beragamanya. Ternyata dengan kesibukannya sebagai pelajar dan penyemir sepatu, dia rajin melaksanakan kewajibannya sebagai umat Islam, yaitu Shalat. Dia tidak pernah ketinggalan shalat dzuhur, ashar, maghrib dan isya. Dengan wajah yang malu-malu dia berkata bahwa dia sering ketinggalan shalat shubuh, “saya jarang shalat shubuh karena bangunnya kesiangan kak”. Tetapi dia rajin mengaji, dia mengaji setelah selesai shalat. Ketika hari-hari besar Islam pun dia selalu ikut berpartisipasi mengikuti seperti mendengarkan ceramah, mengikuti acara maulud Nabi, dan lain sebagainya. Ketika bulan Ramadhan pun dia selalu berpuasa penuh.
Pada saat itu dibenak kami masih mengganjal pertanyaan, ketika dia bangun kesiangan dan tidak shalat shubuh mengapa orang tuanya tidak menyuruh dan membangunkan anaknya ketika adzan subuh berkumandang?. Dan ternyata dia mengaku bahwa orang tuanya tidak pernah menyuruh dia untuk mengerjakan shalat. Bisa dibilang kedua orang tuanya tidak terlalu memperhatikan tentang keberagamaan anaknya. Dia membiasakan dirinya untuk shalat karena kesadaran dirinya sendiri bukan karena di suruh oleh orang tuanya, awalnya dia terpengaruh orang lingkungan yang selalu membuat dia rajin beribadah serta berpuasa misalnya dari teman sebayanya dan dari lingkungan dimana tempat dia bekerja yaitu di masjid agung. Ilmu tentang pendidikan agamanya dia dapatkan dari mendengarkan ceramah, dari teman sebayanya serta dari guru di sekolahnya.
C. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Dari hasil penelitian kami, bahwa tidak semua anak jalanan yang menghabiskan waktunya di jalanan atau di luar rumah akan melupakan perannya sebagai seorang manusia yang beragama (menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya). Anak jalanan di identikan dengan seorang anak yang selalu melakukan hal-hal yang negatif. Tetapi penelitian yang kami lakukan membuktikan bahwa anak jalanan bukan hanya mencari uang dan melakukan hal-hal yang negatif. Sumber yang kami dapat, dia memiliki kesadaran beragama yang mungkin jarang dilakukan oleh anak jalanan lainnya.
Kesadaran dan pengalaman seorang anak sangat mempengaruhi anak tersebut dalam bersikap dan bertingkah laku.. Orang yang sudah tertanam pendidikan agama akan menjadi anak yang baik dan selalu bersikap positif, selalu semangat menjalani hari-harinya, tenang hatinya dan merasa tentram, tidak ada kegelisahan dan keresahan dalam hidupnya.
Faktor yang sangat mempengaruhi kesadaran beragama adalah faktor lingkungan, kebudayaan, pendidikan, kebiasaan dan agama. Penelitian yang kami dapatkan, keluarga dari sukma merupakan jenis lingkungan keluarga yang orang tuanya acuh tak acuh terhadap pendidikan agama anak, tidak mendorong ataupun melarang terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan dan bersikap acuh terhadap sikap keagamaan anak-anak mereka. Padahal keluarga merupakan faktor terpenting dalam pembinaan sikap keagamaan seorang anak. Tetapi sukma rajin shalat dan mengaji bukan karena faktor lingkungan keluarga, malainkan karena lingkungan sekolah yang membekalinya pendidikan agama yang kemudian timbullah kesadaran dirinya untuk mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, selain itu faktor dari lingkungan masyarakat dan kebiasaan-kebiasaan menjalankan shalat berjama’ah dengan teman-temannya, karena kebiasaan dan bertambahnya usia maka bertambah pula kesadaran dirinya dalam beribadah, dan juga sering mendengarkan ceramah dan mengikuti organisasi agama di sekolah.





BAB V
KESIMPULAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat di simpulkan bahwa pendidikan agama yang tertanam dalam diri seorang anak sangat memperngaruhi sikap dan kesadaran agama anak jalanan tersebut. Semakin memiliki bekal pendidikan agama, dia akan semakin melakukan hal-hal yang positif dalm kehidupan sehari-harinya, kemudian hatinya akan terasa tenang, tentram serta tidak ada kegelisahan ataupun kecemasan yang ada didalam dirinya.
Faktor yang mempengaruhi kesadaran beragama anak jalanan yaitu faktor lingkungan, kebiasaan, pendidikan, agama, serta kebudayaan. Walaupun faktor lingkungan keluarga sangat besar pengaruhnya tapi dalam penelitian ini, yang mempengaruhi kesadaran anak jalanan tersebut adalah faktor lingkungan masyarakat, kebiasaan serta pendidikan dari seorang guru di sekolah. Pendidikan agama yang didapat sangat mempengaruhi anak jalanan dalam beribadah, menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
Cara menumbuhkan kesadaran beragama anak jalanan tersebut yaitu dengan rutin mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang ada dalam masyarakat, seperti mendengarkan ceramah-ceramah, mengikuti pengajian yang diadakan di mushola tempat tinggalnya, memperingati hari-hari besar Islam, dan juga mengikuti kegiatan rohis disekolah secara rutin. Itu semua menumbuhkan kesadaran beragama anak jalanan.
B. SARAN
Harus dilakukan kerjasama antara semua pihak (keluarga, lembaga, dan masyarakat) dalam menanamkan pendidikan agama kepada anak jalanan guna membentuk pribadi yang sadar akan beraga,,a di dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai orang tua hendaknya mengawasi dan mendidik anak-anak mereka agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas yang dapat merusak budi pekerti mereka. Mengawasi dalam bergaul (dengan siapa anak tersebut bergaul), tontonan-tontonan televise yang tidak mendidik dan lain-lain.
Sebagai pemerintah dan tokoh masyarakat, hendaknya memberantas dengan tegas hal-hal yang dapat merusak moral anak bangsa seperti perjudian, narkoba, dan lain-lain. Yang nantinya akan berdampak negatif bagi pertumbuhan anak (khususnya anak jalanan) di masa yang akan datang.

Selasa, 25 Maret 2014

kakakku iraaa yang cantikkkk ;)

lirik ini khusus saya persembahkan untuk mysister yang sedang merantau disana "jakarta". lirik sheila on7 yang berjudul rani.. tapi ada yang di ubah liriknya biar seruuu :D
>

Beranjak dewasa kakakku Iraaaa tercinta
Sudah saatnya belajar berpijar
Tinggalkan Serang demi masa depan cipta
Sudah waktunya kau mulai terjaga

Beranjak melentik kakakku Iraaaa yang cantik
Jadikan masa depanmu menarikk
Ingat s'lalu pesan kedua orang tuamu
Jalani dengan hatimu yang tulus

Dan jangan takut, jangan layu
Pada semua cobaan yang menerpamu, jangan layu ....
Kami selalu bersamamu dalam derap
Dalam lelap mimpi indah bersamamuuuuuu

Padamkan sekejap warna-warni duniamu....Saat kau mulai kehilangan arahNya...nyalakan sekejap warna-warni duniamu....Saat berjalanmu kembali tegap...Mungkin semua ini 'kan cepat berakhir.....Semoga semua ini adalah Persinggahan sementara mimpimu... :)

ni lirik bener-bener menyentuh hatii... makin kangen sama dia....
sama diaa yang selalu curhat bareng,,, jalan-jalan bareng.... wah pokoknya banyak deh....
♥ I Miss You ♥

Senin, 24 Maret 2014

Setiap Anak adalah Juara

sebagai calon guru,kita dibekali banyak ilmu tentang mengajar. dari mulai pendekatan, metode, strategi,dan lain sebagainya.. pokoknya banyak deh. saya paling suka mata kuliah psikologi agama... I love psikologiiii..... :D
nah, dari psikologi itu seorang guru bisa tau karakteristik seorang anak.. dan dari psikologi juga kita tau bagaimana cara menghadapi sikap dan prilaku individu.
saya punya guru favorit di SD, SMP dan SMA. di SD saya paling suka sama pak ali,cara ngajarnya itu loh.. hmmm kena banget ke otakk, ke serap sampe hati pelajarannya #bahasanya lebay dikit :P ...kalau di SMP saya paling suka dan amat suka sama bu Oom, guru paling perfect menurut saya. beliau bukan cuma jadi guru.. tapi beliau juga sosok wanita yang menginspirasi, selalu mengingatkan muridnya untuk shalat tepat waktu,dan untuk tetap semangat dalam belajar,dan tak ketinggalan.. beliau juga mengingatkan untuk shalat dhuha... kata-kata itu masih sangat melekat di ingatan. :')... dan di SMA saya paling suka sama miss iin. beliau guru bahasa inggris yang sangat menginspirasi juga,cerita beliau dimasa lalu membuat saya termotivasi,beliau itu wanita yang tegar, yang semangat menjalani hidup dan beliau juga wanita muslimah yang lembut jika sedang berbicara.... mereka adalah guru yang sangat menginspirasi.
sekarang balik lagi ke psikologi agama, psikologi agama itu terdiri dari 2 kata yaitu:psikologi dan agama.
Pengertian psikologi menjadi tiga bagian yang pada prinsipnya saling berkaitan

-Psikologi adalah studi mengenai Ruh
-Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai kehidupan mental.
-psikologi adalah ilmu pengetahuan menganai perilaku organisme.

Secara definitive menurut harun nasution agama yaitu:

-Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi.
-pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia.
-mengikat dari ada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada diluar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan - perbuatan manusia.
-kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu
-suatu sistem tingkah laku ( ade of conduct ) yang berasal dari sesuatu kekuatan gaib.
-Pengakuan terhadap adanya kewajiban – kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan gaib
-Memuja terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat pada alam sekitar manusia.
-ajaran – ajaran yang diwahyukan tuhan kepada manusia melalui seorang rasul ( Harun Nasution)


Dari pengertian psikologi dan pengertian agama dapat disimpulkan bahwa Pengertian Psikologi Agama adalah ilmu yang mempelajari gejala – gejala kejiwaan manusia yang berkaitan dengan pikiran , perasaan dan kehendak yang bersifat abstrak yang menyangkut dengan masalah yang berhubungan dengan kehidupan batin ,manusia yang mempengaruhi perbuatan – perbuatan manusia dan menimbulkan cara hidup manusia atau ajaran – ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada Manusia melalui seorang rasul.

sudah jelas,ilmu agama sangat berperan dalam psikoligis seorang anak..
setiap anak itu mempunyai "POTENSI JUARA". tidak ada yang namanya "bodoh" yang ada hanya seorang anak yang belum bertemu dengan guru yang profesional. anak yang pintar diibaratkan seperti apel yang bagus yang didalamnya terdapat biji gambar bintang yang artinya "juara"sedangkan anak yang kurang pintar seperti apel yang busuk 'setengah'jika dibelah masih ada biji "bintang" nya yang harus dikembangkan.

Sabtu, 08 Maret 2014

Pengembangan Model-Model Pembelajaran Alternatif bagi Pendidikan Islam (Suatu Alternatif Solusi Permasalahan Pembelajaran Agama Islam)

Dalam mengkaji pendidikan agama Islam yang dapat meningkatkan kecerdasan kognitif, afektif dan psikomotorik peserta belajar, tidak dapat dilepaskan dengan unsur-unsur seperti: guru, siswa, kurikulum, lingkungan, serta model pembelajaran yang dipilih oleh guru. Aspek-aspek tersebut akan sangat menentukan hasil belajar yang diharapkan baik yang berupa dampak pengajaran maupun dampak penggiringnya.

Model pembelajaran merupakan suatu rencana mengajar yang memperhatikan pola pembelajaran tertentu. Model-model pembelajaran berkembang sesuai dengan perkembangan kebutuhan peserta didik. Guru yang profesional dituntut mampu pengembangkan model perbelajaran, baik teoritik maupun praktek, yang meliputi aspek-aspek, konsep, prinsip, dan teknik. Memilih model yang tepat merupakan persyaratan untuk membantu siswa dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Model pembelajaran berpengaruh secara langsung terhadap keberhasilan belajar siswa. Jika tenaga pengajar menggunakan model pembelajaran sebagai suatu strategi mengajar dalam pembelajaran, hendaknya memperhatikan lima aspek kunci dari pembelajaran yang efektif, yaitu: (1) kejelasan, (2) variasi, (3) orientasi tugas, (4) keterlibatan siswa dalam belajar, dan (5) pencapaian kesuksesan yang tinggi.


A. Pendahuluan
Era globalisasi mambawa dampak yang signifikan terhadap perubahan-perubahan tata nilai kehidupan masyarakat. Salah satu bentuk perubahan tata nilai tersebut seperti diungkapkan Naisbitt dan Aburdene dalam Megatrends 2000 adalah “lemahnya keyakinan keagamaan, sikap individualistis, materialistis dan hedonistis” (Rahmat, 1991: 71). Keadaaan ini berlawanan dengan ajaran Islam sekaligus tidak mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Kondisi objektif terlihat pada berbagai data hasil penelitian, seperti yang kemukakan oleh (Muhaimin 2002, Nurdin, 2002, Salamah, 2004) terungkap bahwa proses belajar mengajar PAI khususnya sekolah-sekolah menengah (SMA) belum dilaksanakan secara optimal, sehingga perannya sebagai mata pelajaran yang berorientasi pada pembentukan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT serta akhlak mulia belum dapat dicapai secara efektif. Beberapa hal yang menyebabkan rendahnya peranan dan efektifitas pendidikan agama Islam dalam membentuk peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia adalah:

1. Pendidikan agama Islam selama ini dilaksanakan menggunakan pendekatan pembelajaran yang kurang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
2. Materi pembelajaran PAI yang lebih banyak bersifat teori, terpisah-pisah, terisolasi atau kurang terkait dengan mata pelajaran lain dan bahkan antar sub mata pelajaran PAI itu sendiri, yakni antara unsur Alquran, Keimanan, Akhlak, Fiqih dan Sejarah Islam (Tarikh) yang disajikan sendiri-sendiri.
3. Model pembelajarannya bersifat konvensional yakni lebih menekankan pada pengayaan pengetahuan (kognitif pada tingkat yang rendah) dari pada pembentukan sikap (afektif) serta pembiasaan (psiko-motorik). Sehingga pendidikan agama Islam yang bertujuan untuk membentuk siswa yang memiliki pengetahuan tentang ajaran agama Islam serta mampu mengaplikasikan dalam bentuk akhlak mulia belum dapat digapai. (Salamah: Hasil Penelitian Tesis 2004).

Upaya untuk mengkaji kembali pelaksanaan pembelajaran PAI di lembaga pendidikan formal terutama, semakin mendesak apabila dikaitkan dengan kenyataan di lapangan yakni seperti; (1) adanya berbagai krisis kepercayaan, yang ditandai munculnya ketegangan, konflik di beberapa daerah. (2) Krisis akhlak yang tandai dengan semakin banyaknya kejahatan, baik berupa tindak kekerasan seperti; tawuran, penyalahgunaan narkona dan lain-lain yang selalu meningkat setiap tahunnya. (Isnia, U. Output Pendidikan Mengancam Masa Depan (Republika, Online 24 Juli 2002, tersedia: http://www.republika.co.id/cetak/html 2000).

Melalui pendidikan agama Islam yang diselenggarakan di sekolah dengan baik, diharapkan para siswa akan dapat menghindari sifat-sifat tercela tersebut. Peran pendidikan agama Islam diharapkan dapat mengatasi dampak negatif tersebut dengan menggunakan berbagai model dan strategi yang dapat menjawab tantangan tersebut. Dalam mengkaji pendidikan agama Islam yang dapat meningkatkan kecerdasan kognitif, afektif dan psikomotorik peserta belajar tidak dapat dilepaskan dengan unsur-unsur seperti: guru, siswa, kurikulum, lingkungan, serta model pembelajaran yang dipilih oleh guru. Aspek-aspek tersebut akan sangat menentukan hasil belajar yang diharapkan baik yang berupa dampak pengajaran maupun dampak penggiringnya. Aspek-aspek tersebut dapat dipetakan dalam bentuk bagan berikut ini:


Bagan 1. Aspek-aspek yang terlibat dalam pembelajaran bidang studi PAI untuk meningkatkan kecerdesan peserta didik

Upaya untuk mengoptimalkan aspek-aspek yang berpengaruh dalam pembela-jaran tersebut, salah satu cara yang dilakukan pemerintah adalah misalnya dengan melaksanalan pembaharuan kurikulukum, yang dikenal dengan kurikulum berbasis kompetensi. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas tahun 2002 mengungkapkan bahwa ciri-ciri kurikulum berbasis kompetensi adalah: (1) Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal; (2) berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman; (3) Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi; (4) Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi apa saja yang memenuhi unsur edukatif; (5) Penilaian yang menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. (Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. (Penge-mbangan Kompetensi Lintas Kurikulum. [Online] Tersedia: http://www.puskur.or.id/ kurikulum.shtml 2002).

Kebijakan tersebut memberikan peluang dan sekaligus tantangang bagi guru-guru PAI untuk lebih memutakhirkan pembelajarannya sesuai dengan tuntutan perkembangan. Pemikiran untuk mengembangkan dan menyegarkan model-model pembelajaran PAI yang tepat merupakan hal yang sangat urgen. Tulisan sederhana ini mencoba mengajukan beberapa model pembelajaran yang dapat dipertimbangkan untuk diujicobakan dan dikembangkan terutama pada lembaga-lembaga pendidikan formal.

B. Model-Model Pembelajaran yang dapat Meningkatkan Kecerdasan Kognitif, Afektif dan Psikomotorik

1. Pengertian Model Pembelajaran

Model pembelajaran merupakan suatu rencana mengajar yang memper-hatikan pola pembelajaran tertentu, hal ini sesuai dengan pendapat Briggs (1978:23) yang menjelaskan model adalah "seperangkat prosedur dan berurutan untuk mewujudkan suatu proses" dengan demikian model pembelajaran adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk melaksanakan proses pembelajaran.

Sedangkan yang dimaksud dengan pembelajaran pada hakekatnya merupakan proses komunikasi transaksional yang bersifat timbal balik, baik antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Komunikasi transaksional adalah bentuk komunikasi yang dapat diterima, dipahami dan disepakati oleh pihak-pihak yang terkait dalam proses pembelajaran sehingga menunjukkan adanya perolehan, penguasaan, hasil, proses atau fungsi belajar bagi si peserta belajar.

2. Jenis-Jenis Model Pembelajaran

Joyce (2000) mengemukakan ada empat rumpun model pembelajaran yakni; (1) rumpun model interaksi sosial, yang lebih berorientasi pada kemampuan memecahkan berbagai persoalan sosial kemasyarakat. (2) Model pemorosesan informasi, yakni rumpun pembelajaran yang lebih berorientasi pada pengusaan disiiplin ilmu. (3) Model pengembangan pribadi, rumpun model ini lebih berorientasi pada pengembangan kepribadian peserta belajar. Selanjutnya model (4) behaviorism Joyce (2000:28) yakni model yang berorientasi pada perubahan prilaku. Berdasarkan kajian yang penulis lakukan terhadap beberapa model pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran pendidikan agama Islam, diantaranya adalah: model classroom meeting, cooperative learning, integrated learning, constructive learning, inquiry learning, dan quantum learning. Pembahasan lebih lanjut terhadap model-model tersebut, disajikan pada bagian berikut ini.

a. Model Classroom Meeting

Ahli yang menyusun model ini adalah William Glasser. Menurut Glasser dalam Moejiono (1991/1992: 155) sekolah umumnya berhasil membina prilaku ilmiah, meskipun demikian adakalanya sekolah gagal membina kehangatan hubungan antar pribadi. Kehangatan hubungan pribadi bermanfaat bagi keberhasilan belajar, agar sekolah dapat membina kehangatan hubungan antar pribadi, maka dipersyaratkan; (a) guru memiliki rasa keterlibatan yang mendalam, (b) guru dan siswa harus berani menghadapi realitas, dan berani menolak prilaku yang tidak bertanggung jawab, dan (c) siswa mau belajar cara-cara berprilaku yang lebih baik. Agar siswa dapat membina kehangatan hubungan antara pribadi, guru perlu menggunakan strategi mengajar yang khusus. Karakteristik PAI salah satunya adalah untuk menghantarkan peserta didik agar memiliki kepribadian yang hangat, tegas dan santun. Model pembelajaran ini dapat dipertimbangkan.

Model pertemuan tatap muka adalah pola belajar mengajar yang dirancang untuk mengembangkan (1) pemahaman diri sendiri, dan (2) rasa tanggung jawab pada diri sendiri dan kelompok. Strategi mengajar model ini mendorong siswa belajar secara aktif. Kelemahan model ini terletak pada kedalaman dan keluasan pembahasan materi, karena lebih berorientasi pada proses, sedangkan PAI di samping menekankan pada proses tetapi juga menekankan pada penguasan materi, sehingga materi perlu dikaji secara mendalam agar dapat dipahami dan dihayati serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

b. Model Cooperative Learning

Era global bukan hanya menuntut kualitas kemampuan memecahkan masalah, tetapi juga menuntut kemampuan untuk bekerja sama. Untuk mengem-bangkan kemapuan bekerja sama dan memecahkan masalah dapat menggunakan model cooperative learning. Model ini dikembangakan salah satunya oleh Robert E. Slavin (Johnson, 1990). Model ini membagi siswa dalam kelompok-kelompok diskusi, di mana satu kelompok terdiri dari 4 atau 5 orang, masing-masing kelompok bertugas menyelesaikan/memecahkan suatu permasalahan yang dipilih.

Beberapa karakteristik pendekatan cooperative learning, antara lain:

1) Individual Accountability, yaitu; bahwa setiap individu di dalam kelompok mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh kelompok, sehingga keberhasilan kelompok sangat ditentu-kan oleh tanggung jawab setiap anggota.

2) Social Skills, meliputi seluruh hidup sosial, kepekaan sosial dan mendidik siswa untuk menumbuhkan pengekangan diri dan pengarahan diri demi kepentingan kelompok. Keterampilan ini mengajarkan siswa untuk belajar memberi dan menerima, mengambil dan menerima tanggung jawab, menghor-mati hak orang lain dan membentuk kesadaran sosial.

3) Positive Interdependence, adalah sifat yang menunjukkan saling keter-gantungan satu terhadap yang lain di dalam kelompok secara positif. Keberhasilan kelompok sangat ditentukan oleh peran serta anggota kelompok, karena siswa berkolaborasi bukan berkompetensi.

4) Group Processing, proses perolehan jawaban permasalahan dikerjakan oleh kelompok secara bersama-sama.

Langkah-langkahnya:

1) Guru merancang pembelajaran, mempertimbangkan dan menetapkan target pembelajaran yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Guru juga menetapkan sikap dan keterampilan-keterampilan sosial yang diharapkan dapat dikembangkan dan diperlihatkan oleh siswa selama berlangsungnya pembelajaran. Guru dalam merancang materi tugas-tugas yang dikerjakan bersama-sama dalam dimensi kerja kelompok.

2) Dalam aplikasi pembelajaran di kelas, guru merancang lembar observasi kegiatan dalam belajar secara bersama-sama dalam kelompok kecil. Dalam menyampaikan materi, pemahaman dan pendalamannya akan dilakukan siswa ketika belajar secara bersama-sama dalam kelompok. Pemahaman dan konsepsi guru terhadap siswa secara individu sangat menentukan kebersamaan dari kelompok yang terbentuk.

3) Dalam melakukan observasi kegiatan siswa, guru mengarahkan dan membimbing siswa baik secara individual maupun kelompok, dalam pemahaman materi maupun mengenai sikap dan perilaku siswa selama kegiatan belajar.

4) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil kerjanya. Guru juga memberikan beberapa penekanan terhadap nilai, sikap, dan perilaku sosial yang harus dikembangkan dan dilatihkan kepada para siswa.

c. Model Integrated Learning

Hakikat model pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik. Pembelajaran terpadu akan terjadi apabila peristiwa-peristiwa otentik atau eksplorasi topik/tema menjadi pengendali di dalam kegiatan belajar sekaligus proses dan isi berbagai disiplin ilmu/mata pelajaran/pokok bahasan secara serempak dibahas. Konsep tersebut sesuai dengan beberapa tokoh yang mengemukakan tentang model pembelajaran terpadu seperti berikut ini:

Rancangan pembelajaran terpadu secara eksplisit merumuskan tujuan pembelajaran. Dampak dari tujuan pengajaran dan pengiringnya secara langsung dapat terlihat dalam rumusan tujuan tersebut. Pada dampak penggiring umumnya, akan membuahkan perubahan dalam perkembangan sikap dan kemampuan berfikir logis, kreatif, prediktif, imajinatif. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996/1997: 3)

Pembelajaran terpadu salah satu diantara maksudnya juga adalah memadukan pokok bahasan atau sub pokok bahasan antar bidang studi, atau yang disebut juga lintas kurikulum, atau lintas bidang studi (Maryanto, 1994:3), atau interdiciplinerary programe (Curriculum Services Branch Tasmania, 1994:2). Tyler (Oliva, 1992:517) mengemukakan “…integration as the horizontal relationship of curriculum experiences” dan manfaat keterpaduan menurut Taba (Oliva, 1992: 517) “…learning is more effective when facts and principles from one field can related to another, especially when applying this knowledge…”. Pembelajaran akan lebih efektif apabila guru dapat menghubungkan atau mengintegrasikan antara pelaksanaan pembelajaran di sekolah dengan temuan di lapangan. Oleh karena itu tugas guru menurut Oliva (1992:517) adalah “Curriculum workers should concern themselves with the problem of integrating subject matter”.

Ciri-ciri pembelajaran terpadu:

1) Holistik, suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam dalam pembelajaran terpadu dikaji dari beberapa bidang studi/pokok bahasan sekaligus untuk memahami fenomena dari segala sisi.

2) Bermakna, keterkaitan antara konsep-konsep lain akan menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari dan diharapkan siswa mampu menerapkan perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata di dalam kehidupannya.

3) Aktif, pembelajaran terpadu dikembangkan melalui pendekatan diskoveri inkuiri. Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, yang tidak secara langsung dapat memotivasi siswa untuk belajar.

Prinsip untuk menggali tema:

1) Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan untuk memadukan banyak bidang studi/pokok bahasan.

2) Tema harus sesuai dengan tingkat perkembangan psikologi pembelajar

3) Tema dipilih juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar

4) Tema harus bermakna artinya yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya.

Evaluasi yang menggunakan tes bentuk formal dimaksudkan untuk menentukan sejauhman siswa telah menghafal suatu fakta. Pembelajaran yang efektif sebaiknya menekankan pemhaman konsep dan kemampuan di bidang kognitif, keterampilan, sosial dan afektif. Beberapa alternatif evaluasi pembelajaran terpadu antara lain:

1) Sebaiknya berbasis unjuk kerja sehingga selain memanfaatkan penilaian produk, penilaian terhadap proses, perlu mendapat perhatian yang lebih besar.

2) Setiap langkah evaluasi hendaknya siswa dilibatkan

3) Eavaluasi dilakukan secara terus menerus, oleh karena itu hendaknya dimanfaatkan portofolio assessment.

4) Penilaian pembelajaran terpadu hendaknya memandang siswa sebagai satu kesatuan yang utuh.

5) Evaluasi hendaknya bersifat komprehensif dan sistematis.

d. Model Constructivist Learning

Model konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui pengetahuan diri (self-regulation). Dan akhirnya proses belajar, pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya (Bell, 1993:24, Driver & Leach, 1993:104).

Konflik kognitif tersebut terjadi saat interaksi antara konsepsi awal yang telah dimiliki siswa dengan fenomena baru yang dapat diintegrasikan begitu saja, sehingga diperlukan perubahan/modifikasi struktur kognitif untuk mecapai kesimbangan. Peristiwa ini akan terjadi secara berkelanjutan selama siswa menerima pengetahuan baru.

Perolehan pengetahuan siswa diawali dengan diadopsinya hal yang baru sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Kemudian hal baru tersebut dibandingkan dengan konsepsi awal yang telah dimiliki sebelumnya. Jika hal baru tersebut tidak sesuai dengan konsep awal siswa, maka akan terjadi konflik kognitif yang mengakibatkan adanya ketidakseimbangan dalam struktur kognisinya. Melalui proses akomodasi dalam kegiatan pembelajaran, siswa dapat memodifikasi struktur kognisinya menuju kesimbangan sehingga terjadi asimilasi. Namun tidak menutup kemungkinan siswa mengalami "jalan buntu" (tidak mengerti) karena ketidak- mampuan berakomodasi. Pada kondisi ini diperlukan alternatif strategi lain.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam merancang model pembelajaran konstruktivisme adalah:
1) Mengakui adanya konsep awal yang dimiliki siswa melalui pengalaman sebelumnya.
2) Menekankan pada kemampuan minds-on dan hands-on
3) Mengakui bahwa dalam proses pembelajaran terjadi perubahan konsep-tual
4) Mengakui bahwa pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif
5) Mengutamakan terjadikan interaksi sosial

Tahapan model pembelajaran ini, meliputi:

Alur Model Pembelajaran Konstruktivisme

Tahap pertama, siswa didorong agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang akan dibahas. Bila perlu guru memancing dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan problematik tentang fenomena yang seri ditemui sehari-hari dengan mengkaitkan konsep yang akan dibahas. Siswa diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan, mengilustrasikan pema-hamannya tentang konsep itu.

Tahap kedua, siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemu-kan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, dan penginter-pretasian data dalam suatu kegiatan yang telah dirancang guru. Secara berke-lompok didiskusikan dengan kelompok lain. Secara keseluruhan, tahap ini akan memenuhi rasa keingintahuan siswa tentang fenomena alam disekelilingnya.

Tahap ketiga, siswa memberikan penjelasan dan solusi yang didasarkan pada hasil observasinya ditambah dengan penguatan guru, maka siswa membangun pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari. Hal ini menjadikan siswa tidak ragu-ragu lagi tentang konsepnya.

Tahap keempat, guru berusaha menciptakan iklim pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengaplikasikan pemahaman konseptualnya, baik melalui kegiatan atau pemunculan dan pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan isu-isu di lingkungannya.

e. Model Inquiry Learning

Model inkuiri dapat dilakukan melalui tujuh langkah yaitu: (a) merumuskan masalah, (b) merumuskan hipotesis, (c) mendefinisikan istilah (konseptualisasi), (d) mengumpulkan data, (e) penyajian dan analisis data, (f) menguji hipotesis, (g) memulai inkuiri baru. James Bank (dalam Suniti, 2001: 58) Selain dari pendapat para ahli di atas mengenai langkah-langkah model inkuiri social, Joyce mengemukakan bahwa langkah-langkah penerapan inkuiri pada pokoknya adalah (a) orientasi, (b) hipotesis, (c) definisi, (d) eksplorasi, (e) pembuktian, (f) generalisasi. (Joyce, 2000: 110)

Pendapat Joyce mengenai langkah-langkah inkuiri sosial tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tahap pertama
Menetapkan masalah sebagai pokok bahasan yang dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan dan dibatasi dalam ruang lingkup yang tidak luas

Tahap kedua
Mencari beberapa hipotesis dan merumuskan hipotesis yang diajukan sebagai acuan dalam inkuiri, serta yang dapat diujikan

Tahap ketiga: Definisi
Ekspremen, Menjelaskan dan menguraikan istilah-istilah yang ada dalam rumusan hipotesis

Tahap keempat Eksplorasi
Menguji hipotisis dengan logika deduksi,yaitu
menghubungkan hipotesis

Tahap ke lima: Pembuktian
Membuktikan hipotesis dengan fakta-fakta

Tahap keenam:
Generalisasi Menyatakan pemecahan yang dapat digunakan

f. Model Quantum Learning

Quantum Learning merupakan pengubahan berbagai interaksi yang ada pada momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar yang efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. (De Potter, 1999:5) Dari kutipan tersebut diperoleh pengertian bahwa pembelajaran quantum merupakan upaya pengorgani-sasian bermacam-macam interaksi yang ada di sekitar momen belajar.

Pembelajaran dikiaskan sebagai suatu simfoni yang terdiri dari berbagai alat musik sebagai unsurnya dan guru merupakan kunduktor sebuah simfoni. Guru berusaha mengubah semua unsur itu menjadi simfoni yang indah bagi semua orang di kelasnya.

Asas utama Pembelajaran Quantum adalah “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”. Dari asas tersebut tersirat bahwa untuk melaksanakan suatu pembelajaran diperlukan pemahaman yang cukup tentang audience kita. Dengan begitu akan memudahkan semua proses pembelajaran itu sendiri. Pemahaman itu amat penting karena setiap manusia memiliki dinamikanya sendiri. Dan siswa sebagai manusia telah dibakali dengan berbagai potensi untuk berkembang.

Prinsip-Prinsip pembelajaran Quantum:

1) Segalanya berbicara. Segala seuatu yang ada di lingkungan kelas sampai body language dapat digunakan untuk pembelajaran. Mulai dari kertas yang dibagikan kepada siswa hingga rancangan pelajaran dapat digunakan untuk mengirim pesan belajar.

2) Segalanya bertujuan. Semua yang terjadi di kelas atau dalam proses pengubahan, memiliki tujuan.

3) Pengalaman sebelum pemberian nama. Otak manusia berkembang karena adanya rangsangan yang kompleks, yang mendorong rasa ingin tahu. Pembelajaran yang baik adalah yang diawali rasa ingin tahu, dimana anak memperoleh informasi tentang sesuatu sebelum mengetahui namanya.

4) Akui setiap saat. Pembelajaran merupakan proses yang mengandung resiko karena mempelajari seuatu yang baru, biasanya tidak nyaman dan ketika mereka mulai langkah untuk belajar, mereka harus dihargai.

5) Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan (diselenggarakan). Perayaan adalah sarapan pelajar juara. Dari prinsip ini tersirat bahwa kecerian para siswa sejak awal masuk kelas dapat mendorong kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar.

Sebagai sebuah simfoni, pembelajaran quantum memiliki banyak unsur yang menjadi faktor pengalaman belajar. Unsur itu dibagi menjadi dua kategori yaitu Konteks dan Isi.

Konteks merupakan latar untuk pengalaman diantaranya lingkungan yang berisi keakraban, suasana yang mencerminkan semangat guru dan murid, Landasan yaitu keseimbangan kerjasama antara alat pelajaran dan siswa, Rancangan yaitu interpretasi guru terhadap pelajaran.

Bagian Isi merupakan bagian yang tak kalah penting dengan bagian konteks. Pada bagian Isi ini materi pelajaran merupakan not-not lagu yang harus dimainkan. Salah satu unsur dalam bagian isi ini adalah bagaimana tiap tahap musik itu dimainkan atau bagaimana pelajaran disajikan (penyajian). Isi juga meliputi keterampilan guru sebagai sang maestro untuk memfasilitasi pembelajaran dengan memanfaatkan bakat dan potensi setiap siswa. Keajaiban pengalaman akan terbuka bila konteksnya tepat.


Kerangka Rancangan Pembelajaran Quantum

Dengan dasar prinsip-prinsip di atas maka dapatlah disusun kerangka rancangan Pembelajaran Quantum sebagai berikut:
1) Tumbuhkan minat dengan selalu mengarahkan siswa terhadap pemahaman tentang apa manfaat setiap pelajaran bagi diri siswa dan Manfaatkan kehidupan siswa, atau “Apakah manfaatnya Bagiku” (AMBAK).
2) Alami: Buatlah pengalaman umum yang dapat di mengerti oleh semua siswa.
3) Namai: Guru harus menyediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi sebagai masukan.
4) Demonstrasikan: Sebaiknya guru menyediakan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan apa yang mereka sudah ketahui.
5) Ulangi: Guru harus menunjukkan cara mengulangi materi dan menegas-kan ”Aku Tahu Bahwa Aku Memang Tahu”.
6) Rayakan: Guru harus memberikan pengakuan terhadap setiap penyele-saian, partisipasi dan pemerolehan keterampilan dan pengetahuan siswa.

Landasan Psikologis Pembelajaran Quantum.

Pembelajaran Quantum merupakan pembelajaran yang berfokus kepada siswa (student centre). Hal ini terlihat dari prinsip utamanya dan prinsip lainnya yang berdasar kepada landasan–landasan psikologis dan sistem kerja otak seperti dijelaskan oleh Meisenzahl (2003): “Quantum learning is a teaching methodology based on 20 years of research about how the brain works”. Landasan psikologis yang melatarbelakangi pembelajaran quantum adalah sebagai berikut:

1) Metode Sugestiologi

Quantum Teaching pada dasarnya bertumpu kepada Quantum Learning yang dikembangkan dari pemikiran “suggetiology” yang dikemukakan oleh Lozanov dalam De Potter dan Hernacky (1999:14) berprinsip bahwa: “Sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apapun dapat memberikan sugesti positif atau negatif”. Metode sugestiologi yang dikenal sebagai “accelerated learning” menunjukan bahwa pengaruh guru sangat besar dan jelas terhadap keberhasilan siswa. Sugesti memiliki kekuatan yang sangat besar dan mendalam. Sugesti sering digunakan dalam periklanan dengan bahasa verbal dan tubuh. Meskipun tidak secara sadar kita mengingat sugesti, otak akan berperan sebagai sponsor yang menyerap informasi lebih cepat dari yang kita bayangkan. Berdasarkan pemikiran tersebut hampir dapat dipastikan bahwa setiap detail belajar sangat berarti, mulai dari nada suara, penggunaan musik, pengaturan kursi sampai lingkungan belajar.

2) Psikologi daya

De Potter dalam Nggermantos (2001) berpendapat “Setiap orang memiliki potensi otak yang sama besar dengan Einstain, tinggal bagaima-na kita mengolahnya”. Selanjutnya bila seseorang dapat mengenali tipe belajarnya yang sesuai maka belajar akan terasa sangat menyenangkan dan memberikan hasil yang optimal. Lebih jauh Diamon dalam De Potter (1999) mempertegas pendapat tersebut, dengan menyimpulkan bahwa “Pada umur berapapun sejak lahir sampai mati ada kemungkinan dapat meningkatkan kemampuan mental melalui rangsangan lingkungan”.

Berbagai penjelasan di atas dapat diketahui betapa pentingnya lingkungan belajar sebagai pemberi stimulus. Lingkungan memberikan konstribusi sangat besar terhadap hasil belajar setiap orang di setiap usia. Stimulus yang diberikan lingkungan sangat menentukan perkembangan dan kemajuan yang dicapai. Besarnya pengaruh stimulus terhadap perkembangan seseorang, didukung Pendapat Pulos yang menyatakan: “Certain types of stimulations not only change the chemistry of brain but can actually increase brain cells and brain size and dramatically boost intelligence”. Dari pendapat itu jelas bahwa semakin banyak rangsangan terhadap otak dengan aktifitas yang sesuai semakin banyak jaringan sel yang tersambung dan potensi atau kemampuan seseorang akan semakin berkembang.

Perkembangan dapat terjadi karena otak kita berbicara dalam 4 bahasa elektrik yang menggambarkan tingkat kesadaran, metoda mem-proses dan mempelajari informasi baru. Menurut Pulos empat jenis bahasa elektrik tersebut adalah gelombang Beta yang bergerak dengan kecepatan 13-100 Hz pada saat terjaga dan konsentrasi, gelombang Alpa 8-12 Hz dalam keadaan pasif atau tenang secara pisik, gelombang Theta 4-8 Hz pada saat mimpi yang tak diharapkan atau bayangan masa kecil, gelombang Delta 0,5 - 4 Hz dalam keadaan tidur yang merupakan dasar paling dalam kesadaran.

Aktifitas yang paling cepat dari gelombang otak adalah pada saat gelombang Beta bergerak ketika mata berinteraksi dengan dunia luar, dalam keadaan waspada dan berkonsentrasi. Hal tersebut sangat diperlukan demi efektifitas belajar. Perkembangan potensi manusia Menurut Zohar dalam Vella (2003) dapat terjadi karena didalam otak terdapat energy (quanta) yang dapat digunakan untuk berpikir dengan mengaktifkan semua bagian otak. “We can do quantum thinking by using a neural network of networks, the whole brain, creatively projecting, predicting, describing, envisioning, inventing”. Dengan mengaktifkan semua bagian jaringan saraf pada semua bagian otak, berpikir quantum dapat dilakukan. Aktifitas berpikir quantum seperti proyeksi kreatif, menebak, menjelaskan, membayangkan, menemukan dapat menjadi alat pemicu perkembangan kemampuan dan potensi setiap orang.

3) Modalitas belajar

Otak manusia terdiri dari tiga bagian yang merupakan modalitas untuk memproses rangsangan yang datang dari luar. Modalitas tersebut adalah visual, auditorial, kinestic yang merupakan saluran komunikasi yang membantu memahami dunia luar. Menghadirkan kegiatan yang co-cok dengan modalitas akan memperkuat penerimaan siswa. Lebih jauh menurut Pulos dengan mengaktifkan semua bagian otak melalui pende-katan Stimulation Multysensory pada proses belajar, siswa akan lebih terfokus dan berhasil dibanding dengan pendekatan Passive-Receptive pada setting kelas pada umumnya.

Penjelasan di atas menunjukkan betapa pentingnya mengenali per-bedaan gaya belajar siswa dan menyesuaikan pembelajaran dengan mo-dalitas siswa meskipun cukup sulit untuk melakukannya. Hal penting yang dapat dijadikan pegangan dalam menyesuaikan pembelajaran dengan per-bedaan modalitas siswa adalah bahwa setiap orang berkemampuan untuk belajar dan mereka belajar dengan cara yang berbeda (Meisenzahl, 2003)

4) Multi Intelegence

Mitos bahwa intelegensi manusia tidak berubah ternyata dibuktikan salah oleh Gardner dari Harvard setelah melakukan riset tentang kecer-dasan manusia. Ia menyatakan bahwa IQ hanyalah salah satu kecerdasan manusia karena manusia memiliki multi intelegensi sebagai potensi yang sangat besar. Potensi itu terdiri dari kecerdasan logis-matematis, kecerda-san linguistik, verbal, kecerdasan kinestik, kecerdasan emosional (inter-personal dan intrapersonal), kecerdasan naturalist, kecerdasan intuisi, kecerdasan moral, kecerdasan eksistensial, kecerdasan spiritual. Dapat dibayangkan begitu banyaknya potensi yang terkandung pada diri siswa namun betapa tidak mudahnya untuk mengenalinya, apalagi mengguna-kannya untuk mengakses keberhasilan mereka di dalam kelas. Namun dalam pendekatan quantum semua potensi itu harus digunakan seperti menurut Zohar dalam Vella (2003): “Quantum learning is that which uses all of the neural networks in the brain, putting things together in idiosyncratic and personal ways to make significant meaning”. Dalam upaya menggunakan semua potensi itu haruslah berpegang kepada prinsip seperti menurut Meisenzahl (2003) sebagai berikut:
- Setiap orang berkemampuan untuk belajar.
- Setiap orang belajar dengan cara yang berbeda.
- Keyakinan sangat penting bagi keberhasilan seseorang.
- Penghargaan dan perhatian bagi tiap individu adalah penting.
- Belajar akan lebih effektif bila disajikan dalam keceriaan dan ling-kungan yang menantang.
- Rasa aman dan percaya antara guru dan siswa merupakan bagian proses belajar yang penting.
- Guru harus menunjukan semagat dan antusiasme untuk belajar.

Quantum Learning dimulai dari Super Camp, sebuah program akselerasi belajar yang memperkenalkan tiga keterampilan dasar, yakni keterampilan akademis, prestasi fisik, dan keterampilan hidup. Menurut penlitian, hasilnya demikian impresif. Setelah mengikuti kegiatan ini, motivasi belajar siswa meningkat, dan keterampilan belajar pun berkembang.

C. Aspek-aspek kunci dari Model Pembelajaran yang Efektif

Implementasi dari berbagai model yang dikemukkan di atas, setpdaknya harus memperhatikan minimal lima aspek dari pembelajaran yang secara konsisten didukung riset, baik dalam penelitian-penelitian langsung maupun hasil-hasil penelitian yang direviu, sebagai indikator pembelajaran yang efektif. Kelima aspek tersebut adalah kejelasan, variasi, orientasi tugas, keterlibatan siswa dalam belajar, dan pencapaian kesuksesan yang tinggi. Penjelasan singkat akan disajikan pada tiap indikator pembelajaran efektivitas untuk membantu guru/tenaga kependidikan mengetahui bagaimana melaksanakannya ke dalam pembelajaran di kelas.

1. Kejelasan (Clarity).

Seorang guru yang ingin menyajikan informasinya secara jelas berarti dia harus menyajikan informasi tersebut dengan cara-cara yang dapat membuat siswa mudah memahaminya. Dalam literatur riset ada dua pendekatan berbeda yang dapat digunakan untuk mengkaji kejelasan guru. Pendekatan yang pertama menguraikan kejelasan dalam kaitan dengan penyajian informasi oleh guru bahwa apa yang dilakukan guru dapat mempermudah pemahaman siswa. Pendekatan ini sering mengacu pada kejelasan kognitif, dan agar jelas secara kognitif, anda harus:
• menjelaskan kepada siswa apa yang mereka mau pelajari atau lakukan
• menyajikan isi pelajaran dalam suatu urutan logis
• menyajikan isi pelajaran ke suatu langkah yang pantas
• memberi penjelasan yang dapat dipahami siswa
• menggunakan contoh yang sesuai ketika menjelaskan
• menekankan poin-poin penting
• menjelaskan kembali berbagai hal jika para siswa masih mengalami ke-bingungan
• menjelaskan makna dari kata-kata baru
• memberikan waktu kepada siswa untuk memikirkan informasi baru
• menjawab pertanyaan siswa dengan memuaskan
• bertanya ke siswa untuk memeriksa pemahamannya
• memberi ringkasan yang cukup dari poin-poin utama isi pelajaran itu.

Pendekatan kedua menguraikan kejelasan dalam kaitan dengan berbagai hal yang dikatakan guru kepada siswanya. Umumnya riset memusatkan pada berbagai hal di mana pesan yang disampaikan guru belum jelas (seperti penggunaan ungkapan samar-samar seperti "banyak", atau menggunakan kalimat tidak sempurna). Tidaklah mengejutkan, aspek kejelasan ini sering dipacu sebagai kejelasan verbal atau samar-samar.

Walaupun Land, 1987 (dalam Killen, 1998) mempertimbangkan kedua-duanya: ketidakjelasan dan kejelasan: menjadi aspek variabel umum yang sama. Cruickshank dan Kennedy, 1986 (dalam Killen, 1998) menyatakan bahwa kedua hal itu adalah gejala yang sungguh beda. Mungkin ada baiknya kalau pembicaraan yang jelas dan samar-samar menjadi bagian penting dari perilaku guru, diacu sebagai kejelasan kognitif. Ini bisa dipertimbangkan bahwa jika anda memberi siswa penjelasan yang jelas mengenai sesuatu, anda perlu menggunakan pola bahasa dan ungkapan yang tidak membingungkan mereka. Ada sejumlah usul dalam literatur riset bahwa hubungan antara kejelasan kognitif dan prestasi siswa adalah lebih kuat ketimbang hubungan antara kejelasan verbal dengan prestasi siswa (Hines, 1981; dalam Killen, 1998). Bagaimanapun, sumber pustaka riset belum menyediakan, dan kejelasan kognitif, meskipun ada riset terbaru di area inii sebenarnya telah cukup memberikan cukup bukti.

Kejelasan presentasi telah ditunjukkan untuk secara positif mempengaruhi prestasi siswa (Land, 1981; Hines, Cruickshank& Kennedy, 1985; dalam Killen, 1998) dan kepuasan siswa atas pembelajaran mereka. Kejelasan presentasi itu merupakan suatu aspek dari pembelajaran yang dapat diperbaiki dengan cara yang relatif mudah dan merupakan salah satu cara di mana umpan balik dari para siswa dapat diperoleh dengan mudah; teknik untuk melakukan ini diuraikan Killen ( 1998).

2. Variasi (Variety).

Variasi guru, atau variabilitas, merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan perubahan–perubahan yang sengaja dibuat guru saat menyajikan materi pelajaran. Variasi guru meliputi hal-hal seperti:
• Merencanakan berbagai variasi metode mengajar
• Menggunakan berbagai strategi bertanya
• Memberikan reinforcement dengan berbagai cara
• Membawa aktivitas belajar siswa
• Menggunakan berbagai tipe media pembelajaran.

3. Orientasi Tugas (Task Orientation).

Karakteristik utama dari pembelajaran langsung adalah pengorganisasian dan penstrukturan lingkungan belajar secara baik di dalam aktivitas guru dan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran, di mana guru dan siswa bekerja dalam bingkai yang sistematik. Orientasi tugas yang dilakukan guru terkait dengan:
• Membantu siswa untuk mencapai hasil belajar yang spesifik.
• Memungkinkan siswa untuk belajar mengenal informasi yang relevan
• Mengajukan pertanyaan untuk membuka pemikiran siswa
• mendorong siswa untuk berpikir dengan bebas, dan
• keberhasilan tujuan kognitif siswa.

Dalam keadaan ini, interaksi kelas cenderung berfokus pada isi yang bersifat intelektual dan tujuan yang sudah dikenalkan – merupakan faktor yang Rosenshine, 1983, dan Spady, 1994 (dalam Killen, 1998) sebut pemberian peluang kepada siswa untuk berhasil.

Orientasi keberhasilan tugas pada dasarnya persoalan manajemen kelas. Orientasi keberhasilan tugas ini menghendaki guru memonitor aktivitas para siswa secara terus menerus, dan mendorong siswa untuk terlibat secara konstruktif dalam perumusan tujuan pembelajaran. Orintasi tugas dapat dipandang sebagai gambaran kunci dari pembelajaran langsung (Powell, 1978, dalam Killen, 1998) karena orientasi tugas menekanan pada penentuan sasaran belajar yang jelas, pem-belajaran aktif, menutup monitoring kemajuan siswa, dan tanggung jawab guru terhadap belajar siswa.

Walaupun orientasi tugas di mana guru memberikan kesempatan kepada para siswa untuk belajar, tidak menjamin bahwa siswa akan benar-benar disibukkan dengan pelajaran selama pelajaran berlangsung. Baik Berliner, 1979 dan Fisheret al.., 1980 (dalam Killen, 1998) melaporkan bahwa ketiadaan keterlibatan siswa dengan pelajaran (atau pelepasan dari ikatan pelajaran selama pelajaran berlangsung) dapat menjadi hasil yang emosional atau gangguan mental dari suatu pelajaran, dan mungkin atau tidak mungkin menjadi jelas bagi guru.

4. Keterlibatan siswa dalam Pembelajaran (Engagement in learning).

Pentingnya keterlibatan siswa dalam belajar diilustrasikan secara baik dalam reviu yang dilakukan Brophy dan Good (1986, dalam Killen, 1998). Mereka mengusulkan untuk menolak semua temuan-temuan dalam reviu riset mereka mengenai perilaku guru dan prestasi siswa yang ada di mana keberhasilan belajar dipengaruhi oleh sejumlah waktu yang dihabiskan siswa untuk mengerjakan tugas akademik yang sesuai. Kesimpulan ini mendukung temuan Stallings dan Mohlman 1981 (dalam Killen, 1998) di mana guru yang efektif menggunakan waktu mereka dengan cara yang berbeda dari guru yang tidak efektip. Dalam studi itu, guru efektif menghabiskan kurang dari 15% lebih waktu di dalam interaksi pembelajaran dan 35% lebih sedikit waktu yang dihabiskan untuk memonitoring kegiatan-kegiatan siswa dibanding guru yang tidak efektip. Salah satu dari kesimpulan yang dapat ditarik melalui Stallings dan Mohlman adalah bahwa penggunaan waktu yang sesuai oleh guru dapat memaksimalkan waktu siswa untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran dan, oleh karena itu, berkontribusi pada keberhasilan siswa.

Sejumlah teknik untuk meminimalkan keterlibatan siswa juga memiliki dukungan riset. Sebagai contoh, Brophy Dan Evertson, 1974 (dalam Killen, 1998) menunjukkan bahwa mengajar merupakan sistem kelas yang aturannya memun-gkinkan para siswa untuk mengindahkan berbagai hal mengenai persoalan pribadi dan prosedural tanpa butuh izin guru, untuk selanjutnya mendorong siswa tetap terlibat semaksimal mungkin dalam menggunakan waktu belajarnya. Senada dengan itu, Soar & Soar, 1973 (dalam Killen, 1998) menyatakan bahwa para guru semestinya menggunakan teknik seperti penulisan rencana kerja sehari-hari pada papan tulis, agar para siswa tahu mengenai apa yang harus diperbuat tanpa arahan lisan secara reguler dari guru. Untuk memelihara keterlibatan, adalah penting bagi guru untuk memonitor tempat duduk siswa agar bekerja dengan bebas, dan untuk mengkomunikasikan kepada siswa akan kemajuan mereka (Mcdonald et al..., 1975, dalam Killen, 1998). Tentu saja, ada ketentuan dasar sederhana: jika guru mau siswanya memperhatikan dan terlibat dalam pelajaran, guru harus menjelaskan kepada mereka apa yang guru harapkan dari mereka untuk dilakukan dan guru harus membuatnya mudah dan menarik bagi siswanya untuk melakukannya. Jika para siswa tahu apa yang menjadi tujuannya, dan jika mereka tahu bahwa tujuan itu bermanfaat serta dapat dicapai, maka mereka akan terlibat dalam pelajaran.

Jika siswa terlibat dalam tugas-tugas pembelajaran, seperti pemecahan masalah, maka dapat menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Beberapa penelitian (seperti yang dilakukan Fisher, et al..., 1980, dalam Killen, 1998) menunjukkan bahwa teknik pembelajaran yang memungkinkan siswa mengalami aktivitas kelas yang tinggi menghasilkan keberhasilan kategori sedang dan tinggi (seperti pemecahan masalah) dalam test berikutnya dibanding dengan pembelajaran dengan aktivitas yang rendah.

5. Pencapaian Kesuksesan Siswa yang Tinggi (Student Success Rates).

Pembelajaran yang sukses menghasilkan prestasi siswa, adalah hal yang penting karena bisa menjadi kekuatan pendorong (Ausubel, 1968) dan dapat mendorong kearah kekaguman diri yang tinggi dan sikap pada sekolah yang positif (Bennett, Desforges, Cockbum& Wilkinson, 1981; Wyne& Stuck, 1982, dalam Killen, 1998). Seperti halnya penguasaan isi pelajaran, laju pencapaian hasil belajar darii yang sedang ke tinggi berdasarkan tugas-tugas belajar memungkinkan para siswa menerapkan pengetahuan yang dipelajarinya dalam aktivitas kelas, seperti menjawab pertanyaan dan memecahkan permasalahan. Dalam hal ini, kesuksesan mendorong keterlibatan lebih lanjut dalam belajar.

Mutu pembelajaran sering tertuju pada mutu lulusan, tetapi merupakan kemustahilan sekolah menghasilkan lulusan yang bermutu, kalau tidak melalui proses pembelajaran yang bermutu pula. Lebih lanjut juga merupakan kemus-tahilan, terjadi proses pembelajaran yang bermutu kalau tidak didukung oleh personalia (pimpinan/manajer, adminitrastor, dan guru) yang bermutu (profesional), sarana-prasarana pendidikan, fasilitas, media, dan sumber belajar yang memadai (baik kualitan maupun kuantitasnya), biaya yang mencukupi, manejemen yang tepat serta lingkungan yang mendukung

D. Penutup

Kemampuan memilih model pembelajaran yang tepat bagi siswanya merupakan salah satu tugas dan tanggungjawab guru profesional. Guru profesional akan selalu tanggap terhadap tuntutan dan kebutuhan belajar siswanya. Tuntutan dan kebutuhan belajar siswa dewasa ini, minimal dapat mengembangkan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spritual.

Belajar yang memperkenalkan tiga keterampilan dasar, yakni keterampilan akademis, keterampilan fisik, dan keterampilan hidup. Hasilnya menurut beberapa penelitian demikian impresif. Siswa setelah mengikuti kegiatan model-model pembelajaran tersebut, menunjukkan motivasi belajarnya meningkat, dan keterampilan belajar pun berkembang. Memilih model yang tepat merupakan persyaratan untuk membantu siswa dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Para guru dan tenaga pengajar lain perlu menguasai macam-macam model perbelajaran, baik teoritik maupun praktek, yang meliputi aspek-aspek, konsep, prinsip, dan teknik.

Model pembelajaran berpengaruh secara langsung terhadap keberhasilan belajar siswa. Jika tenaga pengajar menggunakan model pembelajaran sebagai suatu strategi mengajar dalam pembelajaran, hendaknya memperhatikan lima aspek kunci dari pembelajaran yang efektif, yaitu: (1) kejelasan, (2) variasi, (3) orientasi tugas, (4) keterlibatan siswa dalam belajar, dan (5) pencapaian kesuksesan yang tinggi.

Demikian sekedar bahan untuk didiskusi tentang beberapa model pembelajaran yang dapat dipertimbangkan untuk digunakan pada Pendidikan Islam yang dapat mengembangkan kecerdesan peserta belajar. Dengan catatan tidak ada model pembelajaran yang terbaik untuk dilaksanakan, namun yang ada adalah pilihlah model pembelajaran yang paling tepat dengan tujuan dan karakteristik materi yang akan disampaikan serta karakteristik tuntutan peserta belajar yang menjadi subjek pembelajaran.





sumber : http://hidayah-ilayya.blogspot.com/2009/10/pengembangan-model-model-pembelajaran.html