Selasa, 27 Mei 2014

PENELITIAN KESADARAN BERAGAMA ANAK JALANAN

Kesadaran Beragama Anak Jalanan di Kota Serang
Laporan Hasil Studi Kasus
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
“Psikologi Agama”










OLEH :
IFRI AFIYANI (112111256)
IBNU GOFUR (112111271)
YAYAH UNAYAH (112111279)

KELOMPOK 9

PAI.E / VI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI “SMH” BANTEN
SERANG-BANTEN
2014




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu kelebihan yang ada didalam diri setiap manusia sebagai makhluk Allah SWT adalah dianugrahi fitrah (potensi), untuk mengenal dan mengabdikan dirinya dengan cara melaksanakan ajaran-ajaranNya. Fitrah keagamaan ini merupakan potensi (kemampuan dasar) yang mengandung kemungkinan untuk berkembang. Proses pembinaan dan pendidikan dari orang tua dan gurulah yang mempengaruhi anak tersebut dalam mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya. Maka dari itu peran orang tua dan guru sangat berpengaruh terutama dalam membimbing keagamaan.
Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Ar-Rum : 30 yang berbunyi

Artinya: maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas fitrah Allah) yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Q.S. Ar-Rum :30)
Fitrah Allah maksudnya adalah ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu Agama Tauhid, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.
Ada dua faktor yang mempengaruhi sikap keberagamaan pada diri seseorang, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor-faktor intern yang mempengaruhi tersebut antara lain ialah faktor Hereditas, tingkat usia, kepribadian dan kondisi jiwa seseorang yang turut serta mempengaruhi dan membentuk sikap dan prilaku seseorang.
Masalah sikap dan tingkah laku merupakan masalah yang penting yang didalamnya akan mencerminkan sikap dari tingkah laku yang mencerminkan seseorang beragama. Karena masalah ini penting dalam kehidupan masyarakat, terutama lagi dalam kehidupan anak yang berada di jalanan. Karena biasanya mereka kurang control bahkan tidak ada control dari orang tua mereka yang mengakibatkan mereka bertingkah laku yang tidak sesuai dengan norma masyarakat dan ajaran agama Islam.
Oleh karena itu, pendidikan agama harus sudah diajarkan oleh Orang tua kepada seorang anak sejak dini. Karena keluarga merupakan tempat pertama kali seorang anak mendapatkan pendidikan dasar, sedangkan sekolah adalah pelanjut dari pendidikan yang telah ditanamkan dikeluarga. Pendidikan agama yang didapat dari seorang anak dari orang tua maupun guru, mempengaruhi sikap seorang anak tersebut.
Terkait dengan masalah diatas, kami akan mengangkat masalah kesadaran beragama anak jalanan, kehidupan anak jalanan berbeda dengan kehidupan anak-anak yang hidup dikalangan menengah yang hanya sekolah dan bermain serta berbeda juga dengan anak-anak kalangan atas. Anak jalanan sibuk membantu orang tuanya untuk mencari nafkah dan mereka juga harus bekerja keras dalam menjalankan kelangsungan hidupnya. Disamping itu selain sebagai anak jalanan ada juga yang berperan sebagai pelajar.
B. Perumusan Masalah
1. Bagaimana hubungan antara pendidikan agama dengan kesadaran dan sikap beragama anak jalanan?
2. Apa faktor yang mempengaruhi kesadaran keagamaan?
3. Bagaimana cara menumbuhkan kesadaran beragama anak jalanan?
C. Tujuan Penelitian
Bertitik tolak pada perumusan masalah diatas, maka tinjauan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pendidikan agama dengan kesadaran dan sikap beragama anak jalanan.
2. Untuk mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi.
3. Untuk mengetahui cara menumbuhkan sikap beragama anak jalanan.

D. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban yang masih bersifat sementara. Dari hasil pengamatan kami dari sumber-sumber yang ada, seperti buku, berita, Koran, serta buku teks lain, kami dapat menarik kesimpulan bahwa anak jalanan yang hidup di jalanan kurang adanya pengawasan dari kedua orang tuanya Karena mereka lebih sering menghabiskan waktunya dijalanan dari pada di rumah berkumpul dengan keluarganya.
E. Langkah-langah Penelitian
dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskritif kualitatif dengan langkah-langkah penelitian sebagai berikut:
1. Menentukan lokasi penelitian
a. Tempat
b. Waktu
2. Teknik pengumpulan data
a. Observasi adalah cara pengumpulan data berdasarkan pengamatan yang menggunakan mata atau telinga secara langsung tanpa melalui alat bantu yang standar.
b. Wawancara adalah teknik dalam upaya penghimpun data yang akurat untuk keperluan melaksanakan proses pemecahan masalah tertentu, yang sesuai data. Data yang diperoleh dengan teknik ini adalah dengan cara tanya jawab secara lisan dan bertatap muka langsung dengan seorang yang diwawancarai.
c. Studi Dokumentasi adalah studi yng dilakukan peneliti untuk mencari informasi teoritis sebagai landasan berfikir, yang berkaitan dengan masalah penelitian dengan cara mengkaji dan mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan sikap beragama seorang anak.
F. Sistematika Penulisan
Untuk memperoleh gambaran yang lebih konkrit dari penelitian ini, maka sistematika pembahasan disusun sebagai berikut :
Bab 1 pendahuluan dengan pembahasan Latar Belakang Msalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Hipoteis, Langkah-langkah Penelitian, Sistematika Pembahasan.
Bab II Tinjauan Teoritik Tentang sikap Beragama Anak dan Pembinaan Keagamaan dengan pembahasan Pengertian Agama menurut pendapat para ahli, Pengertian kesadaran beragama, teori sumber kejiwaan agama manusia, faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Bab III Objek dan Metodologi Penelitian
Bab IV Deskripsi Hasil penelitian
Bab V Penutup dengan pembahasan kesimpulan dan saran-saran








BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Agama Menurut Para Ahli Psikologi
Perhatian secara psikologi terhadap agama sudah setua umat manusia. Sejak tumbuhnya kesadaran manusia, orang telah merenungkan tentang arti hidup dan keberadaan di dunia, mengapa manusia berprilaku seperti itu, dan bagaimana arti hidup dan perilaku itu berhubungan dengan dunia yang ilahi, para dewa-dewi. Tetapi baru dalam tahun-tahun terakhir ini, perhatian itu dilakukan secara ilmiah yaitu lewat psikologi agama. Psikologi agama, sebagai cabang ilmu psikologi, merupakan produk dunia barat. Psikologi agama lahir sebagai hasil perembangan ilmu-ilmu sosial pada umumnya, psikologi pada khususnya, pada abad ke-19 yang lampau dan abad ke-20 ini.
Ahli psikologi seperti William James mengerti bahwa agama sebagai “perasaan, tindakan dan pengalaman manusia masing-masing dalam keheningannya”. Cicero secara sederhana mendefinisikan agama sebagai “the pios worship of god” (beribadah dengan bertawakal kepada Tuhan). Formulasi yang lebih komplek dikemukaan oleh Frederich Schleir Macher (seorang filusuf abad 18), mendefinisikan agama adalah “feeling of total dependence” (perasaan tergantung/pasrah secara keseluruhan). Teolog abad 20, Paul Tillich, mengemukakan bahwa agama adalah “that wich involves man’s ultimate concern” (apa yang melibatkan tujuan akhir manusia).
Harun Nasutin mengatakan bahwa definisi agama adalah sebagai berikut:
1) Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekatan ghaib yang harus dipatuhi;
2) Pengakuan terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia;
3) Meningkatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia;
4) Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Rasul.
B. Pengertian Anak Jalanan
Anak jalanan adalah anak yang belum dewasa (secara fisik dan psikis) dan sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran dijalanan atau tempat-tempat umum lainnya. Umumnya anak jalanan berasal dari keluarga yang pekerjaannya berat dan ekonominya lemah. Anak jalanan tumbuh dan berkembang dengan latar belakang kehidupan dan akrab dengan kemiskinan, penganiyayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memiliki prilaku yang negatif. Dan devinisi diatas penulis dapat menyimpulkan bahwasannya faktor penting yang sering terkait dengan anak jalanan yaitu :
- Anak-anak
- Menghabiskan sebagian waktunya
- Mencari nafkah atau berkeliaran
- Jalanan dan tempat-tempat umum lainnya
Faktor-faktor tersebut memperlihatkan terganggunya keberfungsiaan sosial (social functioning) anak. Konsep social functioning mengacu kepada situsi dan relasi anak-anak yang melahirkan berbagai tugas atau peran. Seorang anak setidak-tidaknya berada pada situasi rumah, sekolah, lingkungan bermain yang didalamnya berelasi dengan orang-orang dalam situasi tersebut dan mempunyi peranan tertentu seperti belajar, mematuhi orang tua, bermain dan lain-lain. Keadaan mencari nafkah atau berkeliaran dijalanan dengan menghabiskan sebagian waktunya yang cukup banyak jelas menyimpang dengan social functional anak.
a. Karakteristik Anak Jalanan
Beberapa ciri-ciri anak jalanan dituangkan dalam matrik berikut :
Tabel : ciri-ciri dan psikis anak jalanan
Ciri-ciri fisik Ciri-ciri Psikis
Warna kulit kusam
Rambut kemerah-merahan
Banyak berbadan kurus
Pakaian tidak terurus Mobilitas tinggi
Acuh tak acuh
Penuh curiga
Sangat sensitive
Berwatak keras
Kreatif
Semangat tinggi
Berani menanggung resiko
mandiri

Ciri-ciri umum lainnya :
- Usia berkisar 6-18 tahun
- Intensitas hubungan dengan keluarga (masih berhubungan teratur setiap harinya, dan hubungan dengan keluarga kurang misalnya seminggu sekali, dan sama sekali tidak ada komunikasi dengan keluarga
- Waktu yang dihabiskan dijalanan rata-rata lebih dari 4 jam sehari
- Tempat anak jalanan sering dijumpai dipasar, terminal bus, stasiun kereta api, taman-taman kota (tempat keramaian), perempatan jalan raya, pusat perbelanjaan, kendaraan umum dan pembuangan sampah.
- Aktifitas anak jalanan diantaranya : menyemir sepatu, pedagang asongan, pemulung, pengamen, ojek paying, pengelap mobil, kuli, pengemis, pekerja seks, joki three in one dan sebagainya.
b. Masalah-masalah yang dihadapi Anak jalanan
Keberadaan anak jalanan sering dianggap mengganggu keamanan serta keresahan masyarakat. Penilaian seperti ini ada benarnya, karena secara rasional dapat dimengerti bahwa anak yang hidup di jalanan cenderung hidupnya tidak teratur dan karena kerasnya kehidupan mereka, maka anak akan lebih mudah untuk berbuat sesuatu yang mengganggu ketertiban dan kemanan. Misalnya berkelahi dan mencuri, dan sebagainya.

C. Kesadaran beragama
Arti sadar dalam kamus ilmiah adalah ingat akan dirinya; merasa dan insyaf akan dirinya, siuman, depan, permulaan. Berarti kesadaran ialah ingat akan dirinya untuk melakukan sesuatu berdasarkan dorongan yang ada dari dalam jiwa.
Menurut Zakiah Darajat kesadaran beragama ialah aspek mental dari aktifitas agama. Aspek ini merupakan bagian atau segi agama yang hadir (terasa dalam pikiran dan dapat diuji melalui intropeksi). Dengan adanya kesadaran agam dalam diri seseorang yang kan ditunjukan melalui aktivitas keagamaan, maka munculah pengalaman beragama. Adapun yang dimaksud dengan pengalaman beragama ialah unsure perasaan dalam kesadaran agama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan dealam tindakan (amaliah) nyata.
Beranjak dari kenyataan yang ada, maka sikap keagamaan terbentuk oleh dua faktor , yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Memang dalam kajian psikologi agama, beberapa pendapat menyetujui akan adanya potensi agama pada diri manusia. Manusia adalah homo religious (mahluk beragama). Namun untuk menjadikan manusia memiliki sikap keagamaan, maka potensi tersebut memerlukan bimbingan dan pengembangan dari lingkungannya. Lingkungannya pula yang mengenalkan seseorang akan nilai-nilai dan norma-norma agama yang harus dituruti dan dilakonkan.
Jiwa keagamaan memang bukan secara langsung sebagai faktor bawaan yang diwariskan secara turun-temurun, melainkan terbentuk dari berbagai unsur kejiwaan lainnya yang mencakup kognitif, afektif, dan konatif.
D. Teori sumber kejiwaan Agama pada manusia
Sesungguhnya yang menjadi keinginan manusia dan kebutuhan manusia itu bukan hanya sebatas pada makan, minum, pakaian ataupun kenikmatan-kenikmatan lainnya. Pada dasarnya pada diri manusia terdapat semacam keinginan dan kebutuhan universal. Kelebihan ini melebihi kebutuhan-kebutuhan lainnya, bahkan melebihi kebutuhan akan rasa kekuasaan. Keinginan akan kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan kodrati, berupa keinginan untuk mencintai dan dicintai Tuhan.
Dapat ditarik kesimpulan bahwasanya manusia ingin mengabdikan dirinya kepada Tuhan atau sesuatu yang dianggapnya sebagai zat yang mempunyai kekuasaan tertinggi. Keinginan itu terdapat pada setiap kelompok, golongan, atau masyarakat manusia baik yang paling primitive hingga yang paling modern.
Karena adanya rasa keinginan untuk mengabdikan diri kepada Tuhan atau dengan kata lain “apakah yang menjadi sumber kejiwaan agama itu?” untuk menjawab itu timbulah beberapa teori antara lain
1. Teori monistik (mono=satu)
Teori monistik berpendapat, bahwa yang menjadi sumber kejiwa agamaan itu adalah satu sumber keagamaan. Adapun tokoh teori monistik adalah Thomas Van Aquino, Fredrick Hegel, Fredrick Schleimacher, Rudolf Otto, Sigmund Freud, William Mac Dougall.
2. Teori Fakulty (Faculty Teority)
Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu tidak bersumber pada faktor tunggal tetapi terdiri atas beberapa unsur, antara lain yang memegang peranan penting adalah: fungsi cipta, rasa dan karsa.
3. Teori Fitrah
Fitrah berarti mengakui ke-Esaan Allah (tauhid Allah). Manusia lahir dengan membawa potensi tauhid, atau paling tidak ia berkecenderungan untuk mengesakan Tuhan dan berusaha secara terus menerus mencari dan mencapai ketauhidan tersebut.
Beberapa makna fitrah yang dikemukakan oleh para ulama’ yaitu:
a. Fitrah berarti suci. Menurut al-Auza’I, fitrah berarti kesucian dalam jasmani dan rohani. Bila dikaitkan dengan potensi beragama, kesucian tersebut dalam arti kesucian manusia dari dosa waris dan dosa asal, sebagaimana pendapat Ismail Raji Al-Faruqi yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan suci, bersih, dapat menyusun drama kehidupannya, tidak peduli dengan lingkungan keluarga, masyarakat macam apapun tempat ia dilahirkan.
b. Fitrah berarti Islam. Abu Hurairah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah agama. Pendapat ini berdasarkan hadits Nabi: “Bukankah aku telah menceritakan kepadamu ada sesuatu yang Allah telah menceritakan kepadaku dalam kitab-Nya bahwa Allah menciptakan Adam dan anak cucunya berpotensi menjadi orang-orang muslim”. Berangkat dari pemahaman hadits tersebut, maka nak kecil yang meninggal dunia ia akan masuk surga. Karena ia dilahirkaan dengan din al-Islam, walaupun ia terlahir dari keluarga non muslim.
c. Fitrah berarti kondisi penciptaan manusia yang cenderung menerima kebenaran.
d. Fitrah dalam arti potensi dasar manusia sebagai alat untuk mengabdi dan ma’rifatullah.
E. Faktor yang mempengaruhi sikap beragama
Dalam Islam dijelaskan bahwa manusia mempunyai kesempatan untuk taat dan bertakwa kepada Allah SWT. (memiliki sikap beragama) sebagaiamana firman Allah dalam surat Asy-Syam 7-8:
       
` Artinya: “Dan jiwa serta penyembpurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengalihkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan”
Dengan kemampuan mengenal Tuhan, manusia (remaja) dapat memenuhi kebutuhan kebebasan, kebutuhan akan kasih sayang, rasa aman dan sebagainya, yang dapat diungkapkan lewat do’a dan permohonan. Namun demikian, tidak semua remaja mempunyai kesempatan yang sama untuk mengenal agama. Hal ini disebabkan karena orang tua bersikap acuh tak acuh terhadap agama. Apalagi ditambah dengan lingkungan yang jauh dari nilai-nilai agama. Tapi ada remaja yang dapat kesempatan untuk mengenal agama, sejak kecil ia dilatih untuk menjalankan ajaran agama, orang tuanya pun taat beribadah dan memberi contoh yang baik, disamping itu lingkungan masyarakat sekitarnya diwarnai nilai-nilai agama.
Agama menyangkut kehidupan batin manusia, oleh karena itu kesadaran agama dan pengalaman seseorang lebih menggambarkan sisi-sisi batin dalam kehidupan yang ada kaitannya dengan sesuatu yang sakral dan dunia ghaib. Dari kesadaran agama dan pengalaman agama ini pula demikian munculnya sikap keberagamaan yang ditampilkan seseorang.
Oleh karena itu, jelaslah bahwa terbentuknya sikap keberagamaan remaja pada diri seseorang (remaja) dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu faktor intern dan ekstern. Selanjutnya mengenai kedua faktor tersebut penulis akan menjelaskan sebagai berikut :
a. Faktor intern
Yang dimaksud faktor intern adalah faktor yang terdapat pada diri individu itu sendiri, yaitu :
1) Hereditas
Jiwa keagamaan memang bukan secara langsung sebgai faktor bawaan diwariskan secara turun temurun, malinkan terbentuk dari berbagai unsur lainnya mencakup kognitif, afektif dan psikomotorik/konatif. Menurut Sigmun Freud perbuatan yang buruk dan tercela jika dilakukan akan menimbulkan rasa bersalah (sense of guilt) dalam diri seseorang. Bila pelanggaran yang dilakukan terhadap larangan agama, maka dalam diri pelakunya akan timbul rasa berdosa, dan perasaan seperti ini barangkali yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan seseorang sebagai unsur hereditas, sebab dari berbagai kasus pelaku zina sebagian besar memiliki lartar belakang keturunan dengan kasus yang sama.
2) Tingkat usia
Meskipun tingkat usia bukan merupakan satu-satunya faktor perkembangan jiwa keagamaan seseorang, tetapi kenyataan ini dapat dilihat dari perbedaan pemahaman agama dari tingkat usia yang berbeda.
3) Kepribadian
Kepribadian menurut pandangan psikologi terdiri dari dua unsur, yaitu unsur hereditas dan pengaruh lingkungan. Hubungan antara unsur hereditas dengan pengaruh lingkungan inilah yang membentuk kepribadian dan setiap manusia memiliki kepribadian yang unik dan berbeda-beda, sehingga perbedaan tersebut membawa pengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan seseorang.
4) Kondisi jiwa seseorang
Bagaimanapun juga kondisi jiwa seseorang akan berpengaruh pada pandangan tentang agama, seseorang yang mengidap phobia akan dicekam rasa takut yang irrasional sehingga pandangannya terhadap agama akan dipengaruhi oleh hal yang demikian juga. Sedangkan seseorang yang normal akan memandang agama secara sadar dan dapat berpikir sehat.
b. Faktor ekstern, yaitu lingkungan yang dinilai berpengaruh dalam perkembangan jiwa seseorang, karena lingkungan merupakan tempat dimana seseorang itu hidup dan berinteraksi, lingkungan disini dibagi menjadi tiga yaitu keluarga, intuisi dan masyarakat.
1) Lingkungan keluarga
Keluarga adalah wadah pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Jika suasana dalam keluarga itu baik dan menyenangkan, maka akan tumbuh baik pula, begitupun sebaliknya.
Dalam bukunya Abdul Rachman Shaleh, ada tiga macam lingkungan keluarga yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan keagamaan seseorang yaitu:
a) Keluarga yang sadar akan pentingnya pendidikan agama bagi perkembangan anak, orang tua dari lingkungan keluarga yang demikian akan selalu mendorong anaknya untuk kemajuan pendidikan agama serta bersama-sama mengajak anak untuk menjalankan perintah agama dan menjauhi larangannya. Dalam hal ini orang tua dapat mendatangkan guru ngaji atau privat agama serta menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah madrasah dan mengikuti kursus-kursus keagamaan.
b) Keluarga yang acuh tak acuh terhadap pendidikan anak. Orang tua dari keluarga seperti ini tidak mendorong ataupun melarang terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan dan bersikap acuh terhadap sikap keagamaan anak-anak mereka.
c) Keluarga yang antipasti terhadap dampak dari keberadaan pendidikan agama di sekolah atau dari masyarakat sekitarnya. Orang tua dari keluarga seperti ini akan menghalangi dan menyikapinya dengan kebencian terhadap kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh anak mereka.
Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, tujuan terpenting dari pembentukan keluarga ialah sebagai berikut:
 Mendirikan syariat Allah dalam segala permasalan rumah tangga
 Mewujudkan ketentraman dan ketenanngan psikologis
 Mewujudkan Sunnah Rasulullah
 Memenuhi kebutuhan cinta-kasih anak
 Menjaga fitrah anak agar anak tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan.
Jadi keluarga adalah orang yang pertama bertanggung jawab terhadap perkembangan atau pendidikan anak yang sedang tumbuh. Hal tersebut sebagaimana yang telah ditulis dalam Al-Qur’an surat At Tahrim ayat 6, yaitu : hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
Jika para pendidik (orang tua) tidak bertanggung jawab atas perkembangan serta amanah dalam menjaga anak-anaknya, dan jeleknya pendidikan mereka dalam keluarga akan membawa atau sebab bagi seorang anak untuk melakukan penyimpangan. Diantara faktor-faktor dasar penyimpangan anak diantaranya sebagai berikut:
 Kefakiran yang menaungi sebagian rumah
 Perselisihan dan konflik antara ibu-bapak
 Perceraian dan implikasi kemiskinan
 Memanfaatkan waktu luang anak dan remaja
 Buruknya perlakuan orang tua terhadap anak
 Kelalaian orang tua terhadap pendidikan anak
2) Lingkungan Institusional
Lingkungan institusional yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan dapat berupa intitusi formal seperti sekolah maupun non formal seperti perkumpulan atau organisasi. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang melaksanakan pembinaan pendidikan dan pengajaran dengan sengajar, teratur dan terrencana. Dalam hubungan ini Zakiah Daradjat mengatakan, bahwasanya:
Lembaga pendidikan yang melaksanakan pembinaan pendidikan dan pengajaran dengan sengaja, teratur dan terencana adalah sekolah. Guru-guru yang melaksanakan tugas pembinaan, pendidikan dan pengajaran tersebut adalah orang-orang yang telah dibekali dengan pengetahuan tentang anak didik, dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas pendidikan. Guru masuk kedalam kelas, membawa seluruh unsur kepribadiannya, agamanya, akhlaknya, pemikirannya, sikap dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Penampilan guru, pakaiannya, cara berbicara, bergaul dan memperlakukan anak bahkan emosi dan keadaan jiwa yang dialaminya, ideology dan paham yang dianutnya terbawa tana sengaja ketika ia berhadapan dengan anak didiknya. Seluruhnya akan terserap oleh si anak tanpa di sadari oleh guru dan orang tua, bahkan anak sampai kagum dan sayang kepada gurunya.
3) Lingkungan Masyarakat
Dalam kehidupan, manusia tidak akan pernah terlepas dari orang lain, karena manusia adalah makhluk sosial yang didalamnya saling membutuhkan satu sama lain. Untuk itu, lingkunngan masyarakat merupakan salah satu faktor yang juga ikut mempengaruhi perkembangan sikap dan prilaku seseorang.
Masyarakat disini dapat diartikan sebagai komunitas yang amat heterogen dengan berbagai aspeknya. Di dalamnya terdapat kegiatan dalam bidang agama, sosial, ekonomi, politik, seni budaya, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Semuanya merupakan lingkungan yang dapat digunakan untuk kegiatan pendidikan.
Adapun lingkungan masyarakat yang dapat memberi pengaruh terhadap perkembangan sikap keagamaan anak dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu:
a) Lingkungan yang acuh tak acuh terhadap agama.
Lingkungan yang seperti ini biasanya tidak peduli terhadap segala aspek kegiatan yang bersifat keagamaan bagi masyarakatnya. Masyarakat seperti ini menganggap bahwasanya urusan agama merupakan tanggung jawab pribadi masing-masing.
b) Lingkungan yang berpegang teguh pada tradisi agama, tetapi tanpa dorongan batin.
Biasanya lingkungan seperti ini menghasilkan anak-anak beragama tanpa kritik, atau beragama secara kebetulan.
c) Lingkungan yang mempunyai tradisi agama dengan sadar dan hidup dalam lingkungan agama.
Suatu kehidupan masyarakat pada dasarnya dibatasi oleh berbagai norma dan nilai-nilai yang didukung oleh warganya. Oleh karena itu, setiap warga berusaha untuk menyesuaikan sikap dan tingkah lakunya sesuai dengan norma dan nilai yang ada dan tolong menolong dalam hal kebajikan. Seperti dalam firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah:2, yang artinya :”dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong menolong dalam hal berbuat dosa dan pelanggaran dan bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhanya Allah amat berat siksa-Nya”.
Walaupun kecenderungan beragama merupakan fitrah bagi setiap manusia, akan tetapi dalam pembentukan dan perubahannya ditentukan oleh faktor intern dan ekstern individu dan keduanya mempunyai kaitan satu sama lain dalam arti saling mempengaruhi.


BAB III
OBJEK DAN METODOLOGI PENELITIAN

A. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian yang kami lakukan disekitar masjid agung kota serang, alasan kami melakukan penelitian di daerah ini adalah karena masjid agung merupakan salah satu tempat Ibadah yang banyak dikunjungi masyarakat kota Serang, tempatnya yang strategis membuat anak-anak jalanan untuk mencari rezeki di sekitar masjid agung tersebut. Banyak anak-anak yang tinggal disekitar masjid agung bekerja sebagai tukang parkir, meminta-minta, pemulung bahkan menyemir sepatu. Kami mengambil contoh untuk penelitian ini yaitu anak yang bekerja sebagai semir sepatu. Adapun waktu penelitian dilakukan pada hari kamis tanggal 10 bulan April tahun 2014, sekitar pukul 14.00 WIB.
B. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data yaitu:
1. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah suatu metode pengumpulan data dengan mempergunakan dokumen baik tertulis maupun tidak tertulis. Dokumen ini dapat dipakai sumber utama (primer). Artinya data yang diperoleh dari sumber utama. Yaitu secara langsung mewawancarai orang yang bersangkutan yang akan kami jadikan sebagai bahan penelitian studi kasus.
2. Observasi
Observasi adalah suatu cara atau pengamatan secara mendalam terhadap obyek penelitian dan mencatat hal-hal yang dianggap penting dalam melaksanakan penyelidikan untuk memperoleh data dengan jalan pengamatan secara sistematis, penuh kesadaran, perhatian dan tekun terhadap gejala-gejala yang timbul dari objek yang diteliti. Metode ini digunakan untuk mempelajari tingkah laku atau aktivitas keagamaan.
Pada umumnya observasi adalah tindakan yang merupakan penafsiran dari teori, seperti yang dikemukakan oleh Karl Popper (Hopkins, 1993:77).
3. Wawancara
Menurut Denzin dalam Goetz dan LeCompte (1984) wawancara merupakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara verbal kepada orang-orang yang dianggap dapat memberikan informasi atau penjelasan hal-hal yang dipandang perlu.
Ada beberapa bentuk wawancara, antara lain wawancara terstruktur, wawancara setengah struktur, dan wawancara tidak terstruktur. Yang disebut wawancara terstruktur ialah apabila sebagai pewawancara sudah mempersiapkan bahan wawancara terlebih dahulu. Sedangkan dalam wawancara yang tidak terstruktur, prakarsa untuk memilih topik bahasan diambil oleh orang yang diwawancarai. Apabila wawancara sudah berlangsung, dapat mengarahkan agar yang diinterview menerangkan, mengelaborasi, atau mengklarifikasi jawaban yang kurang jelas. Wawancara yang semi terstruktur adalah bentuk wawancara yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu, akan tetapi memberikan keleluasaan untuk menerangkan agak panjang mungkin tidak langsung ke fokus pertanyaan/bahasan atau mungkin mengajukan topik bahasan sendiri selama wawancara berlangsung (Elliot,1991:80).
Kami mewawancarai narasumber dengan mempersiapkan terlebih dahulu bahan pertanyaan yang akan kami tanyakan kepada sumber tersebut, setelah itu kami tidak langsung menanyakan ke topic inti pembahasan, awalnya perkenalan terlebih dahulu, kemudian menanyakan latar belakang anak tersebut setelah itu baru menanyakan tentang topik dari pembahasan yang akan kami teliti.










BAB IV
DESKRIPSI HASIL PENELITIAN
A. BIOGRAFI
Penelitian yang kami lakukan dalam pembahasan ini adalah anak jalanan, yang dikatakan anak jalanan yaitu pengamen, pengemis, pedagang asongan, semir sepatu dan lain-lain. Dalam pembahasan ini, kami mengambil objek yaitu seorang anak yang menyemir sepatu.
Nama : Sukma Kurniawan
Tempat, tanggal lahir : Serang, 17 Desember 1998
Anak ke : Satu (pertama) dari 4 bersaudara
Status : Pelajar dan Penyemir sepatu
Kelas : VIII
Sekolah : SMPN 4 Kota Serang
Alamat :Link. Kantin Rt 02/04 kelurahan cimuncang, Serang
Nama Ibu : Kurniasih
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Nama Ayah : Sukardi
Pekerjaan : Supir pribadi dan Tukang Ojeg





B. DESKRIPSI
Berdasarkan wawancara yang telah kami lakukan kepada narasumber yang bernama Sukma Kuriniawan (SK), dia merupakan salah satu anak jalanan yang bekerja sebagai semir sepatu di sekitar masjid agung. Pria kelahiran serang, 17 Desember 1998 ini selain berperan sebagai penyemir sepatu, dia juga berperan sebagai seorang siswa di sekolah SMP Negeri 4 kota Serang didaerah sekitar rumahnya. Dia yang kini berusia 16 tahun duduk di bangku kelas 2, setelah lulus sekolah dasar pernah berhenti sekolah selama 2 tahun karena keterbatasan biaya. Ibunya bernama Kurniasih, dia hanya ibu rumah tangga yang menyiapkan segala kebutuhan keluarga, Bapaknya bernama Sukardi bekerja sebagai supir pribadi, selain sebagai supir pribadi beliau juga bekerja sebagai tukang ojeg. Sepulang dari bekerja sebagai supir pribadi, malam harinya beliau bekerja juga sebagai tukang ojeg sekitar pukul 11.00 WIB sampai jam 1 malam.
Sukma menjadi penyemir sepatu sejak usianya 5 tahun, dia malakukan pekerjaan itu bukan karena disuruh oleh orang tuanya tetapi karena kemauannya sendiri, dan juga mengikuti teman sebayanya. kesehariannya dia berangkat sekolah pada pukul 07.00 WIB dan pulang sekolah sekitar pukul 12.00 WIB. Setelah pulang sekolah dia berganti peran menjadi tukang semir sepatu. Dia menjadi penyemir sepatu dari sepulang sekolah hingga ba’da isya. Penghasilan dia mencapai Rp.15.000 sampai Rp. 20.000 ribu perhari, uang yang dia dapat setengahnya dia berikan untuk ibunya dan setengahnya lagi dia tabung untuk keperluan sekolah, misalnya buku atau kadang dia gunakan untuk jajan disekolah. Ketika libur sekolah tiba terkadang dia membantu ibunya membereskan rumah dan juga memasak didapur, walaupun dia laki-laki tapi dia menyadari bahwa adik-adiknya masih kecil dan tidak ada yang bisa membantu ibunya kecuali dia. “kasian ibu sendirian beres-beres rumah” katanya. Sukma adalah anak pertama dari empat bersaudara, dia memiliki adik yang masih kelas 3 SD dan yang dua lagi belum sekolah.
Setelah lama berbincang tentang latar belakangnya, kemudian kami menanyakan masalah tentang kesadaran beragamanya. Ternyata dengan kesibukannya sebagai pelajar dan penyemir sepatu, dia rajin melaksanakan kewajibannya sebagai umat Islam, yaitu Shalat. Dia tidak pernah ketinggalan shalat dzuhur, ashar, maghrib dan isya. Dengan wajah yang malu-malu dia berkata bahwa dia sering ketinggalan shalat shubuh, “saya jarang shalat shubuh karena bangunnya kesiangan kak”. Tetapi dia rajin mengaji, dia mengaji setelah selesai shalat. Ketika hari-hari besar Islam pun dia selalu ikut berpartisipasi mengikuti seperti mendengarkan ceramah, mengikuti acara maulud Nabi, dan lain sebagainya. Ketika bulan Ramadhan pun dia selalu berpuasa penuh.
Pada saat itu dibenak kami masih mengganjal pertanyaan, ketika dia bangun kesiangan dan tidak shalat shubuh mengapa orang tuanya tidak menyuruh dan membangunkan anaknya ketika adzan subuh berkumandang?. Dan ternyata dia mengaku bahwa orang tuanya tidak pernah menyuruh dia untuk mengerjakan shalat. Bisa dibilang kedua orang tuanya tidak terlalu memperhatikan tentang keberagamaan anaknya. Dia membiasakan dirinya untuk shalat karena kesadaran dirinya sendiri bukan karena di suruh oleh orang tuanya, awalnya dia terpengaruh orang lingkungan yang selalu membuat dia rajin beribadah serta berpuasa misalnya dari teman sebayanya dan dari lingkungan dimana tempat dia bekerja yaitu di masjid agung. Ilmu tentang pendidikan agamanya dia dapatkan dari mendengarkan ceramah, dari teman sebayanya serta dari guru di sekolahnya.
C. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Dari hasil penelitian kami, bahwa tidak semua anak jalanan yang menghabiskan waktunya di jalanan atau di luar rumah akan melupakan perannya sebagai seorang manusia yang beragama (menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya). Anak jalanan di identikan dengan seorang anak yang selalu melakukan hal-hal yang negatif. Tetapi penelitian yang kami lakukan membuktikan bahwa anak jalanan bukan hanya mencari uang dan melakukan hal-hal yang negatif. Sumber yang kami dapat, dia memiliki kesadaran beragama yang mungkin jarang dilakukan oleh anak jalanan lainnya.
Kesadaran dan pengalaman seorang anak sangat mempengaruhi anak tersebut dalam bersikap dan bertingkah laku.. Orang yang sudah tertanam pendidikan agama akan menjadi anak yang baik dan selalu bersikap positif, selalu semangat menjalani hari-harinya, tenang hatinya dan merasa tentram, tidak ada kegelisahan dan keresahan dalam hidupnya.
Faktor yang sangat mempengaruhi kesadaran beragama adalah faktor lingkungan, kebudayaan, pendidikan, kebiasaan dan agama. Penelitian yang kami dapatkan, keluarga dari sukma merupakan jenis lingkungan keluarga yang orang tuanya acuh tak acuh terhadap pendidikan agama anak, tidak mendorong ataupun melarang terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan dan bersikap acuh terhadap sikap keagamaan anak-anak mereka. Padahal keluarga merupakan faktor terpenting dalam pembinaan sikap keagamaan seorang anak. Tetapi sukma rajin shalat dan mengaji bukan karena faktor lingkungan keluarga, malainkan karena lingkungan sekolah yang membekalinya pendidikan agama yang kemudian timbullah kesadaran dirinya untuk mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, selain itu faktor dari lingkungan masyarakat dan kebiasaan-kebiasaan menjalankan shalat berjama’ah dengan teman-temannya, karena kebiasaan dan bertambahnya usia maka bertambah pula kesadaran dirinya dalam beribadah, dan juga sering mendengarkan ceramah dan mengikuti organisasi agama di sekolah.





BAB V
KESIMPULAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat di simpulkan bahwa pendidikan agama yang tertanam dalam diri seorang anak sangat memperngaruhi sikap dan kesadaran agama anak jalanan tersebut. Semakin memiliki bekal pendidikan agama, dia akan semakin melakukan hal-hal yang positif dalm kehidupan sehari-harinya, kemudian hatinya akan terasa tenang, tentram serta tidak ada kegelisahan ataupun kecemasan yang ada didalam dirinya.
Faktor yang mempengaruhi kesadaran beragama anak jalanan yaitu faktor lingkungan, kebiasaan, pendidikan, agama, serta kebudayaan. Walaupun faktor lingkungan keluarga sangat besar pengaruhnya tapi dalam penelitian ini, yang mempengaruhi kesadaran anak jalanan tersebut adalah faktor lingkungan masyarakat, kebiasaan serta pendidikan dari seorang guru di sekolah. Pendidikan agama yang didapat sangat mempengaruhi anak jalanan dalam beribadah, menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
Cara menumbuhkan kesadaran beragama anak jalanan tersebut yaitu dengan rutin mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang ada dalam masyarakat, seperti mendengarkan ceramah-ceramah, mengikuti pengajian yang diadakan di mushola tempat tinggalnya, memperingati hari-hari besar Islam, dan juga mengikuti kegiatan rohis disekolah secara rutin. Itu semua menumbuhkan kesadaran beragama anak jalanan.
B. SARAN
Harus dilakukan kerjasama antara semua pihak (keluarga, lembaga, dan masyarakat) dalam menanamkan pendidikan agama kepada anak jalanan guna membentuk pribadi yang sadar akan beraga,,a di dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai orang tua hendaknya mengawasi dan mendidik anak-anak mereka agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas yang dapat merusak budi pekerti mereka. Mengawasi dalam bergaul (dengan siapa anak tersebut bergaul), tontonan-tontonan televise yang tidak mendidik dan lain-lain.
Sebagai pemerintah dan tokoh masyarakat, hendaknya memberantas dengan tegas hal-hal yang dapat merusak moral anak bangsa seperti perjudian, narkoba, dan lain-lain. Yang nantinya akan berdampak negatif bagi pertumbuhan anak (khususnya anak jalanan) di masa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar